Skip to main content

Setitik Biru Ini Telah Habis

Kepadanya aku berjanji, bahwa sewindupun akan kunanti. Meski  tiap detiknya terasa tertatih, ada gumpalan asa yang menebal, menggelembung dan terbang melayang.
“Aku harus pergi, walau kaki tak ingin melangkah. Tugas membawaku merentang jarak denganmu. Tapi kuyakin, jarak menjadikan rinduku semakin besar padamu. Tunggu aku, dengan rindumu.”

Itu pesan yang kau sampaikan lewat surat, ya, surat, tertulis dalam lembarannya berwarna kuning gading. Dan sejak saat itu, menantimu adalah sebuah keharusan. Bukan ikatan, tapi kenyataan bahwa apa yang menjadi harapan terkadang menjadi pengikat rasa.

Lembaran awal penantian masih tak berbilang duka. Pagi masih selalu hangat, walau semburat embun terlihat mengasap. Pada tiap bulirnya kutitipkan secercah senyum, masa itu akan datang. seiring dengan embun yang menguap.



Sewindu pertama, berlalu tanpa suara. Kau tak hadir, kabarpun tak hadir, justru di saat-saat penantian terasa berakhir. Waktu mengharuskanku mengalah pada takdir. Aku terikat padanya, yang tulus mengasihiku dalam segala keadaanku. Namun dihatiku tetap tersimpan penantian padamu.

Sewindu kedua, berlalu tanpa namamu. Kupandangi sosok kecil yang berlarian di taman. Berkejaran bersamanya. Keceriaan meruak, sedikit menguasai ruang hati yang tertutup debu. Merekalah ternyata percik-percik kehangatan yang membuka kesadaraanku. Keberadaanku kini berpijak. Pada mereka kutumpahkan rasa dan asaku. Dan penantian padamu itu tersisa pada tepi hati.

Sewindu ketiga, berlalu tanpa rasa. Sosok kecil itu semakin dewasa, dalam lindungan dan tempaan dirinya. Aku harus jujur, bahwa penantianku bukan sia-sia. Namun saat ini aku hanya ingin meninggalkannya setitik, diujung hatiku.

Sewindu keempat, berlalu tanpa ragu. Detik yang dinanti, saat aku dan dirinya menghantarkan lelaki kecil kami yang telah dewasa, menjemput kehidupannya. mengucap janji sehidup semati bersama kekasih hatinya. Aku dan dirinya saling berpandangan. Wajahnya penuh kehangatan. Baru kusadari tulus hatinya. Selama empat windu aku dalam penantian. Dan selama itu pula dia dalam penantian. Menantikan rasaku terbuka untuknya? Tiba-tiba semua terbuka untukku.

Kupandangi surat berwarna kuning gading yang sudah berubah warna, kusut dan kusam. Juga potongan surat kabar yang memberitakan kecelakaan pesawat, dihari kau berangkat. Mataku merabun oleh genangan air mata. Angin menghapus segala penantian yang ada. Selamat tinggal rinduku... Semoga engkau damai di surgamu***
___
Photo by: Emanuel Kristian Zebua

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…