Skip to main content

Lala Purwono, Writer's Block Itu Alesan!


Siapakah Lala Purwono itu? Aulia Fita Retnani Prabandari, demikian nama lengkap lajang berusia 31 tahun yang merayakan ultah setiap tanggal 12 Februari (lebih akrab dipanggil Lala) memulai petualangan menulisnya sebagai seorang blogger yang rajin menuangkan isi pikirannya secara reguler di blog Wordpress-nya yang beralamat di http://jeunglala.wordpress.com dan dari postingannya di blog itu lahirlah buku perdana Lala yang berjudul "The Blings of My Life" terbitan Grafidia di tahun 2008. 

Bagi yang rajin beredar di dunia perblog-an dan milis yang berkaitan dengan dunia menulis, mungkin tanpa kalian sadari kalian sudah pernah bersinggungan dengan penulis yang satu ini karena Lala rajin menyambangi beragam blog dan meninggalkan komentar di blog yang dikunjunginya. Sampai dengan saat ini, Lala sudah mempunyai beberapa buku lainnya di samping "The Blings of My Life", yaitu "Curhat Kelana", "Girl Talk" dan "A Million Dollar Questions", ketiga buku yang disebutkan terakhir semuanya diterbitkan secara indie. 

Terus terang saja, kami jadi penasaran dan bertanya-tanya: Bagaimana proses menulis kreatif seorang Lala Purwono? Siapa yang menjadi inspirasinya dalam menulis? Tema apa yang menarik buat Lala untuk dituangkan dalam bentuk fiksi? Karena itu kami pun nekad meminta waktu Lala Purwono untuk diwawancarai oleh Kampung Fiksi, dan gayung bersambut, Lala bersedia! Yaiy! 

Hari Jumat, 21 Oktober 2011, pukul lima sore, tim Kampung Fiksi pun berkesempatan melakukan LIVE! interview online via Twitter dengan salah satu penulis produktif ini. 


Ya, salah satu sebab kami memilih Lala Purwono sebagai salah satu penulis perempuan yang kami wawancarai selama menuju ke Hari Perempuan Menulis ala Kampung Fiksi adalah karena produktifitas dan semangatnya yang menggelitik kami semua di Kampung Fiksi. Dan ternyata setelah wawancara dengan Lala, pendapat kami berubah. 

Berubah bagaimana? Penasaran kan? 

Begini ceritanya: Lala mulai menulis sejak ia masih duduk di Sekolah Dasar, yang dengan bercanda ia katakan bahwa semua itu disebabkan karena ia dibesarkan oleh ayah yang doyan menulis dan computer yang menganggur. Wah, bener-bener lingkungan yang sungguh mendukung. 

Setelah buku pertamanya diterbitkan di tahun 2008 barulah Lala berani menyebut dirinya penulis. Namun menurutnya juga, blogger aktif pun adalah penulis. Bukankah ketika aktif menulis mereka mencurahkan waktu untuk tulisan mereka? Begitu pendapat Lala, keren ya?! ;) 

Walaupun sibuk dengan pekerjaannya, tapi sesampainya di rumah ia menyediakan waktu eksklusif untuk menulis. Meski waktu yang disediakan itu hanya 1 jam dalam sehari, yang penting adalah komitmen. Ehm, sudah mulai mendapatkan kata kuncinya? 

Di novel terbaru yang ia kerjakan bersama blogger Ryu Deka, berjudul “A Million Dollar Question”, berkisah tentang cinta dan hidup yang selalu dikelilingi oleh pertanyaan-pertanyaan. Buku itu selain memberikan pesan pada pembacanya bahwa kita harus bisa mengambil keputusan dalam hidup juga membawa pesan moral pada proses penulisannya. Karena ditulis berduet dengan blogger lain, artinya Lala harus benar-benar commited dari awal sampai selesai. Awalnya mereka tidak saling mengenal sampai ajakan menulis bareng dilontarkan oleh Lala dan ternyata gayung bersambut. Lala merasakan serunya menulis bareng itu.

Lala yang berdomisili di Surabaya dan Ryu Deka yang bertempat tinggal di Yogyakarta, memanfaatkan teknologi untuk menjalani proses menulis bersama teresbut. Mereka menulis bergantian dan saling berkirim email. Keduanya berkomitmen sejak awal penulisan, kerjasama ini harus rampung menjadi novel. Sehingga, setiap kali ada yang mulai longgar mood menulisnya, yang satu akan menyemangati. Buat Lala, this process was exciting! Tidak disangka oleh mereka berdua buku tersebut bisa selesai dalam waktu sebulan. Memang dibutuhkan komitmen yang luar biasa untuk proses menulis bersama selama sebulan penuh, dibantu dengan gaya menulis mereka yang mirip. Namun bagi Lala, kalaupun berbeda justru prosesnya akan lebih menarik. Wow, sungguh-sungguh seorang penulis yang menyukai tantangan Lala Purwono ini.

Menulis novel bareng dan selesai dalam sebulan? Amazing! Tapi, ada yang lebih menakjubkan lagi. Ternyata, Lala pernah menyelesaikan novel dalam waktu 12 jam. Astaga! Apa yang mendorongnya hingga sanggup melakukan hal tersebut? Hanya satu: NIAT! 

Walau novel yang ia selesaikan dalam waktu nonstop 12 jam itu belum ia publikasikan, tapi hal tersebut adalah bukti kalau menulis itu tergantung niat. Ketika kami singgung tentang writer's block, dengan gamblang Lala menanggapi, "Writer’s block itu alesan!" (Aduh, tertohok nih…). 

Masih belum puas, kami bertanya lagi, bagaimana dengan mood, yang juga sering sekali menjadi alasan klasik para penulis? Ada suatu masa dimana Lala menulis di saat mood sedang baik. Namun, Lala kemudian menyadari bahwa untuk menjadi penulis professional, Lala harus mengubah mood-nya agar selalu baik. Benar juga ya? Kalau bad mood terus dipertahankan lalu kapan kita akan mulai menulis? Ia memberi usul bagi para penulis yang moody agar mencari tahu hal-hal apa yang dapat memperbaiki mood mereka. Misalnya dengan jalan-jalan, nonton film, ngopi, mendengarkan musik… Apa saja! Jadi memang harus kita sendiri yang mencari tahu bagaimana membangkitkan semangat menulis itu di kala mood sedang jelek. 

Menulis itu komitmen, demikian Lala menegaskan. Seperti layaknya orang menikah. Kalau ada masalah bukan berarti lalu ditinggalkan. Tapi harus dicari jalan keluar dari masalah tersebut. Jangan menyerah dan berhenti menulis hanya karena mood sedang jelek. 

Sampai sekarang buku yang berkesan bagi Lala dan membuatnya cinta menulis adalah Bermain-main dengan Cinta, kumpulan cerpen Bagus Takwin. Sedangkan dari novel-novel yang sudah ia hasilkan, tokoh dalam bukunya yang paling ia sukai adalah tokoh Kelana. Tokoh ini ada dalam bukunya yang berjudul Curhat Kelana yang ia terbitkan lewat Indie Publishing : Nulis Buku. Menurut Lala, tokoh itu betul-betul mewakili dirinya: bawel, insecure dan romantic

Kegemaran Lala menulis tema-tema cecintaan adalah karena cinta merupakan hal yang universal. Bisa dinikmati oleh siapa saja dan semua orang pernah merasakannya. Dan, ia sangat berpengalaman dalam hal tersebut. Ehm. 

Walau buku pertamanya di terbitkan lewat Grafidia namun belakangan ini Lala lebih sering menerbitkan bukunya secara online. Baginya lebih mudah menulis via self publishing dan mengerdarkannya secara online. Serta menurutnya malah menghasilkan lebih banyak, tentunya tergantung pada kemampuan pemasaran dari penulisnya juga. Ia menginformasikan bahwa ada penulis best seller yang memilih self publishing serta dijual secara online. Dengan market base yang luas, nama yang populer maka hal ini lebih menguntungkan. 

Lala senang bermain-main dalam fiksi karena ia bisa bebas menyelipkan kisah hidupnya sendiri. Dan ketika ketahuan oleh orang lain, maka ia hanya menjawab pendek: FIKSI kok! Ternyata, banyak pengalaman pribadi yang ia tuliskan di cerpen-cerpen/novel-novelnya. Bukankah enak menjadi penulis fiksi? Sungguh, Lala adalah penulis yang inspiratif! Ia menyadarkan kami bahwa keinginan menulis itu harus didukung oleh niat dan komitmen yang tinggi. Jangan mundur karena halangan yang ada, misalnya mood yang sedang jelek. Tetaplah melaju dengan konsisten dan lakukan yang terbaik. Niscaya, hasil terbaik pun akan kita peroleh.

Thank you Lala Purwono! You are our inspiration to be better in writing

*** 

Berikut petikan wawancara LIVE! Kampung Fiksi dengan Lala Purwono melalui Twitter (thanks Twitter!). Selamat menikmati. 

Sejak kapan mulai menulis dan menentukan untuk jadi penulis? 

Mulai menulis sejak SD, dibesarkan ayah yangg doyan menulis dan komputer angg nganggur :) Berani disebut penulis sejak tahun 2008. 

Tahun 2008? Oh, sejak buku "The Blings of My Life" terbit? 

Iya. sejak buku pertama terbit, saya berani bilang kalau saya penulis. Padahal sebetulnya, blogger aktif pun disebut penulis. 

Wah, ini berita bagus bagi para blogger karena masih banyak yang menganggap penulis itu hanyalah mereka yang telah mempunyai buku yang telah diterbitkan padahal sesuai dengan perkembangan teknologi, hal-hal yang dibagikan para blogger melalui tulisan mereka pun terbukti bermanfaat dan banyak disukai oleh yang membaca postingan mereka. 

Blogger juga menulis, kan? Ketika ia aktif ngeblog, artinya mencurahkan waktu untuk tulisan, bukankah itu penulis? 

KF *manggut2 setuju* Saat ini Lala khan masih bekerja full time ya, bagaimana caranya membagi waktu antara kerjaan dan menulis? 

Saya menyediakan waktu eksklusif untuk nulis. Gak usah banyak-banyak, cukup 1 jam sehari, tapi committed. Saat sudah di rumah, tentu. 

Ahh, berbicara mengenai komitmen, apakah Lala termasuk penulis yang bergantung pada mood? Jika ya, bagaimana mengatasinya? Jika tidak, apa saran Lala untuk para penulis moody? 

Nah, itu kenapa saya bilang nulis itu komitmen. Jangan menyerah dan berhenti menulis cuman karena mood jelek. Tuntaskan yang sudah dimulai! Tadinya saya menulis saat mood baik. Tapi ketika ingin jadi penulis profesional, saya harus mengubah mood agar selalu baik. 

Mengubah mood agar selalu baik, heyy.. itu prinsip yang bagus sekali! Jadi saran Lala untuk penulis moody? 

Buat penulis yang moody, sebaiknya mencari tahu apa mood booster-nya. Jalan-jalan, nonton film, ngopi, dengerin musik. Anything! Nulis itu kayak nikah. Kalau ada masalah, bukan ditinggalin, tapi dicari jalan keluarnya. 

Berbicara mengenai menikah yang mana harus ada pasangannya, novel terakhir yang kamu keluarkan itu novel duet ya? 

Saya menulis berdua dengan Ryu Deka. Kebetulan kami sesama blogger. Gak pernah kenal sebelumnya tapi nekat nulis bareng. Seru! 

Wah, sebelumnya tidak saling mengenal? Kenapa bisa menulis novel duet bersamanya? 

Kenapa Ryu Deka? Karena gaya tulisan kami mirip, kata teman-teman. Saya penasaran. Dan ngajak dia nulis bareng. Eh, dia mau :) 

Menurut Lala sendiri, apa gaya tulisan kalian memang mirip? 

Kebetulan gaya kami mirip. Kalaupun gaya kami beda, justru menarik. 

Kalian khan tinggal beda kota, gimana cara menulis novel duetnya? 

Karena saya di Surabaya, Ryu Deka di Jogja, kami memanfaatkan kecanggihan teknologi. Nulis bergantian, saling berkirim email. Komitmen awal : harus jadi novel. Setiap ada yang mulai longgar mood-nya, yang satu menyemangati. It was exciting! Proses nulis sebulan penuh. Memang komitmennya luar biasa.Dari proses penulisannya juga ada pesan moralnya. Dengan menulis secara duet, artinya saya musti committed dari awal sampai selesai. 

Wooww.. hanya sebulan kalian telah berhasil menghasilkan novel duet? 

Kami juga ngga nyangka, lho. Alhamdulillah bisa beres dalam 1 bulan. Dulu pernah nulis novel dalam waktu 12 jam full. Niat :) 

12 jam sudah jadi novel?! Astagaa.. kamu pasti bikin iri para penulis yang mengalami kebuntuan ide! 

Novel yang 12 jam belum saya bukukan. Tapi itu bukti kalau menulis itu tergantung niat. Writer's block itu alesan :) 

Hahaha.. pasti banyak yang merasa tertohok membaca yang satu ini :)) Ngomong-ngomong, buku "A Million Dollar Questions" itu tentang apa ya? 

Sederhana saja. Tentang cinta. Tentang hidup yang selalu dikelilingi oleh pertanyaan dan kita harus bisa mengambil keputusan. 

Membaca buku-buku Lala, sepertinya tema yang diangkat itu seringkali tema yang menyangkut cinta ya. Ada alasan khusus mengapa Lala lebih memilih tema cinta dibanding tema lainnya? 

Cinta itu bisa dinikmati siapa aja. Semua orang pernah merasakannya. Universal, dan saya berpengalaman banget soal itu! Haha. 

Hohoho.. berarti banyak cerita yang diangkat dari pengalaman pribadi dong? 

Asyiknya bermain fiksi adalah saya bebas menyelipkan kisah hidup saya sendiri. Saat ketahuan, dalih saya simpel: fiksi, kok :) Dan saya kasih tahu ya, banyak pengalaman pribadi yang saya tuliskan di cerpen-cerpen ataupun novel-novel saya. Enak, kan, jadi penulis fiksi? :) 

Wah, Lala udah buka rahasia nih, haha.. oh iya, ngomong-ngomong, dari semua novel yang pernah Lala buat, siapa karakter yang paling Lala suka, dan kenapa? 

Saya suka tokoh Kelana, ada di buku "Curhat Kelana" yang diterbitkan via Nulis Buku . Karena dia mewakili saya banget. Bawel, insecure, dan romantis :) 

Hohoho, para pembaca sekalian, lagi-lagi Lala buka-bukaan nih via interview di KF :)) Mengapa memilih self-published and menjual secara online? 

Selain mudah, menulis via self-published dan edar secara online itu menghasilkan lebih banyak. Tergantung kemampuan marketing, sih. Ada penulis bestseller yang memilih self- published dan dijual online. Dengan market base yang luas, nama yang populer,ini lebih menguntungkan. 

Pertanyaan terakhir nih, Lala, buku apa yang sangat menarik buat Lala? 

L : Buku yang membuat saya cinta menulis adalah "Bermain-main Dengan Cinta", kumcer Bagus Takwin. Masih terkesan sampai sekarang. 

Demikian wawancara kami dengan Lala Purwono, terima kasih atas waktu yang telah diluangkan ya, Lala, dan semoga sukses dengan penjualan buku dan pastinya kami menantikan novel-novel selanjutnya dari penulis yang mempunyai moto, "Life is a big.. huge.. gigantic.. mammoth-like.. a massive roller coaster. Dare to ride?" 

Nantikan wawancara kami dengan penulis lainnya hanya di Kampung Fiksi. Sampai jumpa. 

Pewawancara: Ria Tumimomor & Sari Novita. Penyusun artikel: Ria Tumimomor & Indah Wd. Editor: G.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…