Thursday, September 1, 2011

Mungkinkah?

"Miriam, kamu kenapa sih? Sepertinya sedang tidak konsentrasi hari ini?"

Wanita yang dipanggil Miriam itu mendongak dan mendapati para wanita yang ada di hadapannya tengah memandanginya. Ia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sofa empuk milik sang pemilik rumah, Cindy. Apakah aku harus menceritakannya pada mereka, Miriam bertanya-tanya dalam hati. Dirasakannya tatapan ingin tahu dari para wanita yang sekarang menghentikan kegiatan mereka dan memandanginya. Aku tidak ingin menceritakan pada mereka, karena aku malu dan malu..., ia mengeluh dalam hati. Tapi jika aku tidak bercerita rasanya aku bisa gila! Aku sungguh sudah tidak tahan lagi...



"Randi sepertinya berselingkuh dariku," akhirnya Miriam mengeluarkan isi hatinya dan merasa ada kelegaan. Walau hanya sedikit dan sekarang yang tersisa adalah rasa cemas yang mulai menjalar pada dirinya. Sekarang mereka pasti menertawakan diriku, Miriam merasa pasti akan hal itu.

"Darimana kamu mengetahui akan hal tersebut, Miriam?" itu suara Cindy yang duduk tidak jauh dari dirinya. "Kamu tentunya tidak hanya sekedar berprasangka..."

Miriam mendongak mendengar pertanyaan yang seolah sengaja digantung oleh Cindy,"Aku melihatnya sendiri, Cindy... Randi dan perempuan kurus ceking itu... Mereka saling merangkul satu sama lain..."

Ya, rasanya sulit untuk menghapus pemandangan itu dari benaknya. Tidak diperdulikan bisikan dan gumaman dari Cindy ke yang lainnya, Ajeng dan Rahmi. Randi suaminya yang mengatakan padanya masih sibuk di kantor karena ada rapat mendadak, ternyata sore itu sedang bersama sekretarisnya. Sang sekretaris muda yang bertubuh mungil dengan rambut panjangnya yang tergerai di pundaknya. Tangan Randy yang biasanya memeluk dirinya tengah melingkar di pinggang wanita tersebut. Miriam nyaris berteriak memanggil keduanya jika saja saat itu ia tidak bersama kedua anak mereka, Mayang dan Iwan. Sebaliknya ia menarik tangan mereka untuk menuju ke area bermain bagi anak-anak dan membiarkan mereka berada disana. Sementara ia duduk di kursi yang tersedia dan terpekur. Berusaha mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang bisa dijadikan tanda bahwa Randi telah mengkhianatinya. Lalu mendadak sesuatu terlintas di benaknya akan perkataan Randi yang mulai sering dikeluarkan beberapa bulan terakhir ini.

"Hai Mama Bear... Ah, kamu semakin montok saja akhir-akhir ini..."

"Sayaaaang, kau tahu tanganku nyaris tidak sampai untuk memeluk tubuhmu... "


Yah, tanpa sadar tangannya mengelus bagian perutnya yang memang sudah tidak seperti dulu lagi ketika ia belum melahirkan. Sudah beberapa kali Randi menyuruhnya untuk mengambil waktu berolahraga di gym. Demikian pula dengan Cindy yang memang rajin merawat tubuhnya agar tetap terlihat molek. Tapi selama ini Miriam terlalu malas untuk melakukan itu semua. Aku sudah cukup lelah dengan urusan di rumah dan anak-anak, begitulah sering ia mengingatkan dirinya sendiri agar punya alasan untuk tidak menambah aktifitas lain yaitu berolahraga. Aku toh tidak hanya duduk-duduk bersantai dirumah membiarkan semua dikerjakan oleh pembantu. Tentunya itu semua bisa dimasukkan kategori berolahraga khan? Jadi, apa karena ia teledor untuk menjaga penampilannya maka suaminya berpaling dari dirinya? Lalu untuk apa mereka bersumpah saling setia saat dulu baru menikah? Apakah kata-kata itu hanya sebagai penghias di upacara perkawinan mereka? Bukankah alasan ia berhenti bekerja agar memenuhi keinginan suami dan mertuanya agar fokus mengurus rumah tangganya? Jadi setelah melalui hal-hal susah dan senang selama ini Randi memutuskan untuk meninggalkannya begitu saja? Miriam merasakan dadanya sesak dan tanpa sadar air mata bercucuran di wajahnya.

"Sudah, sudah... Keluarkan saja semua...," Cindy langsung memeluknya dan menyambar tissue untuk diberikan pada Miriam. Ia menepuk-nepuk pundak Miriam berusaha membantu melegakan perasaan Miriam walau ia tahu hal itu tidak mungkin pada saat ini. Ajeng dan Rahmi hanya diam dan saling melirik satu sama lain lalu tersenyum tipis. Cindy sempat memperhatikan ekspresi wajah mereka namun memutuskan untuk melupakannya. Sepertinya mereka berdua senang karena punya bahan gosip baru untuk diceritakan pada yang lain, Cindy membatin. Hari itu acara arisan mereka pun bubar karena memusatkan perhatian pada Miriam. Bagimana Miriam mengeluh bahwa pasti suaminya sudah bosan dengan dirinya. Bahwa sekarang ia sudah tidak secantik dulu ketika ia masih lebih muda. Ia merasa gusar bahwa suaminya tidak cukup sabar dalam memotivasi dirinya untuk berolahraga. Walau Cindy mengatakan bahwa sebab perselingkuhan Randi bisa karena apa saja namun Miriam merasa yakin pasti karena kelebihan berat badannya itulah yang menjadi penyebab utama.


***********


Beberapa hari kemudian setelah melepaskan uneg-unegnya, Miriam dikejutkan dengan kedatangan Ajeng dan Rahmi. Ia dan Cindy sebetulnya tidak terlalu dekat dengan kedua wanita ini selain mereka sesama alumni dari universitas yang sama. Itu juga salah satu alasan ia enggan mengungkapkan kegundahan hatinya di depan mereka karena tahu hal tersebut hanya akan menjadi bahan pergunjingan. Tapi semuanya telah terlanjur dan ia memperkirakan bahwa keduanya sekarang datang untuk mengorek lebih banyak lagi dari dirinya. Dengan enggan ia mempersilahkan mereka masuk dan menduga-duga apa yang akan mereka bicarakan. Namun keduanya sama sekali tidak mempertanyakan kelanjutan dari cerita Miriam melainkan menawarkan sesuatu.

"Kedatangan kami kesini untuk membantumu Miriam... Yah, setidaknya begitu yang kami harapkan," tanpa basa basi Rahmi langsung membuka pembicaraan. Ajeng menatap temannya itu dengan raut wajah terkejut (pasti pura-pura, pikir Miriam). Lalu Ajeng mengatur posisi duduknya dan ia pun turut dalam perbincangan tersebut,"Kamu sudah pernah mencoba diet belum? Maksud kami jika kamu memang yakin kelebihan berat badan kamu yang menjadi penyebab masalah dalam rumah tanggamu"

Miriam mengusap keningnya dengan perasaan lelah yang tiba-tiba mendera tubuhnya. Diet? Oh, ia paling benci akan kata-kata itu. Jadi amatlah tidak mungkin ia melakukan hal tersebut. Lagipula sepertinya sekarang pasti sudah terlambat karena perselingkuhan itu telah terjadi. Setelah melihat suaminya memeluk wanita lain ia pun mulai mengurangi frekuensi pembicaraan dengan Randi. Dan hatinya merasa sakit ketika melihat bahwa Randi sama sekali tidak bertanya mengenai perubahan sikapnya.

"Diet itu memang melelahkan, Miriam... Tapi, kami punya sesuatu yang dapat menyingkirkan masalah tersebut...," Rahmi pun mulai merogoh sesuatu dari tasnya dan mengeluarkan kotak seperti kemasan vitamin. Ia meletakkan kemasan tersebut di meja dan mendorongnya mendekati sudut meja tempat Miriam duduk. Miriam memandangi kemasan tersebut dan memandangi dua wanita yang duduk dihadapannya dengan pandangan bertanya.

"Miriam, kamu lupa ya kalau kami berdua dulu...yah, juga mempunyai masalah dengan berat badan?" Ajeng menyandarkan tubuhnya di kursi seraya tersenyum seraya tangannya membelai perutnya yang sama sekali nyaris rata.

Masa sih? Ia berusaha mengingat-ingat dan gagal total sepenuhnya. Dari dulu ia memang tidak terlalu menyukai kedua wanita yang sekarang ada di ruangan tamu rumahnya ini. Dan karenanya ia tidak pernah terlalu memperhatikan kegiatan mereka apalagi penampilan mereka.

Orang lain mungkin akan tersinggung tapi keduanya tetap tersenyum lebar dihadapannya. Mereka saling menatap satu sama lain dan Ajeng mengangguk pada Rahmi. Rahmi lalu mengambil kotak tersebut dan mengacungkannya pada Miriam.

"Ini tidak berbahaya kok Miriam. Hanya berupa makanan suplemen dan karenanya kamu tidak akan merasa lapar"

Lalu Rahmi menjelaskan lebih lanjut bahwa yang berbahaya itu adalah obat-obat pelangsing yang membuat si penggunanya merasa pusing atau mual. Hingga keluhan jantung yang berdebar-debar. Namun tidak dengan food supplement yang tengah mereka tawarkan. Karena didalamnya mengandung banyak serat makanan yang membantu si penggunanya untuk tidak merasa lapar dan karenanya akan mengurangi asupan makanan yang tidak perlu. Seperti cemilan dan semacamnya. Sama sekali tidak akan mengganggu kesehatan, baik Rahmi dan Ajeng menjaminnya.

"Lagipula, " Ajeng menambahkan lagi. "Kamu harus tetap berusaha mempertahankan suamimu kan? Dan kalaupun usahamu masih gagal setidaknya ini demi kepuasan batinmu sendiri. Memiliki tubuh yang indah dan sehat. Bukankah itu menyenangkan?"


**************



"Bagaimana kabarmu hari ini?" Cindy meletakkan buku cerita yang ia bawa ke meja disamping tempat tidur tersebut. Lalu ia memandangi wajah sahabatnya dengan lebih seksama walau ia tahu tidak akan menemukan perubahan yang berarti.

Miriam tergolek di tempat tidur dan walau ia terlihat sedikit lebih segar dibandingkan beberapa jam sebelum proses mencuci darah selama tiga - empat jam itu, tetap saja ia sudah bukan Miriam yang dulu.

Cindy menghela napas dan mengambil kursi untuk duduk di dekat tempat tidur Miriam tanpa bicara apapun. Di usia mereka yang memasuki kepala 6, basa basi atau kata-kata tanpa arti sudah tidak ada gunanya lagi. Duduk diam berdua sambil membaca buku masing-masing atau hanya menatap keluar jendela sudah lebih dari cukup. Ia datang kesana tidak untuk berbicara mengenai hal-hal yang tidak penting. Ia datang kesana demi memberikan ketenangan hati pada sahabatnya, Miriam. Ia melirik lagi ke arah sahabatnya yang tengah melihat-lihat buku yang tadi ia bawa dan ingatannya kembali ke beberapa tahun sebelumnya. Tahun dimana Miriam bercerita mengenai suaminya yang mulai berselingkuh. Tahun dimana mendiang Rahmi dan Ajeng menawarkan makanan pengganti untuk membantu Miriam dalam melakukan diet.

Puff, DIET APANYA? Ia menyimpan gerutuannya di dalam hati dan merasa kesal pada dirinya sendiri karena hanya itulah yang bisa ia lakukan akhir-akhir ini. Terlintas lagi di benaknya ketika ia mengetahui bahwa Miriam mulai mengikuti jejak Rahmi dan Ajeng yang salah dalam melakukan diet. Tidak, mereka menggunakan cara instan yang diharapkan dapat memberi hasil yang cepat dan bagus tanpa memikirkan akibatnya. Telah berulang kali ia berusaha meminta Miriam untuk menghentikan penggunanan obat yang tidak bisa dipercaya tersebut. Tapi sahabatnya tidak mau mendengarkannya dan malah menuduhnya tidak sensitif.

"Seandainya aku mempunyai metabolisme tubuh yang bagus sepertimu, Cindy maka apa kamu pikir aku mau menggunakan obat tersebut?" mata Miriam terlihat seperti api menyala-nyala seolah emosinya yang ia simpan selama ini siap tumpah saat itu juga. "Kamu tidak akan pernah mengerti keadaanku karena kamu tidak mengalaminya sendiri..."

Dan sejak itu mereka menjadi jarang bertemu karena sudah tidak tahu lagi apa yang dapat dibicarakan bersama. Tambahan lagi ia harus mengikuti suaminya berpindah ke kota lain karena urusan kantor membuatnya tidak pernah memikirkan lagi mengenai Miriam. Tapi sesekali ia masih berhubungan dengan Rahmi juga Ajeng walau akhirnya semuanya menghilang begitu saja. Hingga akhirnya ia kembali ke kota tersebut beserta keluarganya setelah puluhan tahun kemudian dan menyadari ada banyak hal yang telah berubah.

Rahmi dan Ajeng telah meninggal dunia akibat serangan jantung. Awalnya Cindy tidak berpikir bahwa keduanya meninggal akibat konsumsi obat untuk diet tersebut. Usia tua, penyakit apa saja yang tidak terbayangkan bisa mendera. Begitulah awalnya ia berpikir mengenai hal tersebut. Tanpa kebiasaan hidup yang sehat maka akan hanya tinggal menunggu waktu saja hingga penyakit mendera. Barulah ketika hatinya tergerak untuk mengetahui kabar Miriam dan ia pun terpana.

Memang Miriam memperoleh ukuran tubuh yang ia inginkan. Memang hal tersebut membantunya untuk rujuk lagi dengan suaminya. Memang untuk sementara semuanya sepertinya baik-baik saja. Tapi seperti orang yang pertama kali merasakan candu dan mulai menikmatinya, begitu pula halnya dengan Randi. Ia pun mengulangi lagi perselingkuhannya dan kali ini dengan gadis yang hanya lebih tua sedikit dari puteri mereka. Orang tua anak gadis itu tidak bisa menerima dan menuntut Randi bertanggung jawab. Maka Miriam memutuskan bahwa ia tidak menginginkan lagi perkawinan tersebut dipertahankan. Ia menuntut perceraian dan setelah berjuang untuk memastikan bahwa Randi tetap harus bertanggung jawab bagi kedua anak mereka, ia pun seperti menghilang dari peredaran bumi. Butuh waktu agak lama bagi Cindy untuk berhasil bertemu dengan Miriam dan ia hanya bisa terpana melihat keadaan sahabatnya.

Obat yang di konsumsi oleh Miriam, Rahmi dan Ajeng rupanya mengandung sibutramine, suatu zat penekan selera makan yang sangat kuat, merupakan suatu senyawa yang masih segolongan dengan amphetamins. Senyawa ini dapat menyebabkan serangan jantung, ketidak normalan denyut jantung hingga stroke. Miriam memang masih sempat menyelamatkan nyawanya dengan melalui pengobatan yang intensif untuk jantungnya. Tapi beberapa obat tersebut juga terlalu keras dan akhirnya menyerang ginjalnya. Dan sejak saat itu, Miriam bergantung pada anak-anaknya untuk membantu pengobatannya.

"Jangan bilang padaku, bahwa kau telah memperingatkan akan hal seperti ini... Semua sudah terjadi," Miriam memaksakan senyuman diwajahnya yang hanya membuat hati Cindy semakin teriris. "Aku sudah berusaha dengan cara apapun dan karenanya aku sudah siap menerima semua akibatnya..."

Cindy terdiam dan mereka kembali dalam posisi semula, diam dan menikmati keheningan di antara mereka. Mereka sudah saling mengetahui apa yang ingin diucapkan, apa yang ada di hati masing-masing dan karenanya tidak perlu menambah duka dengan mengeluarkannya keras-keras ke dunia.

Tidak semuanya, Cindy menghela napas dan menimbang-nimbang apakah semuanya ini tidak akan terjadi jika dia memberi tahu bahwa ia pun telah merasakan akibat buruk dari obat diet tersebut? Bahwa jantungnya sempat berhenti berdetak beberapa detik dan ia nyaris tidak terselamatkan? Apakah ia terlalu menjaga privasinya sehingga melupakan keselamatan temannya sendiri? Mungkinkah semuanya akan berakhir lain? Mungkinkah...