Skip to main content

Suara Dalam Helm


Pernahkah kamu merasa telah dikhianati oleh satu buah hari dalam hidupmu? Ya, aku mengatakan satu buah, kamu tidak salah dengar. Satu buah hari yang spesifik itu telah berkhianat padamu. Justru pada saat kamu sangat membutuhkan kesetiaannya, dan dia berpaling darimu.

Hari ini aku nobatkan menjadi hari pengkhianat dalam hidupku. Di saat harusnya aku bangun lebih awal untuk melaksanakan ujian akhir semesterku di kampus, dan dia berkhianat dengan membiarkan aku bangun terlambat. Di saat motor bututku harusnya bisa melesat kencang membantuku untuk sampai di kampus tepat waktu, dan dia berkhianat dengan batuk-batuk kambuhannya dan mogok di tengah jalan.

Hari ini adalah hari pengkhianat. Aku benciii sekali. Kesialan yang berawal dari bangun terlambat tadi pagi, seolah seperti efek kartu domino yang disusun dan kemudian dijatuhkan di ujung yang satu lalu merembet ke kartu-kartu berikutnya. Tanpa ampun aku dihantam kesialan demi kesialan sepanjang hari ini.


Besar sekali harapanku untuk dapat bertemu dengan siapa saja yang bisa membantuku keluar dari hari yang sial ini. Malaikat, ibu peri, pendekar ganteng, siapapun, tolong aku!

Duduk di depan bengkel motor kecil yang pengap dan berdebu dengan helm masih terpasang di kepalaku. Menunggu montir kurus dekil itu mengutak-atik motorku dan berharap semoga saja kesialanku berhenti di sini. Meratapi nasibku yang tidak pernah bagus.

Aku, mahasiswi semester lima, sebuah universitas swasta. Muka pas-pasan, prestasi kuliah biasa saja kalau tidak ingin dibilang buruk, keadaan ekonomi standard. Aku tidak pernah masuk dalam jejeran mahasiswi cantik yang populer di kampus. Tidak pernah ada gerombolan mahasiswa mengelilingiku dan berebut hendak mengantarku pulang atau mengajakku ke mall untuk nonton. Tak punya teman, selain Desi, sahabatku dari SMA dulu. Itu pun saat ini aku mulai merasa kalau Desi mulai menjauhiku.

Kami sedikit bersitegang minggu lalu. Dia berkeras mengajakku pergi bersama teman-teman sekelas kami ke puncak. Aku malas. Aku malas menghadapi keadaan nanti aku akan jadi kambing congek di antara mereka. Aku ini pendiam sekali. Dan aku pasti bingung setengah mati berada di tengah-tengah mereka yang bisa tertawa keras dan bercanda tanpa malu.

"Lama-lama begini, kamu jadi kuper tau!" Begitu ungkapan kekesalan Desi padaku saat aku menolak ajakannya.

"Hh, aku nggak kuper! Aku cuma beda aja sama kalian. Kalian semua seragam. Butuh pengakuan dari pergaulan!" kataku sinis.

"Sinis kayak begini nih yang bikin rasa percaya diri kamu makin menipis setiap hari," kata Desi lagi. Masih dengan gaya sok menilainya itu.

Sok tahu! Kalau aku tidak kenal dengannya dari kecil, mungkin sudah kutinggalkan dia sejak lama. Aku tidak butuh teman kalau nantinya dia hanya ada untuk menghakimiku. Aku sendiri heran kenapa dia mau berteman denganku.

Dan itu pernah kutanyakan padanya saat kami masih di SMA. Dia bilang, "Kamu itu baik sebenarnya, cuma aja kurang percaya diri. Dan kalau kamu mau sedikit ramah dan murah senyum, kamu pasti lebih cantik dan menarik."

Dan aku tidak mau membahasnya lagi setelah itu. Lagi-lagi itu. Ada apa memangnya kalau aku malas tersenyum dan basa-basi? Aku merasa baik-baik saja. Walaupun sering juga aku merasa iri dengan Desi atau teman-teman perempuan lain di kampus. Tapi aku malas mengikuti gaya mereka. Kalau tidak bisa menerimaku apa adanya seperti Desi, ya sudah! Aku tidak akan mati bahkan jika tak ada seorangpun yang mau menemaniku.

"Buka mata, buka telinga, buka hati dan mulailah bersahabat dengan dunia."

Aku terloncat dari dudukku. Siapa yang berkata-kata itu? Tidak ada siapa-siapa di sekitarku.

"Siapa itu?" tanyaku dengan suara rendah dan mata melirik ke kiri dan ke kanan dengan tegang.

Montir bengkel itu menatapku dengan aneh. Kujamin memang pasti aneh sekali melihat pemandangan seorang gadis memakai helm, duduk di bawah pohon dan berbicara sendiri.

"Aku di sini. Di kepalamu. Kamu tidak perlu berubah menjadi orang lain untuk bisa diterima oleh teman-temanmu. Kamu hanya perlu percaya pada dirimu sendiri dan sekitarmu. Percayalah tidak semua orang itu memandangmu sinis. Santai saja," kata suara itu lagi.

Perlahan tanganku memegang helm di kepalaku.

"Kamu..helm? Berbicara padaku?" tanyaku dengan bodoh.

Brak!

"Mbak! Mbak! Kenapa?"

Aku terbangun dan tersadar. Aku berusaha bangkit dari posisiku. Telentang di depan bengkel motor itu, sendirian, tanpa teman dan masih memakai helm.

"Ada apa?" tanyaku linglung.

"Mbak, ketiban nangka dari atas tuh! Untung pake helm. Tapi lumayan juga nangkanya gede, mbak! Mbak langsung pingsan tadi. Tuh nangkanya," kata si montir sambil menunjuk ke arah sebuah nangka matang yang sudah pecah di hadapanku.

Ya Tuhan, sempurna hariku! Aku menjerit dalam hati. Ini tidak bisa diteruskan. Aku butuh teman. Aku harus ceritakan tentang hari ini pada seseorang. Desi yang pasti. Atau mungkin beberapa teman baru mungkin akan terhibur mendengar kisahku hari ini.

Aku hanya tak ingin sendiri. Untung aku tidak mati tertimpa nangka. Dan untung helm itu masih kupakai. Teringat sesuatu, kuraba helm di kepalaku sekali lagi.

"Hey...kamu masih di situ?" tanyaku dengan penasaran.

"Mbak, ngomong sama siapa?" Montir itu menatapku dengan aneh, lagi.

(Image from www.airchair.com)

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…