Skip to main content

Mendadak Beken

 "Kamu yakin nih mau ke pesta itu? Duh, males beneeeerrrr...," Lidia menggerutu seraya tangannya mengibas-ngibaskan sepucuk kertas di tangannya. Ia mendongak dan mendapati temannya sedang tersenyum-senyum entah pada siapa. Lidia berhenti mengipaskan kertas tersebut dan menepuk lengan Intan saat itu juga. Yang ditepuk langsung buyar lamunannya dan dengan wajah bingung bertanya mengapa Lidia segalak itu padanya.



Lidia menggaruk-garuk kepalanya dan mengacungkan kertas tersebut,"Pesta pernikahan Amel sabtu nantiiiii! Kita mau ngapain datang kesanaaa?"

Intan membelalakkan matanya dan memandang Lidia seolah ada tangan ketiga dan keempat tumbuh mendadak di tubuh sahabatnya,"Loh? Kenapa tidak khan kita diundang?"

Aih, benar-benar deh cewek satu ini...keluh Lidia dalam hati. Katanya dia sekarang malas pergi ke pesta pernikahan lagi karena kesal selau ditanya kapan gilirannya. Tapi kenapa dia sekarang kok tiba-tiba semangat lagi ingin ke acara seperti itu? Pasti ada apa-apanya, dengus Lidia lalu memandangi Intant dengan curiga.

Intan tersenyum (sok) tersipu dan duduk manis seraya mengambil sepucuk kertas tersebut dari tangan Lidia.

"Kamu pasti gak inget deh cerita Amel soal suaminya...," Intan bergaya misterius yang membuat Lidia ingin menyambar gelas dan melemparkan padanya. "Astaga, jadi kamu benar-benar gak perhatian sama sekali dengan calon suami si Amel itu ya?"

Buat apa juga dipikirin? Lidia tidak habis mengerti dan ia sungguh sangat tidak suka dengan gaya bercerita Intan yang terputar kesana kemari.

"INTAAAAAANNN," suara Lidia mirip dengan kepala sekolahnya dulu jika hendak menegur murid yang bandel.


"Ah, baiklah...," desah Intan yang mulai mencium gelagat tidak beres dari sahabatnya. "Suaminya Amel itu khan kerjanya di perusahaan milik orang Korea... Jadi..."

"Kalau kamu pikir bisa bertemu dengan para pemain film Korea berarti otak kamu itu beneran tidak beres," sembur Lidia yang sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Intan. Kalau saja ia tidak ingat bahwa Intan adalah teman dekatnya selain Amelie, rasanya ia sudah ingin mencekik leher temannya saat ini.

Intan tercengang sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak yang membuat Lidia semakin kesal.

"Lidia, Lidia. Itu sih, aku sudah tauuuuu...," dan sebelum Lidia benar-benar mencekik lehernya Intan buru-buru melanjutkan. "Amel bilang, ia pernah melihat anak bos suaminya yang masih lajang dan tentunya cakep. Siapa tahu dia datang, jadi aku tidak boleh membuang kesempatan kan?"

Pfff, sama saja niatnya sudah gak bener, Lidia menggelengkan kepala. Sebenarnya ia berniat hendak pergi ke pemberkatan di gereja dan tentu saja langsung pulang. Tapi setelah dipikirnya lagi, tentunya ia tidak akan tidak enak hati dengan Amel. Lagipula, ia ingin tahu seperti apa sih standar cakepnya Intan sampai sebegitu inginnya dia kesana? Akhirnya ia pun menyetujui dan disambut dengan wajah ceria dari Intan.

**********


Amel dan suaminya terlihat berdiri di tengah-tengah ruangan. Tidak seperti pesta pernikahan yang biasa, keduanya menolak untuk menjadi patung di panggung. Mereka lebih memilih untuk beredar di antara tamu-tamu. Sementara keluarga dari kedua mempelai duduk manis di area yang telah disediakan.

Intan setengah menyeret Lidia untuk mendekati Amel yang kebetulan tengah dikerumuni oleh tamu-tamu lain. Mempelai wanita menjerit senang melihat kedua temannya dan permisi untuk segera menyambut mereka. Ketiganya berpelukan sejenak sebelum Intan yang tanpa basi basi langsung bertanya dimanakah pria yang dimaksud oleh Amel.

"Oh, itu...erhm,"Amel terlihat kikuk dan Lidia nyaris meledak tertawa ketika melihat raut wajah Intan. "Dia tidak bisa datang... Maaf ya, Intan... Aku juga baru tahu tadi dari suamiku..."

Intan terlihat sangat kecewa dan Lidia menjadi tidak enak hati. Bisa-bisa Amel mengira mereka berdua datang bukan untuknya tapi demi pria yang bahkan mereka tidak tahu namanya itu.

"Tapi, kalian masih lama khan disini?" tanya Amel dengan harap-harap cemas. "Aku khan belum melemparkan buket bunga... Aku ingin kalian yang menangkapnya nanti..."

Oh, tidak! Lidia melihat sinar lampu yang tadi tinggal lima watt mendadak menyala kembali di mata Intan. Dengan menjerit tertahan Intan berpesan agar Amel mengarahkan kemparan tersebut ke dirinya nanti. Lidia hanya menggelengkan kepala dengan sopan sambil berkata masa-masanya untuk itu sudah lewat. Intan dan Amel hanya meliriknya sejenak sebelum mereka sibuk kembali merencakan bagaimana agar lemparan tersebut bisa tepat mendarat di tangan Intan.

Sepertinya bakal ada kejadian menarik..., Lidia mendesah seraya menanti saat pelemparan buket tersebut.



*************

"Mbak Lidia, mana mbak Intan?" Lidia mendongak dan di hadapannya telah berdiri Angel asistennya. Lidia terakhir melihat Intan di pesta perkawinan Amel pada Sabtu kemarin. Ia tahu Intan telah menghubungi atasan mereka untuk cuti mendadak. Karenanya dikatakannya hal tersebut pada Angel. Angel mengangguk-angguk dan bertanya apakah Intan menghadiri pesta pernikahan baru-baru ini? Tentu saja Lidia menjadi heran karena ia tahu Amel hanya sebentar menjadi karyawan di kantor tersebut. Sehingga tentu Angel tidak mengenalnya karena ia masih anak baru. Tapi, tunggu sebentar. Angel tidak bertanya apakah ia juga ada di pesta pernikahan tersebut melainkan hanya Intan.

"Wah, kok kamu tahu? Apa kamu juga ada disana?" yah, siapa tahu saja mungkin Angel adalah kerabat jauh suami Amel atau kenalan keluarga sahabatnya tersebut. Amel menggeleng dan bertanya apakah ia boleh menggunakan komputer Lidia sebentar? Ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan. Walau heran, Lidia bergeser dari kursinya dan membiarkan Angel mulai membuka Google lalu ke You Tube. Lalu...

Dan Lidia pun terpana tanpa memperhatikan Angel yang berusaha menutup mulutnya karena tertawa.

Di layar komputernya ada video yang memperlihatkan segerombolan wanita yang tengah berkumpul bersama seraya tertawa-tawa. Lalu kamera beralih ke seorang wanita yang berdiri membelakangi mereka. Walau wajahnya tidak terlihat, Lidia tahu siapa wanita itu. Dia adalah Amel dan video ini pasti direkam saat resepsi tengah berlangsung Sabtu kemarin. Seperti dejavu rasanya melihat Amel meneriakkan aba-aba sebelum melemparkan buket bunga tersebut ke belakang. Dengan beringas, para wanita baik muda, sangat muda, lebih muda dan ehm...dewasa bergerak memperebutkannya. Tapi salah satu dari wanita tersebut kurang beruntung karena terdorong oleh gadis yang berpostur besar sehingga terjatuh. Dan sebelum tamu lain menyadari apa yang terjadi, wanita tersebut sudah sempat terinjak-injak oleh yang lainnya. Yak, wanita tersebut adalah Intan. Lidia memang tahu kejadiannya setelah mendapat cerita dari tamu lain. Ia tidak menyaksikan sendiri karena sedang ke kamar kecil saat kejadian tersebut. Dan setelah membawa temannya ke dokter untuk mendapat jawaban tidak ada yang patah selain memar, maka ia pun memaklumi kalau temannya ingin mengambil waktu untuk istirahat.

Ketika hendak berbicara pada Angel, pandangannya tertumbuk kepada komen-komen yang ada. Antara lain:


"Wah, kasian banget tuh cewek... Mbok yang muda-muda tau diri toooh, mengalah aja kenapa sih?"

"Huh, udah uzur aja masih berebutan buket bunga... Mestinya cewek itu nyadar dong sama umur..."

"Salahnya sendiri sampai keinjek-injek... Ini sudah lewat masanya..."

Dan entah apa lagi. Ia terpana melihat kenyataan bahwa video tersebut telah disaksikan sekitar 500000 pengunjung.

"Mbak," ada nada tawa dalam suara Angel. "Kira-kira akan berapa lama ya sebelum Mbak Intan tahu kalau sekarang dia populer sekali di You Tube?"

Hhhh, aku rasa sekarang dia sudah tahu, pikir Lidia yang merasa kasihan pada temannya. Intan, Intan... Siapa sangka kamu jadi beken lewat You Tube?

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…