Tuesday, September 6, 2011

Setitik Biru Ini Telah Habis

Kepadanya aku berjanji, bahwa sewindupun akan kunanti. Meski  tiap detiknya terasa tertatih, ada gumpalan asa yang menebal, menggelembung dan terbang melayang.
“Aku harus pergi, walau kaki tak ingin melangkah. Tugas membawaku merentang jarak denganmu. Tapi kuyakin, jarak menjadikan rinduku semakin besar padamu. Tunggu aku, dengan rindumu.”

Itu pesan yang kau sampaikan lewat surat, ya, surat, tertulis dalam lembarannya berwarna kuning gading. Dan sejak saat itu, menantimu adalah sebuah keharusan. Bukan ikatan, tapi kenyataan bahwa apa yang menjadi harapan terkadang menjadi pengikat rasa.

Lembaran awal penantian masih tak berbilang duka. Pagi masih selalu hangat, walau semburat embun terlihat mengasap. Pada tiap bulirnya kutitipkan secercah senyum, masa itu akan datang. seiring dengan embun yang menguap.



Sewindu pertama, berlalu tanpa suara. Kau tak hadir, kabarpun tak hadir, justru di saat-saat penantian terasa berakhir. Waktu mengharuskanku mengalah pada takdir. Aku terikat padanya, yang tulus mengasihiku dalam segala keadaanku. Namun dihatiku tetap tersimpan penantian padamu.

Sewindu kedua, berlalu tanpa namamu. Kupandangi sosok kecil yang berlarian di taman. Berkejaran bersamanya. Keceriaan meruak, sedikit menguasai ruang hati yang tertutup debu. Merekalah ternyata percik-percik kehangatan yang membuka kesadaraanku. Keberadaanku kini berpijak. Pada mereka kutumpahkan rasa dan asaku. Dan penantian padamu itu tersisa pada tepi hati.

Sewindu ketiga, berlalu tanpa rasa. Sosok kecil itu semakin dewasa, dalam lindungan dan tempaan dirinya. Aku harus jujur, bahwa penantianku bukan sia-sia. Namun saat ini aku hanya ingin meninggalkannya setitik, diujung hatiku.

Sewindu keempat, berlalu tanpa ragu. Detik yang dinanti, saat aku dan dirinya menghantarkan lelaki kecil kami yang telah dewasa, menjemput kehidupannya. mengucap janji sehidup semati bersama kekasih hatinya. Aku dan dirinya saling berpandangan. Wajahnya penuh kehangatan. Baru kusadari tulus hatinya. Selama empat windu aku dalam penantian. Dan selama itu pula dia dalam penantian. Menantikan rasaku terbuka untuknya? Tiba-tiba semua terbuka untukku.

Kupandangi surat berwarna kuning gading yang sudah berubah warna, kusut dan kusam. Juga potongan surat kabar yang memberitakan kecelakaan pesawat, dihari kau berangkat. Mataku merabun oleh genangan air mata. Angin menghapus segala penantian yang ada. Selamat tinggal rinduku... Semoga engkau damai di surgamu***
___
Photo by: Emanuel Kristian Zebua