Skip to main content

Wajah Kematian

Gambar diambil dari sini
Topic starter : Kamis, 6 Oktober 2011 (1:03 pm)

Jika suatu hari nanti Kematian datang dan menyapa dirimu, bagaimana kamu akan menjawab panggilannya?

Apakah kamu akan menyambutnya penuh kehangatan dan rasa terima kasih karena ia akhirnya mengingat dirimu?

Ataukah kamu akan membujuknya supaya pergi menemui orang lain dulu dan diam-diam berharap setelahnya Kematian akan lupa untuk kembali menjemputmu?

Atau kamu sama sekali tidak peduli akan kehadirannya?

Pernahkah kamu membayangkan seperti apakah wajah Kematian itu? Apakah ia berjubah hitam tanpa wajah yang bisa kamu lihat ketika kamu menyibak tudungnya,tapi kamu bisa merasakan ada yang bergerak di bawahnya?

Terkadang aku membayangkan Kematian itu seperti seorang anak kecil yang suka bermain dan menyebarkan aura menyenangkan ketika berada bersamanya sehingga banyak orang yang datang mendekat dan ketika mereka tersadar wajah asli di balik keluguan wajah seorang bocah, segalanya telah terlambat karena mereka sudah tidak bisa lari dari cengkramannya.

Di lain waktu aku membayangkan Kematian itu menyamar sebagai wanita berparas cantik yang menebarkan harum segar musim semi yang membuat semua mata memandang penuh damba ingin berada dalam dekapannya, hanya saja yang tidak mereka ketahui adalah sekali berada dalam dekapan Kematian maka jangan harap mereka bisa kembali melihat datangnya Matahari.

Kematian bisa jadi awalnya terlihat welas asih, aku membayangkan sosok yang menemani di saat tidur sambil mengelus lembut kepala dan membisikkan kalimat-kalimat penuh rasa sayang dan penghiburan padahal diam-diam ia menghirup napas hidup seseorang sampai tidak bersisa sehingga ketika ditemukan yang tertinggal hanya tubuh yang terbujur kaku tanpa denyut kehidupan.

Pernahkah Kematian menampakkan wajah garang karena ia tahu tidak akan ada yang bisa lari menghindar darinya? Ataukah ia lebih senang memakai topeng sehingga tidak ada yang mengenali sosoknya di tengah kerumunan? Pasti Kematian sering menyeringai melihat betapa manusia suka bermain petak umpet dengannya walau tahu bahwa Kematian akan selalu dapat menemukan keberadaannya!

Temanku pernah berkata bahwa Kematian itu adalah suatu wake up call, penting bagi kita untuk menyadari bahwa waktu kita di bumi itu terbatas, suka atau tidak suka, pada saatnya nanti, Kematian pasti akan datang menemui setiap dari kita yang bernapas di dunia ini.

Lucu juga bila dipikir betapa Kematian itu sendiri merupakan sebuah akhir sekaligus sebuah awal dari sesuatu yang baru, maksudku akhir dari kehidupan di bumi sekaligus awal dari kehidupan kekal yang akan kita jalani.

Bila Kematian adalah sesuatu yang pasti, mengapakah banyak dari kita yang tidak siap menghadapinya? Bila Kematian adalah sesuatu yang pasti, bagaimanakah sebaiknya kita menjalani kehidupan?

Setiap awal akan menemui sebuah akhiran dan setiap dari kita mempunyai garis awal dan garis akhir yang sama berupa kelahiran dan kematian, bagaimana kita mengisi waktu di antara kedua rentang itulah yang akan membedakan hasil akhirnya.


..a wake up call it is and there's no need to postpone any longer to start fixing what was once went wrong and start being true to your heart..

Topic ended : Kamis, 6 Oktober 2011 (9:50 pm)

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…