Thursday, October 20, 2011

Monolog Hati


Aku selalu beranggapan kalau dia itu memang mahluk yang paling menyebalkan. Kesan sombong dan angkuh selalu terbawa dalam setiap sapanya. Meski begitu, dia tidak pernah kesepian. Teman-temannya selalu mengelilinginya.. Penampilannya sangat oke memang. Tak heran, banyak wanita saling berbisik bila dia datang atau lewat dihadapan mereka, meskipun dia selalu menggandeng seorang wanita cantik yang setia mendampinginya.

Yang heran, kenapa pula aku bisa berkenalan dengannya? Memang perkenalan kami ini suatu kebetulan, bahkan ketidaksengajaan kalau bisa kuanggap. Karena dari sejak awal pertemuan, tidak pernah ada niatku untuk mengenalnya. Apalagi dia. Manalah sudi memalingkan tatapannya padaku. Aku hanya kasir di sebuah café yang selalu laris dikunjungi anak jaman. Pekerjaanku menuntut ketelitian, karena kalau tidak, bisa-bisa gajiku habis dipotong hanya demi membayar ketidaktelitian tersebut. Maka dari itu, aku selalu serius dalam bekerja.

Oh ya, bagaimana perkenalanku yang tak sengaja itu bisa terjadi? Sebenarnya cukup sederhana. Dia pelanggan di café tempatku bekerja. Kantornya ada diseberang jalan, sehingga praktis setiap jam makan siang dia akan ada dihadapanku. Dan karena aku kasir, tentunya dia akan sering kontak denganku saat membayar. Tapi, bukan itu yang kumaksud dengan berkenalan. Semua itu gara-gara dia salah memberikan kartu kredit untuk transaksi pembayaran. Kartu dengan nama orang lain yang kukira adalah namanya sendiri yang diberikan padaku. Proses pendataan ke kartu kredit tadi sudah berlangsung, dan slip segera kuserahkan untuk kumintakan tanda tangannya. Saat itu dia melihat kesalahan nama pada kartu kredit tersebut. Dia memprotesku, mengapa bisa lalai menjalankan transaksi dengan kartu yang bukan miliknya.

“Maaf, nama anda yang sebenarnya saja saya tidak tahu. Mana saya tahu kalau itu kartu yang salah?” Aku membela diri.

“Wah, nggak tahu namaku? Nggak gaul sekali sih! Kenalkan, namaku Topan Pambudi. Panggilan Topan. Mohon diingat-ingat ya!”

Duuh gayanya itu benar-benar membuatku semakin muak dengannya. Sambil bersungut-sungut aku bereskan semuanya. Begitulah, perkenalan yang tidak disengaja itu terjadi dengan meninggalkan kesan buruk. Bisa dibayangkan setiap kali dia datang, bad mood bagiku seharian.

Berbulan-bulan memendam rasa sebal yang berlebih ternyata justru menyakitkan buatku. Dan pada satu titik jenuhku, justru semua berbalik menyerangku. Entah apa akan kusebut untuk menjabarkannya.

Lama kelamaan, aku mengerti betul kebiasaannya. Bagaimana dia memperlakukan pasangannya dengan penuh perhatian dan tulus. Akupun sering memperhatikan bagaimana dia begitu tulus membantu teman-temannya dikala perlu pertolongan. Masih seujung kuku yang kuketahui tentangnya. Mengingat hanya kisaran kecil yang terjadi dilingkup kerjaku.

Dan, seperti sudah terskenario, justru aku berkesempatan berkenalan lebih dekat dengannya hanya gara-gara ponselnya tertinggal di kasir. Aku sendiri masih kebingungan melihat sebuah ponsel tergeletak di dekat mejaku ketika bunyi deringnya nyaring terdengar. Dan begitulah, kenyataanya. Tanpa kusadari awalnya, kami sudah bertukar nomor dan kemudian berlanjut sekedar mengirim pesan pendek mengenai pemesanan makanan untuk diantar ke kantornya.

Oke, oke… belum cukup hanya sampai disana, kenyataan lain yang kulihat adalah kepribadiannya yang bertolak belakang dengan impresi awalku padanya. Dia begitu angkuh dan sombong manakala aku tak mengenalnya, namun berbalik 180 derajat pandanganku berubah setelah mengenalnya.

Kesombongan dan keangkuhannya hanya sebuah kedok dari kebaikan hatinya yang tulus. Ternyata selama ini banyak yang salah mengartikan kebaikannya, sehingga banyak yang tertarik padanya. Itu yang membuat dia terlihat sebagai seorang playboy.

Kenyataan lainnya yang membuatku sangat galau adalah bahwa dia tengah jatuh cinta. Itu terungkap dari obrolan kami yang semakin intens. Benar, tanpa disadari kami sudah menjadi akrab. Jangan tanya darimana keakraban itu. Semua mengalir begitu saja, saat aku sudah membuang jauh semua prasangka awalku.

Kataku, bagaimana mungkin dia jatuh cinta pada orang lain sedangkan saat itu dia sudah memiliki kekasih. Dia tak menyangkal kalau wanita yang selama ini bersamanya adalah kekasihnya. Namun, dia juga tak bisa menyangkal bahwa perasaan cinta yang tiba-tiba muncul itu lebih kuat. Mendorong ke setiap sisi hatinya hingga tak mampu berpikir lagi.

Saat dia menceritakan semua ini, entah mengapa ada yang berdesir aneh didadaku. Seperti tak sanggup aku mengetahui ungkapan perasaanya pada wanita pujaannya itu. Yang selalu ada dalam ingatannya, tentang kelembutan dan kesederhanaanya.

Dan kini kutanyakan pada hatiku, apa yang terjadi?. Menyebut namanya saja sudah membuat hatiku berdebar kencang. Mungkin itu yang dinamakan jatuh cinta. Tapi, apakah benar aku telah jatuh cinta kepadanya? Hatiku mengangguk. Namun kepalaku tak sanggup kuangkat.

Tapi, manakala aku bersiap untuk menuruni tebing terjal hati, dengan satu bisikan lembut dia seakan menerbangkanku ke awang-awang

“Kamulah wanita itu…!”

***
- Photograpy by: Emanuel Kristian Zebua