Skip to main content

Stasiun dan Aku

gambar diunduh dari sini
Aku merasa seperti berada di sebuah stasiun tempat kereta-kereta terhentak dari lamunan lantas sejenak berhenti untuk mengukur jarak. Pada kepergian dan kepulangan, yang telah menjelma debu yang mencintai lengking peluit. Hidup ini, hidup kita, adalah titik persimpangan tempat bubarnya matahari. Kau bisa menandainya dari lambaian sapu tangan yang kusemat di ujung tiang utara.

Seharusnya aku sedari dulu mengerti. Stasiun bukanlah tempatku pribadi merekam adegan airmata atau derai tawa. Di sini, keberadaan bukanlah hal yang terlalu berarti. Kita pun entah sejak kapan menjadi tahu diri. Berbagi. Seperti ketika kau menyisihkan recehan untuk pengamen yang membuatmu tersenyam-senyum karena lagu yang dinyanyikannya membuatmu teringat pada suatu ketika, di masa lalu..


Aku merasa seperti berada di sebuah stasiun yang memetakan perjalanan hari. Tanganku menarik garis vertikal, horizontal dan diagonal, maka terciptalah sebuah rumah. Berdinding jadwal keberangkatan dan kedatangan. Beratap semesta. Sementara manusia-manusia berpapasan dan menawarkan sejuta satu apapun yang bisa kau imajinasikan, aku memilih berotasi saja di dunia kecilku, tempat bunga-bunga bertumbuhan dari daun telingaku dan di atas kepalaku. Oh, kubuat taman tempat bintang-bintang selalu berjatuhan seperti hujan yang gegap gempita menimbuni lubang yang berasal dari separuh jiwaku. Meski berkali-kali dan selalu setiap hari, masih saja aku mencintai ceritanya. Percaya pada keajaibannya. Pun ketika aku tidak mempercayai hatiku sendiri.

Aku merasa seperti dilahirkan dari rahim kereta-kereta yang beringsut bergerak karena memang seperti inilah adanya kereta-kereta: menciptakan sebuah perjalanan. Pada tiap keberangkatannya, kutitipkan sebuah tanya yang dilajukan bersama deru angin, “Kau lihatkah rinduku yang hilang entah kemana?”. Tapi, seperti rindu yang menjadi biru di langit dan di ransel para petualang yang mencintai kampung halaman, lagi-lagi aku menghilangkan jawabannya pada setiap lengking peluit yang memasuki stasiun.

Aku merasa berada di sebuah stasiun yang sama meski waktu terus berputar berkeliling, membentuk kumparan yang meluruhkan musim dan mengubah matahari, pelangi dan malam-malam yang berbeda. Aku pun bukan lagi gadis kecil yang menyerupa sejarah dulu. Di mataku bunga-bunga semakin merahmuda dan cinta menjelma sebaris kalimat yang dengan mudah kutemukan di televisi peron, buku-buku juga cerita-cerita manusia yang memilih melindungi hatinya. Dengannya, aku menghitung tunggu. Menjadi pencerita terhebat. Menjelajahi setiap kabar cuaca menelusuri setiap warna langit setiap debaran yang melambungkan setiap dongeng yang semakin jauh dan menidurkan.

Aku di sini saja. Tidak kemana-kemana. Menjaga agar waktu tetap bergerak bersama cinta.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…