Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2011

Pengumuman Pemenang Review/Komentar di Kampung Fiksi

Halooo! Halooo! Tidak terasa bulan April berakhir hari ini. Sesuai janji para bungloners di Kampung Fiksi ini, hari ini kami akan bagi-bagikan hadiah bagi para pecinta Kampung Fiksi yang sudah bersusah-payah dan rela meluangkan waktunya untuk meramaikan acara bulan April di Kampung Fiksi.

Wah, bahagia sekali membaca review dan komentar/tanggapan atas cerpen-cerpen yang dimuat di Kampung Fiksi. Menunjukkan betapa besar apresiasi teman-teman semuanya pada Kampung Fiksi. Untuk ke depannya, kami berharap Kampung Fiksi dapat lebih banyak lagi berkontribusi demi kemajuan dunia fiksi terutama melalui goresan kata para penulis pemula yang bersemangat untuk belajar menjadi lebih baik lagi. Tunggu gebrakan selanjutnya dari kami, ya! Mohon do’anya… :D
Jangan berpanjang-panjang lagi, deh!

Berikut ini para pemenang 1 buah novel Blackbook dari hasil review-nya atas cerpen-cerpen di Kampung Fiksi:

1. Meysha Lestari: Mengintip Bunglon di Kampung Fiksi
2. Princess E Diary: (Review) Perempuan Pengikat…

Merayakan Bulan April Di Kampung Fiksi

Fiction Lovers, mau dapat hadiah Blackbook-nya Winda Krisnadefa dari Kampung Fiksi? Yuk ikutan meramaikan bulan April di Kampung Fiksi dengan berpartisipasi dalam: Menuliskan review cerpen-cerpen di Kampung Fiksi atau berkomentar sebanyak-banyaknya di cerpen-cerpen pilihanmu pada blog Kampung Fiksi. Perayaan ini dilaksanakan sejak 1 s/d 30 April 2011.

Para pemenang  diumumkan pada tgl 30 April 2011, yaitu 10 orang komentator/pereview cerpen di blog Kampung Fiksi pilihan para admin Kampung Fiksi, akan mendapatkan @1 buku Blackbook Winda Krisnadefa, 1 orang komentator atau reviewer dengan komentar/review terbaik akan mendapatkan 1 Novel Blackbook + voucher isi ulang sebesar Rp. 100.000 .

Penulis yang review/komentarnya terpilih diminta memberikan no ponsel (melalui email) ke kampungfiksi@gmail.com untuk diisi voucher, dan hadiah tidak dapat diganti dengan uang tunai. Acara ini berakhir pada 30 April 2011.

Gimana? Gampang kan? Karena itu, yuuuk buruan ikutan :)

Yang sudah mereview sepan…

Empat Perempuan

Episode 6: Dea Jatuh Cinta


Tubuh yang masih belum sepenuhnya terbentuk sempurna itu tengkurap di atas tempat tidur Runi. Kaki-kakinya yang kurus ditekuk ke atas di bagian lutut, bergerak-gerak seirama betotan gitar Joe Satriani yang ia nikmati lewat earphone yang tersambung ke iPod merah.

“Rambut Mama udah kepanjangan. Dipendekin, Ma. Biar tampak lebih muda,” Dea mengamati mamanya yang sedang mengeringkan rambut. “Biar kayak itu, lho….”

Mulut Dea berhenti bicara karena tatapan tajam mamanya yang tersorot lewat cermin. Runi punya kemampuan membungkam orang dengan sorot matanya. Keahlian yang tidak dimiliki oleh dua adiknya itu ia warisi dari ayahnya. Suatu keahlian yang sangat berguna bila ia sedang bepergian sendiri ke tempat-tempat asing.

Empat Perempuan

Episode 5: Seruni Pulang (2)

“Banyak bercak hitam. Ke lapangan tiap hari, ya? Nggak pakai tabir surya?” Eyang memeluk Seruni sambil mengamati wajah anak sulungnya. Sejak tumbuh dewasa, anaknya yang satu ini sangat malas merawat wajah cantiknya. Banyak bercak hitam akibat sengatan sinar matahari ia biarkan saja. Berbeda dengan dua adiknya yang sejak remaja rutin ke salon untuk merawat muka.
“Yang penting saya sehat, Bu.” Runi mendengus, merasa sang ibu lebih menghargai wajah mulus daripada jiwa dan raga yang sehat. “Ibu baik-baik saja, kan? Tensi? Lutut?”
“Alhamdulillah. Tensi normal. Lutut nggak nyeri-nyeri lagi. Dua kali seminggu Priyo ngantar Ibu ke kolam renang.” Ibu dan anak beriringan masuk ke ruang keluarga. “Iroh masak pesenanmu. Lodeh dan tahu-tempe goreng.”

Empat Perempuan

Episode 4: Seruni Pulang

Pesawat mendarat dengan nyaman meskipun hujan. Bersama penumpang lainnya, hati-hati Seruni keluar dari kabin dan turun menapaki tangga. Di landasan, di ujung tangga, tiga petugas bandara membawa puluhan payung untuk dipinjamkan pada para penumpang. Angin kencang menerpa tubuh Seruni, payung ia pegang erat-erat agar tidak terhempas. Sayup-sayup ia dengar dering ponsel yang ia selipkan di saku tas. Ia tidak menerima panggilan itu karena tangan kirinya menenteng tas dan tangan kanannya menggenggam gagang payung. Kalau bukan Dea, pasti Ibu, pikirnya. Baru setelah sampai di bawah kanopi ruang kedatangan, dan payung ia serahkan petugas, Seruni merogoh ponselnya. Dea. Sambil mengibas-ngibaskan air yang membasahi tas kerjanya, Seruni menelpon balik.

“Halo, Cinta!” Tinggi suara Seruni mengatasi bising mesin pesawat.