Skip to main content

Semua Telah Berakhir


Siapa yang tidak kenal  Rinta? Sudah pintar, cantik, punya karir yang bagus, kaya pula. Penampilan dan pembawaanya selalu menghipnotis siapa saja untuk mendecak kagum. Sosok yang sempurna, ramah, baik hati dan tidak sombong. Tidak sombong? Entahlah. Yang sering kudengar adalah ia selalu berbiacara mengenai dirinya, keakuannya yang penuh bla bla bla dan serba blab la bla.

Sebagai teman dekat, bahkan untuk iripun aku tidak mampu. Dengan segala kelebihannya, maka keadaan kami seperti langit dan bumi. Jauh dari mirip. Dia punya segala hal yang digilai tiap orang. Sedangkan aku, sebelah matapun tidak ada yang melirik. Kalau sampai saat ini kami masih berteman, itu hanya karena masa lalu saja.


Aku selalu menjadi tumpahan kekesalan dan kemarahannya. Aku tahu pasti, ini semua untuk pelampiasan agar di depan orang banyak, dia tetap terlihat sebagai sosok yang ramah dan baik hati. Mungkin sudah nasibku menjadi tumpahan segala isi hatinya. Dan aku hanya bisa berdiam diri. Memendam semua perasaannya itu.

Seperti saat ini. Aku hanya diam. Dia tumpahkan semua emosinya secara membabi buta padaku. Dia bertengkar hebat dengan tunangannya, Ardha, seorang lelaki yang easy-going. Dia ramah dan penyayang., walau terkesan slebor dan suka seenaknya. Entah kenapa, menurutku ada sesuatu yang tidak sinkron dalam hubungan mereka.

Rinta merasa selama ini dia sudah begitu mencintai dan mengasihi Ardha, memperlakukannya dengan penuh kasih dan sayang. Namun, Ardha belum menunjukkan kesungguhannya untuk berkomitmen. Menurut Rinta begitu, namun yang kulihat justru sebaliknya. Ardha berada pada posisi terinjak tak berkutik. Sikapnya yang seenaknya menutupi rasa tertekannya. Dan sikap seenaknya inilah yang membuat Rinta kecewa. Merasa tidak dihargai.

Tapi, bukan mau membela Ardha, aku seperti menangkap simbol pemberontakan atas perlakuan  Rinta padanya. Ingin menunjukkan bahwa Rinta bukanlah seperti tampilannya yang welas asih. Aku mulai bersimpati dengan keadaanya. Jangan bilang aku jatuh hati pada Ardha, bukan. Hanya simpati dan rasa kasihan.

Dan entah mengapa, tiap kali melihat mereka bertengkar, hanya satu yang kupikirkan sebagai jalan terbaik. Namun aku tidak ingin hal itu terjadi.

Akhirnya saat itupun terjadi. Pertengkaran hebat di telepon. Aku hanya diam menyaksikan semua itu. Hal yang kuinginkan namun tak kuharapkan akhirnya terjadi.

“Semua telah berakhir!”

 Ditulis dengan huruf besar-besar, di halamanku yang terakhir dan penghabisan. Riwayatku pun berakhir. Tinggal menanti lembar demi lembarku dimusnahkan. Aku menatap kelangit-langit kamar Rinta.  Dari dalam laci yang terbuka, aku mengucapkan selamat tinggal. Untuk segala kenangan yang ada.

-Diary-

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…