Skip to main content

Sesuatu Tentang Teras Rumah Itu..


Gue punya kamar di lantai 2 dan ada kaca besar, tinggi dan tidak tembus pandang-orang dari luar dipastikan tidak bisa melihat ke dalam kamar gue ini. Di sinilah gue bebas memandang teras rumah tetangga gue, tepatnya di depan rumah gue. Ada seseorang yang membuat gue betah berlama-lama memperhatikan dirinya sekaligus apa yang terjadi di teras itu. Sejak kepindahannya di kavling ini, gue mulai sering berdiri di depan kaca kamar memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Awalnya dia tidak begitu suka berada di teras rumahnya. Dia hanya melewati untuk keluar dan masuk saja, tidak pernah sebentar pun duduk di kursi kayu yang ada di teras itu. Apalagi untuk menyiram taman mungil di rumahnya, jangan harap dia melakukan itu. Bagi gue, dia tidak begitu cantik, sedikit manis, tapi menarik. Entah apa yang membuat dirinya menarik. Dibandingkan istri gue, wah jauhhh. Istri gue lebih cantik dan anggun, sedangkan dia wanita cuek plus tomboy yang pernah gue lihat seumur hidup gue. Terus terang aja nih gue ngak pernah suka tipe wanita seperti dia, namun lagi-lagi gue ngak ngerti kenapa gue sampai terbius untuk memantau seputar dirinya, dan ini rutin gue lakukan setiap hari.
Sampai pada suatu hari sekitar sebulan lebih dia menempati rumahnya itu, teras itu mulai ramai diisi oleh teman-temannya. Setiap hari selalu gue lihat muka-muka yang berbeda di sana. Ada yang berpakaian kantoran dan ada pula yang berpakaian ala anak muda. Usia mereka rata-rata 30an. Ada yang datang hanya untuk mengantar dia pulang, lalu langsung pergi. Ada juga yang berkunjung hingga larut pagi. Mereka selalu datang lebih dari 2 orang. Dan mereka pun selalu ramai, ceria dan tertawa. Mata gue pernah menangkap seorang pria datang ke rumahnya. Hanya seorang. Lima hari berikutnya, gue lihat lagi seorang pria dengan wajah yang berbeda, betah duduk lama di teras itu hingga pukul 3 pagi. Waktu itu gue menghitung kedatangan pria itu dari pukul 6 sore. Berarti pria itu duduk di teras selama 9 jam. 9 jam? Ini gila menurut gue, karena pas makan pun di lakukan di teras itu juga. Satu lagi yang bikin gue berpikir, apa tidak pegal duduk di kursi kayu antik berukuran kecil selama berjam-jam dan apa itu wanita tidak mengajaknya masuk, seperti yang dia lakukan terhadap teman-temannya. Oh, mungkin pria itu masih malu-malu, kali ya. Ah, gue ngak ngerti aja kenapa dia bisa betah selama itu. Dua hari kemudian, hadir lagi seorang pria dengan wajah yang berbeda dari dua pria sebelumnya.Alamak, ternyata wanita itu laku juga. Wah betapa bahagianya itu wanita, dikelilingi teman yang banyak dan pria-pria penggemarnya. Perasaan gue, dulu istri gue ngak begitu-begitu amat, lebih kece lagi.

5 Febuari 2012
Aha, pria pemilik bokong terkuat itu, terlihat telah menjadi pengunjung tetap rumah itu. Kali ini pria itu sudah berani masuk ke dalam rumah. Jam Rolex di tangan gue menunjukan 2 jam dia berada di dalam. Setelah itu dia duduk kembali di kursi keras itu. Dan lagi-lagi jam Rolex gue berhitung, 4 jam dia duduk di situ, ya setidaknya berkuranglah dari kemarin-9 jam. Selamat Anda sudah berhemat waktu-meringankan bokong Anda selama 5 jam. Kalimat ini gue catat di note gue. Hahaha. Lebih gila mana gue atau pria itu?

8 Febuari 2012

Atmosfir teras itu tidak enak dilihatnya. 3 lelaki teman wanita itu dan pria si bokong kuat, memang tidak sedang berperang, namun tampak sekali ada perang hati di antara mereka. Gue simak terus mereka di balik jendela besar gue ini. Gue kesel karena tidak bisa tahu apa yang mereka ucapkan.Asli gue penasaran. Tak lama 'Brilliant' kucing hitam gue lewat di depan mata gue. Senyum gue langsung lebar dan detik itu juga, gue ambil kalung merah di laci 'rahasia' gue. Lingkar kalung berwarna merah itu gue sesuaikan dengan ukuran leher Brilliant. Lengkap dengan bandulnya-juga berwarna merah, gw kenakan di leher Brilliant. Gue suruh Brilliant berjalan-jalan di rumah wanita itu. Brilliant pun segera keluar dari rumah gue. Tentu, senyuman gue makin lebar saja.

8 February 2012, Ups salah, ternyata sudah 9 Febuari 2012

Mata yang tadinya melemah menjadi lebih kuat daya watt-nya. Tidak perlu dipertanyakan lagi, mengapa gue menamakan kucing hitam gue itu, Brilliant. Hanya sedikit memberikan gerakan, Brilliant sudah mengerti apa yang gue maksud. Chip yang gue taruh di kalung Brilliant, gue pasang di laptop. Isi dari chip kamera itu yang membuat mata gue melotot hingga lupa hari sudah berganti,begitu juga tanggal turut berganti. Bagaimana tidak? Ternyata ada perang batin antara pria bokong kuat dan ketiga teman wanita itu. Rupanya si pria bokong kuat cemburu pada ketiga temannya itu. Cemburu. Hah? Berarti ada rasa di hati pria itu terhadap si wanita. Dan yang lebih mencengangkan, setelah ketiga teman wanita itu pergi, pria itu masuk ke dalam rumah dan di salah satu ruang-dimana kaca jendelanya berhadapan langsung dengan halaman belakang. Pria itu kagum akan koleksi pistol, dari pistol antik sampai yang tercanggih  milik sang wanita. Dari gaya pria itu memegang pistol, gue pastikan pria itu terbiasa dengan benda itu. Kartu identitas wanita itu terlihat jelas di atas meja dan tentu pria itu melihatnya. Kartu identitas yang menyebutkan wanita itu adalah seorang agen rahasia. Mata gue makin-makin melotot, ketika pria itu juga memperlihatkan kartu identitas yang sama. Selanjutnya adegan 17 tahun ke atas, mewarnai malam menjelang pagi itu. Sialannn...

Sungguh gue tidak suka situasi seperti ini. Dan kali pertamanya ada rasa sesal gue terhadap wanita itu dan rasa kagum gue berkurang minus tiga puluh.

10 Maret 2012

Satu bulan dari peristiwa itu, gue ngak pernah lagi melihat teman-teman wanita itu datang ke rumahnya. Baik yang bergaya kantoran, maupun bergaya anak muda. Ya, tak perlu heran, pria si bokong kuat dan wanita itu, lagi dilanda kasmaran berlimpah-limpah. Dan sekali lagi gue bilang, ini meresahkan batin gue. Kucing hitam gue, Brilliant, tetap memantau mereka, malahan wanita itu juga jatuh cinta pada Brilliant. Sehingga Brilliant bisa bebas masuk-keluar rumah wanita itu. Jadi wanita itu tidak hanya jatuh cinta pada manusia, dia juga jatuh cinta pada kucing. Memang jenis kelamin mereka sama, tapi bentuk tak serupa.

Untuk Brilliant gue beri bonus kucing betina berwarna putih atas hasil kerjanya yang luar biasa.
Untuk wanita itu gue beri hanya gelengan kepala gue saja dan umpatan terpendam.

15 April 2012

Pria itu mulai tampak jarang mengunjungi rumah si wanita. Teras itu jadi sepi dan gue kembali ke hobby lama, yaitu memandangi istri gue tertidur pulas dengan paras cantiknya.

 Chip kamera tetap bekerja dan lebih asyik lagi pekerjaan gue berkurang, karena sang wanita telah mendapat ijin dari istri gue, membawa Brilliant berjalan-jalan bersama pria itu.

Dan gue makin resah terhadap wanita itu.

30 April 2012

Kisah percintaan pria si bokong kuat dan wanita itu, selesai. Ya, selesai. Ya, selesai begitu saja.

11 Juni 2012 setelah makan siang

Tak ubahnya 15 tahun lalu, gue selalu mengeluarkan kemeja gue, berjaket kulit, jam Rolex, kaca mata hitam Cartier, jeans Armany, anting di lidah dan merokok cerutu. Kembali dari makan siang, gue memasang muka kencang. Kegaduhan di kantor pusat agen rahasia 'Moharcth' membuat gue terduduk di kursi sambil menaikan kedua kaki di atas meja dan merokok tanpa memperdulikan peraturan larangan merokok di dalam ruang kantor. Sambil merokok gue mainkan pion catur di meja kerja gue. Tak lama, wanita itu masuk ke ruangan gue dengan wajah pucat.

"Giselle tahu kenapa gue memanggil elu?" dimaklumkan saja bila gue selalu menyebut 'gue' dan 'elu' terhadap Giselle. Kita berdua sama-sama mempunyai setengah darah Indonesia dan setengah darah Rusia. Kehidupan masa remaja kita pun banyak dihabiskan di Indonesia, setelah itu gue dan Giselle belum pernah kembali ke Indonesia.

Giselle hanya menunduk dan terdiam.
Jujur gue tidak merasa iba pada wanita itu, Giselle. Oleh karena itu dengan tenang dan cuek gue berbicara pada Giselle.
"Kebodohan elu pertama adalah jatuh cinta. Sesama agen pula."
"Kebodohan elu kedua, membiarkan identitas elu terbuka."
"Kebodohan elu ketiga, khilaf membuat si bokong kuat itu sukses besar dengan bebas mendapatkan informasi rahasia kantor kita."
"Kebodohan elu keempat, elu tidak sigap, insting berkurang jauh, banyak mengeluarkan perasaan daripada logika, tidak konsentrasi. Dan semua ini mengakitbatkan target kita, pemimpin teroris itu, kabur sebelum kita menyergap tempat persembunyiannya."
"Dan kebodohan elu yang terakhir, jatuh cinta sekaligus memelihara patah hati. Melamun, menangis, tidak kerja, tidak tidur-tidur. Ck..Ck..Ck..Luar biasa, Giselle!"
"Dulu elu tidak seperti ini. Selalu bisa untuk tidak jatuh hati terhadap musuh-musuh kita, bahkan gue sempat menjuluki elu "wanita berlapis hati besi". Elu selalu pandai berpura-pura jatuh cinta pada pria-pria, lawan kita itu. Setelah elu bercinta bersama mereka, elu seperti lupa ingatan, seolah-olah elu tidak pernah bercinta dengan mereka."
"Gue selalu peringati elu untuk menjauh dari Damian, pria berbokong tahan lama itu. Gue selalu menyuruh elu mundurkan dari tugas ini? Elu mana bersikap keras dan menyakinkan gue bahwa elu bisa mengatasinya."
"Padahal teras yang elu buat itu, sudah sangat sempurna. Elu tata taman depan penuh bunga-bunga cantik. Elu berikan kursi antik ukiran Nusa Tenggara. Lampu temaram. Kolam kecil elu pelihara kura-kura Afrika. Elu pun pintar menyamar sebagai florist, padahal elu tidak pernah suka bunga dan menatanya."
"Sekarang, bagaimana menurutmu, Giselle?"
"Я ненавижу эту работу," air mata Giselle mengucur deras.

Giselle memandang gue lama, lalu dia pergi meninggalkan ruangan kantor gue.

14 Juni 2012 , malam bulan purnama

Giselle berdiri di teras rumah seraya menatap bulan purnama. Gue akuin bulan malam ini begitu cantik, pas sekali buat para kekasih. Giselle lama berdiri menatapnya, kemudian duduk merokok di kursi antik. Beberapa menit setelah itu, Giselle menarik nafas panjang dan pipinya basah oleh air mata yang diam-diam berjatuhan.

Gue memeluk erat Giselle dan mengecup  keningnya.
"So..Akan jadi siapa gue nanti?" tanya Giselle sembari berbisik di telinga gue.
"Ваше новое имя Sarita," gantian gue membisik di telinganya.
Giselle sedikit tersenyum, "Jadi gue belum boleh kembali ke tanah air?"
"Waktunya belum tepat, Nyonya Sarita. Berliburlah setahun. забыть обо всем этом. Упорядочить сердцах и душах. быть женщинам которые как вы хотите."

Meong...Meong...Brilliant bersama pasangan barunya menciumi kaki Giselle. Kita melepaskan pelukan. Giselle langsung menciumi muka Brilliant berkali-kali, ditemani wajah pacar Brilliant yang cemberut karena cemburu.

20 November 2012

Teras rumah itu tidak berubah. Rupanya tetap sama, taman kecil penuh bunga-bunga cantik, kursi antik, kolam kecil plus kura-kura-nya, dan lampu temaram. Gue tetap menyukai teras itu dan menatapnya dari kamar gue. Penghuni sekarang adalah wanita. Ya, wanita yang juga lagi jatuh cinta. Dan sumpah wanita-penghuni baru ini, bukan seorang mata-mata. Sumpahhhhh dia bukan anak buah gue....

Lucunya lagi, kekasih wanita itu juga memiliki bokong kuat. Oh ini pria kedua dalam hidup gue yang betah duduk berjam-jam di kursi kayu antik itu. Dan dari bantuan Brilliant, gue tahu profesi wanita itu ialah seorang motivator. Motivatorrrr?...Wuihhh. Kali ini gue berbeda- karena tidak bisa menebak, kisah cinta mereka berlanjut atau berhenti seperti nasib Giselle. Penghuni baru itu sama halnya dengan Giselle, perempuan tangguh, namun akankah sama, menyerah kleper-kleper di depan cinta?

Mungkin teras rumah itu sudah ditakdirkan sebagai tempat untuk jatuh cinta. Semoga kisah cinta kali ini tidak seperti pembuat teras rumah itu, dimana penciptanya Giselle sendiri.

***


* Я ненавижу эту работу : "Aku benci pekerjaan ini"
** Ваше новое имя Sarita : "Namamu akan menjadi Sarita"
*** забыть обо всем этом. Упорядочить сердцах и душах. быть женщинам которые как вы хотите. : "Susun hati dan jiwa. Jadilah wanita yang seperti kamu inginkan"

**** Jika ada pengejaan atau penulisan yang salah dalam Bahasa Rusia ini, harap Maklum.









Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…