Skip to main content

Surat Kepada Jum

jum (1)

kutulis surat pagi ini kepada burung-burung malam yang akan masyuk di sarang pagi, meninggalkan bening bulan dan airmata bintang, mengetahui secara pasti sebentar saja semua pupus oleh panas dan ganas surya. permainan manusia milik siang hari. mereka sadar sesadar-sadarnya takdir mempermainkan nasib. sementara itu manusia, dalam jumawa mereka paling mudah dipermainkan nasib.

di sanalah jum berada. sejak usianya pagi hingga kini menuju petang. ia berada dalam tangan nasib. hirarki paling rendah dalam kelompok tangga-tangga kehidupan. sehari-harian jum bekerja dengan tangannya yang ulet. berusaha memperbaiki nasib yang tetap malas menggelendoti punggungnya. ya di punggungnya nasib menggendongkan diri. membiarkan punggung itu melengkung bagaikan pelangi dengan hujan deras terus menerus.

jum (2)

aku tidak tahu. desah jum. dari bibirnya banyak sekali ketidak-tahuan yang didesahkannya. ia didera banyak sekali nyata tanpa keinginan untuk semakin bertanya. ia bertahan dari satu hidup ke masa hidup berikutnya, mengetahui dengan pasti betapa berat beban yang sudah disandangnya. ia sadar.

aku tidak mengenal pingsan. pingsan dan tidur adalah milik mereka yang punya waktu lebih untuk melakukannya. benar. jum bahkan tak punya waktu untuk menyandang sakit. sakit adalah luka menganga yang tak sembuh. sebuah ornamen yang dikenakannya di lehernya. dikalungkannya pada dadanya yang sudah keriput, air susu yang sudah pupus dan airmata yang kadang menggenang.

jum (3)

jemari-jemarinya kuat. jum tahu itu. jemarinya adalah tembok-tembok tegar yang menopang hidupnya. yang tak mampu dipatahkan oleh takdir maupun nasib. jum tahu itu.

jemari-jemarinya kokoh. jum tahu itu. jemari-jemarinya adalah bendungan. di sana air tenang dan dalam. di sana air tak mampu menghancurkan kota-kota kehidupan yang dibangunnya di atas kekumuhan nasib yang menggantungi nafasnya.

jum (4)

hari ini. adalah untuk hari ini. jum mengukur dua puluh empat bagian waktu yang membagi-bagi pagi, siang, petang, senja, malam, tengah malam dan subuh. ia bersujud di kaki-kaki waktu. tanpa menjadi hamba.

***

refleksi (1)

sudah berapa lama aku mengenal jum? sepertinya sudah selama-lamanya. padahal dia baru membaur dengan keluarga kami beberapa tahun belakangan. tepatnya lebih tua sedikit saja dari usia anakku umur perkenalan jum dan aku, karena dia masuk sebab sebuah kebutuhan baru tercipta dalam keluarga kami.

melalui tangan-tangannya yang kuat itu ia berbicara banyak dan mengenal masing-masing kami.

jum. pintu masuk yang membawa aku dalam pemikiran abstrak tentang nasib. karena nasib memang pada kenyataannya abstrak dan absurd. karena aku begitu terbatas untuk mengerti "kenapa". jum tidak repot dengan pertanyaan kenapa. dia hanya tahu berbuat apa. betapa esensialnya. betapa mendasarnya. betapa perlunya.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…