Skip to main content

Ironis

"Pengumuman kepada penumpang kereta jurusan Bekasi - Kota yang baru saja tiba tadi...," suara itu terdengar menggema keras di penjuru stasiun kereta Kota. Bahkan terdengar ke dalam gerbong kereta yang tengah kunaiki saat ini. Aku mengalihkan perhatian dari koran yang kubaca dan memasang telinga mendengarkan apa yang selanjutnya akan diumumkan. Oh, mudah-mudahan tidak ada perubahan jadwal atau semacamnya karena posisi duduk yang sudah enak nih!

"Telah ditemukan Blackberry dalam bungkusan berwarna hijau. Jika ada yang merasakan kehilangan mohon segera menghubungi petugas..."

Oh, tidak ada hubungannya denganku jadi perhatian kembali kualihkan ke berita yang tengah kubaca sebelumnya. Tapi telingaku memang tidak bisa diajak kompromi untuk menutup diri dari suara-suara disekitarnya. Karena beberapa detik kemudian aku kembali kehilangan konsentrasi ketika mendengar celetukan dari para penumpang lain.



"Wah, orang itu pasti sudah kebanyakan duit sampai Blackberry-nya hilang tapi gak sadar...," kuperhatikan seorang pemuda yang mungkin masih duduk di bangku kuliah membicarakan hal tersebut dengan temannya. Temannya hanya mencibir ketika menanggapi bahwa jika ia yang menemukan pasti akan ia simpan sendiri.

Seorang ibu yang sedari tadi kukira telah terlelap tiba-tiba ikut nimbrung dalam pembicaraan tersebut,"Makanya bukan kamu yang kebagian menemukan...apa tadi itu namanya? Beriberi? Oh, blekberi? Apa sih itu? Oh, seperti handphone juga ya?" Aku masih memegang koran tersebut tapi perhatianku mulai teralih pada para penumpang tersebut. Aku melihat anak mahasiswa tersebut mengeluarkan Blackberry dari ranselnya dan memperlihatkan pada Ibu tersebut. Si Ibu memperhatikan sejenak dan dari raut wajahnya aku menebak. Ia pasti tidak mengerti apa istimewanya alat komunikasi tersebut dibandingkan...ahahh... Dia mengeluarkan handphone miliknya yang aku yakin itu pasti keluaran paling pertama. Ia baru terlihat terkejut ketika si pemuda tersebut menyebutkan harga dari Blackberry.

"Wah, mahal ya... Laku berapa tuh dijual lagi?" aku tersenyum mendengar pertanyaan sang Ibu. Berjiwa dagang rupanya padahal ia sepertinya tidak tahu fungsi alat tersebut dan kenapa harganya bisa semahal itu. Tapi komentar berikutnya membuatku lebih tersenyum lagi.

"Kok baek amat orang yang menemukan itu mau memberikan pada petugas?" cetusan Ibu itu langsung memancing komentar ramai dari lebih banyak lagi penumpang lainnya.

"Makanya saya bilang orang itu pasti kebanyakan duit, Buuu...," pemuda tersebut terlihat gemas dengan Ibu tersebut. "Baik yang kehilangan maupun yang menemukan..."

"Bener juga tuh, dik... Kalau saya yang menemukan, mendingan saya simpan aja... Lumayan buat dijual lagi...," seorang bapak ikutan menimpali. Ia lalu buru-buru menambahkan, hal itu akan ia lakukan kalau ia tahu siapa pemilik sebenarnya.

"Mungkin Blackberry yang orang itu temukan sudah rusak, makanya ia gak minat..." satu orang lagi mulai terpancing memberi komentar.

Aku menghembuskan napas dan mendapati rasa bosan meliputi diriku mendengarkan semua pembicaraan ini. Topiknya ternyata sama saja dari mereka semua yang sama-sama merasa heran. Mengapa ada orang yang begitu baik hati untuk berusaha mengembalikan barang yang tercecer kepada pemiliknya.

Ketika kereta sampai di stasiun berikutnya, aku pun bergegas turun. Kulangkahkan kakiku keluar dari stasiun tersebut dan setengah berlari menguber taksi yang kebetulan lewat. Sang supir menyapa ramah dan kusebutkan tujuanku kepadanya setelah membalas sapaannya. Lalu aku mengeluarkan handphone dan membiarkan jari jemariku menari memencet angka-angka.


"Halo, " aku menyapa sang penerima telepon dengan semangat. "Aku punya bahan cerita untukmu... Tentang kejujuran sebagai hal yang aneh..."

"Ironis," terdengar desah sang penerima telepon. "Ah, itu judul yang bagus walau aku tidak tahu apa bahan cerita darimu... Kita bicarakan saja nanti sore ya..."

Ya, aku tercenung sejenak ketika menyudahi pembicaraan tersebut. Ironis memang bahwa di masa sekarang adalah hal yang aneh ketika orang berbuat jujur. Ironis bahwa orang selalu mencurigai kejujuran yang dilakukan orang lain. Ironis bahwa orang selalu yakin bahwa orang pasti menginginkan imbalan atas perbuatan baiknya...

Sungguh ironis...

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…