Skip to main content

Happy Birthday, Nilam! From Armando, with Lipbalm!

image from www.bodyshop-usa.com
Sepuluh tahun menikah, hanya satu kali mendapat kado ulang tahun. Rasa-rasanya ada yang kurang, walaupun tak kurang-kurang perhatian Raja pada Nilam selama ini. Raja ibarat mesin canggih dengan satu kekurangan. Dia bekerja giat demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, memperhatikan semua kebutuhan Nilam, mencurahkan segenap kasih sayang untuk istrinya tercinta, selalu siaga setiap saat Nilam membutuhkannya, bercinta dengan penuh pengertian dan perasaan. Satu kekurangannya, Raja selalu lupa ulang tahun Nilam. Buktinya, baru sekali Nilam mendapat kado ulang tahun, di tahun kedua pernikahan mereka. Itu pun dengan diawali adegan merajuk Nilam karena Raja benar-benar lupa ulang tahunnya.



Raja tumbuh dalam keluarga yang tidak terlalu mementingkan perayaan-perayaan selain hari raya, sedangkan Nilam dibesarkan dalam segala rupa perayaan. Perbedaan sepele yang ternyata sering menjadi masalah saat waktunya tiba. Nilam tak pernah lupa menyiapkan makan malam istimewa dan kado untuk Raja setiap tahun. Awalnya Nilam melakukan hal itu tanpa pamrih, semata karena rasa cintanya pada Raja. Tapi lama-kelamaan, Nilam benar-benar berharap kalau Raja akan membalas perlakuan istimewa di hari ulang tahunnya itu dengan, sedikitnya, tidak lupa hari ulang tahun Nilam. Percuma saja. Raja selalu lupa. Sekali lagi, alasannya adalah karena dia tak pernah terbiasa dengan perayaan.

Tahun ini, ulang tahunnya yang ke-11 dalam tahun pernikahan mereka. Nilam tahu, kalau dia menginginkan sesuatu, maka hanya ada satu cara untuk mendapatkannya, bicara langsung pada Raja.

“Besok aku ulang tahun, ya…Aku mau kado!”

“Hm? Oh, iya ya? Kamu mau apa?”

Nilam suka kado dan terlebih dari itu, dia menyukai efek kejutan saat membuka kado di setiap ulang tahunnya. Jadi sebenarnya tak masalah baginya, apa kado yang akan diberikan Raja untuknya, asalkan dia tidak tahu sama sekali apa itu sampai ia membuka bungkusnya. Ekstasi kejutan itu yang membuat Nilam menjadi pecandu perayaan, khususnya ulang tahun.

“Lho, ya terserah kamu! Kalau aku yang minta, itu namanya bukan kado, tapi minta dibeliin!”

Raja menarik nafas. Nilam kadang seperti seorang gadis kecil yang hidup dalam tubuh perempuan dewasa. Dia bisa menjadi kekanak-kanakan untuk hal-hal tertentu. Perayaan ulang tahun dan kado ini contohnya. Selain menjadi gadis kecil, Nilam juga bisa berubah menjadi gadis remaja jika sudah membicarakan artis idolanya, sampai sekarang. Dia akan dengan sangat bersemangat bercerita tentang lagu terbaru idolanya lengkap dengan kronologis pembuatan video klip sampai kehidupan pribadi sang idola.
Adalah Armando Zulman, penyanyi terkenal ibukota, sang idola istrinya tercinta.

Beberapa minggu yang lalu, kantor tempat Raja bekerja mendapat job untuk pembuatan sebuah iklan garmen, dan Armando adalah si bintang iklan yang ditunjuk oleh pemilik usaha garmen tersebut. Baru seminggu yang lalu Raja bertemu muka dengan idola Nilam itu.

Jujur saja, Raja sama sekali tidak terkesan dengan penampilan si penyanyi terkenal itu. Dilihat-lihat dari postur tubuh, mereka hampir sama, walaupun Raja sedikit lebih pendek dibanding Armando. Wajah pun, walaupun mereka memiliki perbedaan dalam beberapa bagian, rasa-rasanya sama saja gagahnya. Mungkin bedanya, Armando sedikit lebih terawat dibanding Raja. Tentu saja, dia kan artis! Raja merasa seperti sedang mengelus-elus egonya ketika akhirnya dia bisa bertemu langsung dengan idola istrinya itu.

Bagaimana ya kira-kira reaksi Nilam kalau dia bisa bertemu dengan laki-laki ini? Sampai sekarang Nilam belum tahu kalau Raja sedang bekerja sama dengan Armando. Entah apa penyebabnya, beberapa hari dalam seminggu ini Nilam seperti selalu menampakkan wajah kusut dan bad mood setiap berhadapan dengan Raja. Sepertinya dia memang serius sekali dengan ancamannya jika sampai Raja lupa ulang tahunnya lagi tahun ini.

“Aku akan pulang ke rumah orang tuaku, dan kamu harus jemput aku dengan orang tuamu, dan minta maaf di depan mereka!”

“Jangan gila, Lam! Urusan sepele kayak gini sampai harus bawa-bawa orang tua kita? Lebay!”

“Lebay itu adalah kalau suami tidak pernah ingat ulang tahun istrinya! Iya, LE-BAY! BER-LE-BI-HAN! KE-TER-LA-LU-AN! Sama, kan?” Tukas Nilam dengan puas lalu berlalu dari hadapan Raja sambil mengibaskan rambutnya.

Pagi itu, sehari sebelum ulang tahun Nilam, Raja berdiri di dekat mobilnya di lapangan parkir kantor. Menatap sebuah Kijang Innova berwarna abu-abu yang terparkir di seberang mobilnya. Armando Zulman keluar dari mobil itu diikuti oleh pandangan mata memuja beberapa karyawati yang kebetulan berpapasan dengannya. Entah efek apa yang menempel pada selebriti-selebriti ini, sesaat Raja seperti melihat Armando berjalan dalam gerakan perlahan seperti dalam sebuah adegan film. Dan demi Tuhan, efek itu berhasil membuatnya tampak sepuluh kali lebih gagah dari biasanya. Sialan!
Wajah Nilam tiba-tiba melintas dalam benaknya. Nilam dengan mulut menganga menatap Armando berdiri di hadapannya. Matanya tak berkedip. Nafasnya tertahan dalam hitungan menit. Lalu dia akan berpaling pada Raja dengan pandangan…penuh rasa terima kasih. Dan kemudian berlari memeluknya.

Astaga! Astaga! Raja tahu kado apa yang akan diberikannya pada Nilam. Demi Tuhan, ini tak akan pernah dilupakan istrinya seumur hidup! Dan mungkin untuk tahun-tahun berikutnya Nilam akan memaafkannya jika kembali melupakan hari ulang tahun istrinya itu. Brilian!

Hari itu Raja mengatur pertemuan pribadi dengan Armando di ruangannya. Semua jadwal syuting akan diundur dua hari dari yang harusnya take besok. Ada sesuatu yang lebih penting dari pengambilan gambar iklan yang sudah hampir jatuh tempo itu. Raja pulang dengan perasaan puas. Nilam tak akan pernah berhenti berterima kasih kepada dirinya.
Keesokan harinya Raja berangkat kerja lebih pagi. Ada pekerjaan penting yang harus diselesaikannya hari itu. Raja bahkan tak sempat sarapan bersama Nilam. Begitu pakaiannya terpasang dengan sempurna, Raja langsung menyambar handphone yang masih tersangkut di charger-nya dan meluncur masuk ke dalam mobil. Nilam tak sempat berteriak memanggilnya. Raja benar-benar seperti dikejar setan pagi itu. Nilam sungguh-sungguh berharap, semoga Raja terburu-buru karena sibuk mempersiapkan kejutan untuk dirinya hari ini.

Sesampainya di kantor, Raja langsung menghubungi Armando. Lama sekali teleponnya tidak diangkat oleh artis terkenal itu. Raja nyaris membanting handphone-nya karena kesal. Akhirnya Armando mengangkat telepon darinya setelah beberapa kali berbunyi.

“Ya, mas Raja. Saya sudah on the way, nih! Jadi kan rencana kita?”

“Kok pake nanya lagi? Ya, jadi dong, seperti rencana awal!” jawab Raja dengan ketus.

Armando menjauhkan handphone dari telinganya, lalu menatap handphone itu sambil mengernyitkan dahinya, seolah-olah Raja bisa melihat mimik wajahnya saat itu. Benar-benar manusia aneh! Bukannya Raja yang memohon-mohon pada dirinya untuk bisa ikut memberikan kejutan di hari ulang tahun istrinya itu? Andai saja Armando tidak memikirkan dampaknya pada karirnya ke depan, ingin sekali dia menolak permintaan Raja. Tapi mengecewakan penggemar bagi orang terkenal seperti dirinya sama saja menenggelamkan karirnya secara perlahan. Apalagi kalau penggemarnya itu ada hubungan kerja dengan dirinya. Walaupun tidak secara langsung, tapi Armando cukup terkesan dengan cerita Raja tentang bagaimana istrinya begitu memuja dirinya selama ini. Ah, biarlah, cuma sebentar, kok, hiburnya dalam hati.

Armando sudah berdiri di depan pintu rumah Raja dan bersiap mengetuknya. Seikat bunga yang dibelinya dalam perjalanan tergenggam di tangan kiri yang disembunyikannya di balik punggung. Armando mengetuk dengan pasti.

Nilam berdiri terpaku di depan pintu rumahnya yang terkuak setengah. Tak percaya sama sekali kalau sosok itu yang sedang berdiri di hadapannya. Rahangnya turun beberapa sentimeter, matanya tak berkedip sedikit pun.

“Armando?” ujarnya dengan suara serak.

Armando berusaha memberikan senyumnya yang paling manis. Walau bagaimana, perempuan di hadapannya ini adalah penggemarnya.

“Happy birthday, Nilam…” kata Armando sambil menyerahkan bunga di tangannya.

“Ya Tuhan! Ini beneran kamu? Armando?” Nilam masih butuh ketegasan, agar dia benar-benar yakin kalau dirinya tidak sedang berhalusinasi.

Bagaimana pun, pagi ini benar-benar pagi yang absurd baginya. Sepagian dia berharap-harap cemas, menanti-nanti apakah suaminya ingat hari ulang tahunnya. Lalu selama dia mandi tadi sibuk memikirkan kejutan apa yang akan diberikan Raja pada dirinya. Dan sekarang Armando Zulman berdiri di hadapannya dan memberikan seikat bunga untuk ulang tahunnya?

Bunyi lagu yang dibawakan oleh Armando tiba-tiba terdengar. Nilam dan Armando sama-sama terkejut mendengarnya. Ternyata handphone Armando yang berbunyi. Nilam mengerutkan keningnya sedikit. Agak aneh juga dia memakai lagunya sendiri untuk nada dering handphone-nya itu. Bagi Nilam, itu terlalu narsistik. Mendadak rasa sukanya pada Armando sedikit menciut. Ah, ternyata artis di mana-mana sama saja. Memuja diri sendiri. Padahal kalau dilihat-lihat di infotainment, Armando tampaknya seperti laki-laki yang rendah hati dan cool. Nilam menelan ludah.

“Halo!”

“Aku udah di sini, mas!”

“Lho? Kok malah nanya? Aku udah di rumahmu…”

Armando mematikan handphone-nya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Di kantor, Raja mematikan handphone-nya sambil memukul dahinya dengan keras.

“Astagaaa! Nilam ulang tahun! Dan aku lupa! Dan artis sok ganteng itu ingat sama janjinya? Mati akuu!” teriaknya sendiri di dalam ruangan besarnya itu.

Raja menarik-narik rambutnya dengan gemas. Satu-satunya alasan dia berangkat terburu-buru pagi ini adalah karena yang ada dalam pikirannya adalah hari ini adalah hari pertama shooting untuk iklan yang akan dibintangi oleh Armando. Itu sebabnya dia begitu cerewet memantau sudah sampai di mana penyanyi terkenal itu. Dan dia sama sekali lupa kalau kemarin mereka sudah sepakat untuk memberikan kejutan di hari ulang tahun Nilam dan mengundur waktu shooting sehari ke depan.

Nilam dan Armando sudah duduk di ruang tamu. Nilam diam mendengarkan penjelasan Armando tentang keanehan sepagi itu. Mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti sambil matanya tak lepas mengamati kebiasaan Armando yang setiap lima detik membenahi letak rambutnya itu. Nilam hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar melihatnya. Penyanyi idolanya itu terlihat sangat berbeda dari bayangannya selama ini.

“Jadi begitu, Lam…mas Raja minta aku datang untuk kasih kejutan di hari ulang tahunmu…” Armando menuntaskan laporannya. “By the way, kamu ada rencana apa sama mas Raja untuk merayakannya?” tanyanya lagi sambil mengoleskan lipbalm yang baru dikeluarkannya dari saku celana.

Dalam hati Nilam memaafkan Raja karena sudah melupakan hari ulang tahunnya hari itu. Dan akan memaafkan Raja untuk melupakan hari ulang tahunnya di tahun-tahun mendatang. Asalkan Raja tidak berpikir untuk mengirim artis ini lagi ke rumahnya. Benar-benar merusak image yang sudah terbentuk di kepalanya selama ini.

Nilam tidak menjawab pertanyaan Armando. Dia segera berdiri dan mengajak Armando keluar rumah.

“Tolong antar aku ke kantor suamiku!” katanya sambil tersenyum.

“Ow, romantis sekali!” Armando memekik dengan suara melengking yang belum pernah didengar Nilam selama ini.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…