Wednesday, September 14, 2011

"Namaku Bukan Mariska"

6 bulan setelah pencarian. Di depan gedung perkantoran.

Wanita berusia 26 tahun itu sekali lagi melihat  foto yang ada di tangannya dan membandingkan dengan wajah pria yang berdiri sejajar darinya. Persis sekali. Bentuk hidungnya, warna rambutnya, tinggi badannya, warna matanya, dan kira-kira sesuai-berat badannya dengan data profil-yang wanita itu miliki. “Dia pasti orangnya,” ucap wanita itu kegirangan. “Semoga aku tidak salah sekarang dan jangan sampai salah lagi dan tak mau terus-terusan salah orang,” katanya mencandai dirinya sendiri.

Pria itu kemudian berjalan cepat membelakangi wanita itu. Wanita itu berlari-lari mengejarnya dan Hup... Dengan nafas  tersenggal-senggal, tangannya langsung menepuk bahu pria itu. Tanpa memperdulikan keterkejutan pria itu, Ia langsung membaca kartu identitas-yang berada di dadanya. “Patric Jenssen”..Oh Tidakkk.. Dia benar-benar Patric Jenssen yang Ia cari-cari selama ini.

“Hei, lepaskan tanganmu, kamu sudah gila yah!” pria itu tampak kesal dan  langsung menarik kartu identitasnya dari tangan wanita itu. lalu, Dia bergegas pergi.

Wanita itu hanya diam menatap kepergian pria itu.

Sesampainya  di dalam kereta, pria itu teringat peristiwa tadi. Dan dia kembali teringat Mariska.

Di luar café di pinggiran jalan .

Sudah 7 hari wanita itu mengikuti Patric. Wanita itu sudah mulai hafal jadwal kegiatan Patric selama 7 hari ini. Tiga kali seminggu pergi ke Gym di pusat kota setelah pulang dari kantor. Hampir setiap hari dia makan siang dan malam di Restaurant atau di cafe. Sepertinya dia tidak pernah memasak sendiri, namun pecinta kulinari. Itu bisa dilihat dari setiap harinya makan di  restaurant yang berbeda dan menu dari manca Negara. Patric juga pecinta kopi, tak jarang Patric menghampiri kedai kopi tempat paling favorite di kota ini-sebelum ia melangkah menuju kantornya. Dia tidak pernah duduk tapi langsung menyambar kopi yang telah disiapkan oleh barista yang telah akrab dengannya.

Patric senang memiliki banyak teman. Itu jelas sekali terlihat dengan seringnya ia Hang out bersama teman-temannya di café dan bar langganan mereka. Dan hal yang paling mengejutkan bagi wanita itu adalah dari blok kedai kopi itu hingga 3 blok menuju gedung perkantoran dimana Patric bekerja, dia selalu bertegur sapa dengan orang-orang yang dia temuinya. Mulai dari penjual bunga, penjajah Koran, karyawan restaurant yang sedang berdiri di depan tempat kerjanya, pegawai-pegawai salon yang langsung keluar-bila melihat sosok Patric, kasir di mini mart saat memindahkan tulisan Open-Close, bahkan orang-orang yang sering menyebrang bersama dirinya di waktu yang sama. Semua orang mengenali Patric Jenssen.

Wanita itu berdiri dari bangkunya. Dan Patric sudah ada tepat di depan tubuhnya saat wanita itu membalikan badannya.
Mata mereka saling bertatapan. Patric jadi salah tingkah, seharusnya dia kesal dengan kehadiran wanita ini yang sudah beberapa hari mengikutinya.

“Siapa dirimu? Mengapa kau selalu mengikuti kemana aku pergi?,” sambil menghilangkan kesalahan tingkahnya ini.
Wanita itu mengelengkan kepalanya pelan.
“Kamu tidak usah bohong. Kamu kira aku tidak tahu kegiatanmu memata-matai aku. Mengapa kamu mengikuti aku?” Patric dengan sedikit menaikan nada suaranya.

Wanita itu kembali mengelengkan kepalanya pelan.

Patric antara jengkel dan senang dengan kehadiran wanita ini, meski Patric penasaran mengapa wanita ini mengikuti dirinya terus. Saat dia melihat mata wanita ini, keyakinnya mulai sedikit tumbuh. Patric melihat ketulusan dan kejujuran. Patric pikir, rasanya wanita ini tidak membahayakan dan  seorang wanita  baik-baik.

Kini wanita itu bergegas pergi dari hadapan Patric. Ia berjalan cepat. Patric mengejar langkahnya. Wanita itu pun berlari. Berlari karena ia belum siap untuk berbicara dengan Patric Jenssen. Wanita itu masuk ke dalam Bus dan menghilang dari pandangan Patric. “Shitt”, gerutu Patric. Wajah Mariska melintas di benak Patric. Seperti Patric baru saja bertemu dengan Mariska, itu yang dirasakannya.

Di dalam Bus.

Jantung berdegup kencang mengingat tatapan dan ucapan Patric. Detak jantung ini bergerak cepat sekali, tak menentu. Apakah ia akan mati kembali? Tapi detakan ini rasanya seperti sewaktu Jantung jatuh cinta dulu. Cinta yang tidak hilang dari Jantung. Dan bukan detakan untuk mati berhenti.

Wanita itu menjadi bingung. Tapi ia merasa senang sekali dengan peristiwa tadi. Aneh. Ada desiran tersendiri menyelimuti ruang-ruang wanita itu. “Achh, ini tidak mungkin!” itu saja yang ditancapkan biar wanita itu segera bangun dari angan-angannya.

-Satu minggu kemudian- Malam hari di Restaurant

Wanita itu tidak tahu bagaimana caranya lagi menolak kencan dari Patric. Ia tidak mau terlalu dekat dengan Patric. Ia hanya mau mengenali riwayat benda yang ada di tubuhnya. Itu saja.

Gesekan Suara biola mengisi ruang restaurant ini menjadi mengalun  hangat. Mereka makan bersama. Mereka saling terbuai. Saling tersenyum. Saling memandang. Saling mengagumi. Saling menikmati suasana itu. Tanpa kata-kata. Hanya suara dari mulut Patric yang semakin sering memanggil wanita itu, Mariska. Mariska..Mariska...Mariska...Tanpa percakapan.

Di Stasiun Televisi Lokal. Hari minggu-pukul 10.30 pagi.

Wanita itu telah siap berada di depan kamera.
Pria di seberang wanita itu berteriak,”..Tiga..Dua..Satu..” lalu ia menjentikan tangannya menandakan dilanjutkannya kembali acara show itu.

“Boleh saya mengatakan sesuatu di depan kamera untuk seorang teman, Janet?” Tanya wanita itu kepada Janet-Host Janet’s Show.
Penterjemah itu langsung menerjemahkan apa yang dikatakan wanita itu kepada Janet.
“Oh..Sure..”, Jawab Janet.
Kamera langsung close-up ke wajah wanita itu.
“Sebelumnya saya ingin meminta maaf pada teman baru saya, Patric. Maaf saya tidak mengatakan hal ini sejak bertemu denganmu. Saya ingin, tapi saya takut kamu tidak mengerti saya.”
“JIka kau menonton acara ini, sentuhlah dadaku melalui layar kaca .”
Wanita itu terdiam beberapa detik dan kembali berbicara.
“Sudahkah kau sentuh dadaku? Di dadaku ini ada sebuah jantung yang baru setahun kumiliki. Aku menyukai dirimu, seperti jantung ini pernah menyukai dirimu dulu. Aku hampir mencintaimu, tapi jantung ini telah mencintaimu sejak lama. Patric, kau pernah mencintai jantung ini. Karena Jantung ini milik Mariska Jenssen, istrimu. Dan namaku bukan Mariska, tapi Catharina Tarren.”

Tangan Catharina berhenti dan menundukan kepalanya. Penterjemah itu juga berhenti menterjemahkan bahasa isyarat untuk tuna rungu dari Catharina kepada pemirsa di layar kaca”.

Di kamar tidur Patric.

Ini masih hari minggu dan tangan Patric masih di depan televisi menyentuh Jantung milik Mariska, yang kini milik Catharina. Mendengar itu jantung milik Mariska, Patric merasa senang sekali seakan-akan kerinduannya pada Mariska terbayar. Patric juga terkejut karena tak pernah mengira  dapat menemukan kembali jantung Mariska. Patric pun mengerti mengapa wanita itu tidak pernah berbicara sedikitpun. Ya, karena dia memang gadis tuna rungu. Dan Patric memang tidak pernah mengerti bahasa mereka. Belum mengerti tepatnya.

Patric mengecup layar televisi itu, seperti ia sedang mengecup bibir Mariska begitu nyata.

Jantung bertutur..

Aku pernah mati. Aku telah hidup dua kali. Apakah aku akan mati lagi, lalu kembali hidup. Mati dan hidup berkali-kali. Begitu jugakah aku akan mencintai berkali-kali dengan orang yang sama, meski aku di rawat oleh raga yang berbeda? Dulu aku cinta Patric Jenssen. Aku mati. Kemudian aku hidup. Dan sekarang pun Aku tetap mencintai Patric Jenssen.