Skip to main content

Menjadi 'tuhan' di Ranah Fiksi

Hidup ini adalah fiksi Tuhan. Dia bebas menentukan tokoh dalam cerita yang akan dibuatNya. Bebas menentukan jalan cerita si tokoh yang dipilihNya. Dan bebas pula menentukan nasib si tokoh dan akhir cerita itu.

Saya suka bermain di ranah fiksi, karena saya merasa menjadi 'tuhan' dalam tulisan saya. Kuasa yang tergenggam dalam tangan saya adalah tenaga penuh dalam mencurahkan kreativitas berpikir. Tak ada yang bisa menghalangi saya dalam memutar balik cerita bahkan menjungkirbalikkan tokoh-tokoh dalam cerita fiksi saya. Semua terserah saya, si 'tuhan' dalam fiksi saya. Luar biasa rasanya.

Walaupun begitu, menulis fiksi bukan berarti bebas tanpa hambatan seperti jalan tol. Duh, bahkan jalan tol pun tak luput dari kemacetan juga toh? Ada beberapa masa manakala saya menuliskan kisah fiksi lalu saya merasa terblokir dalam pikiran. Hey, habis ini mau kemana lagi, ya? Bingung sendiri. Walaupun fiksi bergantung sangat kepada khayalan 'tuhannya' namun berkhayal bukan berarti tak bermodal.


Seorang 'tuhan' fiksi pun dituntut untuk banyak membaca dan melakukan riset saat mencipta. Apa jadinya sebuah kisah yang dibuat berdasarkan khayalan membabibuta? Pembaca tidak bodoh. Fiksi walaupun tak nyata, tetaplah (sebaiknya) masuk akal. Walaupun ada beberapa fiksi yang memang bercerita tentang sebuah dunia yang tak pernah ada dalam kehidupan nyata, tetap nilai-nilai yang ada dalam kisah itu selalu nyata. Harry Potter si penyihir bersekolah di sebuah sekolah sihir. Murni khayalan JK Rowling si penulis saat dia tengah menunggu anaknya pulang sekolah di sebuah cafe. Tapi nilai-nilai kehidupan dalam bersekolah sang tokoh, Harry Potter, bukan khayalan melainkan ilmu yang dimiliki Rowling. Digambarkan ada anak nakal yang selalu mengganggu Potter di sekolah sihir itu, bukankah itu sesuatu yang banyak terjadi dalam kehidupan bersekolah kita sehari-hari? Diceritakan pula karakter seorang kepala sekolah yang bijaksana. Hey, saya jadi ingat dengan kepala sekolah saya dulu, dan sekolah saya nyata lho, bukan sekolah sihir. Hehehe...

Fiksi adalah khayalan, saya setuju. Tapi lebih daripada itu, fiksi adalah ajang melepaskan pikiran kita sebebas-bebasnya dan sepuas-puasnya. Tak ada pagar pembatas, yang ada hanya kegembiraan bermain dengan kata. Tak ada tali pemisah antara yang benar dan yang salah, yang ada hanyalah melihat segala sesuatu dari sudut pandang mana saja, sesuka kita.

Mau menjadi 'tuhan'di ranah fiksi? Mulailah menuliskan khayalanmu. Ciptakan tokoh yang kamu mau. Jalankan cerita yang kamu inginkan. Dan eksekusi ceritamu sedramatis yang bisa kamu pikirkan. Jangan takut salah langkah, apalagi salah kata. Ingat, ini fiksi. Apapun bisa terjadi.

*Fiksi adalah sebuah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka. (Wikipedia)*

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…