Friday, September 16, 2011

Semua Telah Berakhir


Siapa yang tidak kenal  Rinta? Sudah pintar, cantik, punya karir yang bagus, kaya pula. Penampilan dan pembawaanya selalu menghipnotis siapa saja untuk mendecak kagum. Sosok yang sempurna, ramah, baik hati dan tidak sombong. Tidak sombong? Entahlah. Yang sering kudengar adalah ia selalu berbiacara mengenai dirinya, keakuannya yang penuh bla bla bla dan serba blab la bla.

Sebagai teman dekat, bahkan untuk iripun aku tidak mampu. Dengan segala kelebihannya, maka keadaan kami seperti langit dan bumi. Jauh dari mirip. Dia punya segala hal yang digilai tiap orang. Sedangkan aku, sebelah matapun tidak ada yang melirik. Kalau sampai saat ini kami masih berteman, itu hanya karena masa lalu saja.


Aku selalu menjadi tumpahan kekesalan dan kemarahannya. Aku tahu pasti, ini semua untuk pelampiasan agar di depan orang banyak, dia tetap terlihat sebagai sosok yang ramah dan baik hati. Mungkin sudah nasibku menjadi tumpahan segala isi hatinya. Dan aku hanya bisa berdiam diri. Memendam semua perasaannya itu.

Seperti saat ini. Aku hanya diam. Dia tumpahkan semua emosinya secara membabi buta padaku. Dia bertengkar hebat dengan tunangannya, Ardha, seorang lelaki yang easy-going. Dia ramah dan penyayang., walau terkesan slebor dan suka seenaknya. Entah kenapa, menurutku ada sesuatu yang tidak sinkron dalam hubungan mereka.

Rinta merasa selama ini dia sudah begitu mencintai dan mengasihi Ardha, memperlakukannya dengan penuh kasih dan sayang. Namun, Ardha belum menunjukkan kesungguhannya untuk berkomitmen. Menurut Rinta begitu, namun yang kulihat justru sebaliknya. Ardha berada pada posisi terinjak tak berkutik. Sikapnya yang seenaknya menutupi rasa tertekannya. Dan sikap seenaknya inilah yang membuat Rinta kecewa. Merasa tidak dihargai.

Tapi, bukan mau membela Ardha, aku seperti menangkap simbol pemberontakan atas perlakuan  Rinta padanya. Ingin menunjukkan bahwa Rinta bukanlah seperti tampilannya yang welas asih. Aku mulai bersimpati dengan keadaanya. Jangan bilang aku jatuh hati pada Ardha, bukan. Hanya simpati dan rasa kasihan.

Dan entah mengapa, tiap kali melihat mereka bertengkar, hanya satu yang kupikirkan sebagai jalan terbaik. Namun aku tidak ingin hal itu terjadi.

Akhirnya saat itupun terjadi. Pertengkaran hebat di telepon. Aku hanya diam menyaksikan semua itu. Hal yang kuinginkan namun tak kuharapkan akhirnya terjadi.

“Semua telah berakhir!”

 Ditulis dengan huruf besar-besar, di halamanku yang terakhir dan penghabisan. Riwayatku pun berakhir. Tinggal menanti lembar demi lembarku dimusnahkan. Aku menatap kelangit-langit kamar Rinta.  Dari dalam laci yang terbuka, aku mengucapkan selamat tinggal. Untuk segala kenangan yang ada.

-Diary-