Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2011

Penutupan Bulan Puisi di Bulan Juni Kampung Fiksi

Seperti setiap tulisan yang dimulai dengan satu huruf, lalu satu kalimat dan paragraf-paragraf lalu berakhir dengan tanda titik penghabisan, maka Bulan Puisi di Bulan Juni Kampung Fiksi pun sampai ke lembaran yang terakhir. 
TERIMA KASIH yang semaha-mahanya, kami haturkan kepada setiap pengirim puisi yang bersemangat, baik hati dan tentunya rupawan. Syair-syair kalian telah menghujani bulan Juni di kampung kami dengan badai diksi dan rinai rima yang dahsyat!
Selanjutnya, karya-karya yang telah anda kirimkan akan kami bukukan, meski karena kesetaraan, kami hanya akan memuat satu tulisan dari setiap penulis yang telah meramaikan bulan puisi Juni ini. Buku yang akan diterbitkan nantinya dapat dipesan secara online. 
Kami, para editor yang manis dan cantik jelita ini, akan bekerja keras memilih puisi anda yang terbaik. Nantikan keterangan selanjutnya yang akan kami update di kampung kami.
Teruslah menari bersama diksi dan puisi. Mari menulis, untuk diri, semesta dan negeri ini.



Obituari Jalang #10 (Tamat)

''Ibu kritis, Mas...'' Suaranya terdengar pilu di ujung handphone.
Satrio baru saja menginjakkan kakinya di bandara Minangkabau. Tidak diharapkannya kabar itu yang akan menantinya begitu kakinya sampai di darat.
Termenung dan meragu. Dia diam terpaku tegak. Apa yang harus dilakukannya kini? Kembali ke Jakarta? Sedangkan hatinya begitu yakin kalau dia akan menemukan perempuan itu di kota ini.
Setelah lama berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menginap satu malam. Besok pagi-pagi sekali dia akan kembali.
''Aku pulang besok pagi. Tolong jaga Ibu,'' katanya.
''Aku selalu menjaganya sepenuh hatiku, Mas. Jangan khawatir,'' jawab Rumi.
Satrio kembali terdiam mendengarnya. Selalu dengan hati. Semua yang dilakukannya selalu dengan hatinya. Mungkin itu yang membuat Ibu jatuh cinta kepadanya. Dia begitu baik. Begitu lembut. Begitu bersahaja. Dan di atas segalanya, dia begitu tulus.

Mendadak Satrio dilanda keraguan yang luar biasa. Apakah ini sebu…

Empat Perempuan

Episode 9: Priyo Pamit (2)

Iroh bangun karena mendengar suara seseorang klithak-klithik di dapur. Pasti Eyang, pikirnya. Rasa sedih akibat tak akan bisa lagi bertemu Priyo membuatnya sulit tidur. Matanya masih terasa berat namun ia paksakan untuk bangkit, melipat selimut dan membenahi tempat tidur. Dalam kesedihannya, hatinya masih mengucap syukur karena tiga majikannya baik pada dirinya. Meskipun ia terlambat bangun, tidak ada yang memarahinya.

Iroh keluar kamar, melangkah nyaris tanpa suara menuju kamar mandi belakang. Sambil berwudlu, ia berdoa agar rasa sedih di hatinya terbasuh bersama air yang membersihkan bekas-bekas air mata di wajahnya.
Iroh sadar, bagi Priyo dirinya bukan siapa-siapa, hanya seorang pembantu rumah tangga yang kebetulan bekerja pada keluarga yang ia kenal dengan baik.

Puisi Pagi dan Dasi

Percakapan-percakapan kita adalah puisi yang
menghelai serupa kelahiran larik matahari
dan lembar-lembar dasi sebagai simpul.
Kekasih, demikianlah hari selalu terbit dari
rona pipimu, menaiki degup debar perjalanan
ini. Seperti masa yang kita simpan dalam bulir-bulir pundi
menjadi mimpi sementara jemari kita menghitung
cinta yang masih bertubi-tubi.

Hanya Untukmu, Teman2 Seperjalananku

Dalam Rindu kita bertemuBertegur sapa tanpa bertatap mukaDi Kampung Fiksi petualangan dimulaiMelebur kata menjadi jalinan cerita
Hantaran tawa dan canda mengiringi tiap langkahWalau kadang mencuat perbedaan isi kepalaTak dapat kupungkiri kalian telah membuatku betahSelalu ingin mengintip gua tanpa pernah alpa

Will you...?

I always sit there in that same room
Day after day...
Though I am surrounded by others
Someone who poke me suddenly
Someone who just took whatever I am holding in my arm
Someone who stroke my hair
Someone who gave me hugs
But I always feel alone

Puisi Dita Teguh Gumelar

Kencan dimeja makan yang dihiasi karangan bunga diatasnya, dan menghidangkan roman picisan
oleh Last Coccaine Dark Poetry pada 11 Maret 2011 jam 14:07

/1/

Sayang, inilah pada kenyataanya. Kedadamu, seperti direstoran kelewat mewah. Deretan meja – meja makan yang dihiasi karangan bunga diatasnya tertata rapih, memenuhi ruang yang dibiasi temaram, menantiku singgah dengan dugaan-dugaan; Tamutamu yang pernah hadir disini, tentunya bukan untuk menghindar dari kematian dilahap lapar, mereka pasti datang membawa gengsi dan kepentingan lain, sebab apa yang ada dalam daftar menumu hanya sebuah jamuan dan prestisi.

Obituari Jalang #9

Sudah sampai dimana kamu, Jalang? Tanyanya dalam hati. Pikirannya tak pernah lepas dari tulisan-tulisan perempuan itu. Keinginannya untuk bertemu makin menggebu. Dia begitu penasaran.

Dokter Purnomo masuk ke dalam ruangan itu dan bercakap-cakap tentang kondisi Ibu. Tampaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan menurut dokter itu. Ibu hanya perlu beristirahat, seperti biasa. Lega hatinya. Dia merasa mendapat lambaian bendera hijau atas niatnya yang masih di angan-angan.

Ya, Satrio sudah memutuskan akan berangkat ke kota Padang. Entah besok atau lusa. Dia sudah bertekad akan mencari perempuan itu sampai dapat. Dia hanya berharap masih sempat bercakap-cakap dengannya. Berharap perempuan itu mau membagi kisahnya. Kisah hidupnya yang telah membuat Satrio susah tidur belakangan ini.

Satrio ingin sekali mendapatkan jawaban mengapa dirinya bisa begitu tertarik pada perempuan itu. Hanya kata-katanya selama ini yang membiusnya. Seperti apakah wujudnya? Tak ada satu foto pun dalam blog itu. Bahk…

Puisi-Puisi Ahmed Tsar

Lima Penari

1#

Engkaulah gelombang.

Nyanyikan tembang.

Dawai-dawai pun ikut meregang,

alunkan harmoni perlambang.

Halusinasi pun berdendang.

Rahasia menghias pupurmu,

auranya semerbak mata beribu.

Hukah-hukah, mereka mencibir merdu,

awadara beranak madu.

Romantika, kau sangka semua itu,

diatonis riak kala sendu.

Jemari dasa titah ibu,

operamu kawal waktu.

2#

Wahahahaha,

indahnya derai tawa,

Nyanyikan tambo jenaka.

Dongengkan parodi bunda,

amboi, rancak bak seikat ikebana..

Kepala berjuta rasa.

Redam berjuta aksara.

Inilah hikmah berguna,

saling asuh, saling jaga,

nyalakan bara keluarga.

Ananda bermata tiara,

Dabik pitanggang halimunan mantra.

Enyahkan derita.

Fadhil dan Safana,

Awalnya bunda dan uda bersama ruang maya.

3#

Srikandi ibukota.

Aksara, panahnya.

Rima, gaunnya.

Ibarat teratai, mempesona.

Nun jauh di sana, para perjaka

oborkan api asmaraloka.

“Vide, apakah mereka pendusta?”

Ia mawar, tak sembarang serangga

takluk pada durinya.

Amor dewa pun, tak sudi diterima.

4#

Di…

Lelaki yang Menunggu Pagi

Oleh: Endah Raharjo

Dengan cangkul di tangan dan caping tergantung di punggung, lelaki itu menunggu kedatangan Sang Pagi yang tersesat di rimba beton dan belantara baja yang makin lebat dan makin tinggi.

“Kemana pagiku pergi?” keluhnya, menyandarkan cangkul yang berkarat, di antara deretan jendela kaca yang berkilat.
Suaranya parau, memantulkan senyap di tengah kepulan asap pengap.

“Akan kucari lagi engkau esok hari,” bisiknya lesu, di sela mesin bulldozer yang menderu.
Lelaki itu mengendap, berharap Sang Pagi hanya berembunyi di balik punggung Ratu Malam yang gelap.
Namun harap tak jua terjawab, meski doa tak henti terucap.

Hari ini, lelaki itu muncul lagi.
Dengan cangkul di tangan dan caping tergantung di punggung, bersiap menunggu Pagi.
Entah apa yang terjadi bila Pagi tak menampakkan diri.

*** Sumber Gambar

Akankah Ia Abadi?

oleh: deasy
malam pekat dalam kubahnyasemestinya sunyi jangkring begitu syahdunamun terasa pekak telingagema gulana terus melagusaat kuberikan tanyaku pada bintangakankah abadi berpijar disana?mungkin nafasku membuatnya abadinamun saat fajar menghampiridan pijarnya tersamar mentariakankah dia kembali?tetap menjadi tanya bagikudiantara sekian makna tak terpahamkanhingga dititik lelahku tak berjawabbiarlahtetap menjadi misteri sang waktusang pencipta rindu

Puisi-puisi Hudan Studiawan (4)

Akhir Bulan Juni

di awal bulan juni
bulan masih mati

bulan juni mulai beranjak
dengan sajak
tapi
bulan belum utuh
tapi
bulan masih separuh

di tengah bulan juni
purnama datang juga

sebentar lagi bulan mati dan bulan suri
dihubungkan dengan benang-benang merah hati

lalu bulan juni kuakhiri
dengan sebait puisi.

akhir juni di kampung fiksi, 2011

Kasmarana dan Kasmarani (8)
surat cinta Rani sebelum Rana melamarnya

Rana,
luasnya lautan tak perlu kau arungi
gunung yang tinggi tak perlu kau daki
tujuh samudera tak perlu kau seberangi

Rana,
mari kita bina biduk kecil ini
cukuplah pinang aku
dengan sebait puisi.

25 Juni 2011

Kasmarana dan Kasmarani (9)
romantisma pagi

entah kenapa
kau minta dibonceng sepeda
padahal mobil telah siap dan kucuci
sejak pagi

kau merengek-rengek
pokoknya naik sepeda

huhu... ya sudahlah
meski kata-kata cinta tak pernah muncul dari bibirmu
aku selalu suka caramu merayuku.

romantisma, 26 Juni 2011

Gombal (3)

kukirimkan sebait puisi dan sekuntum bunga untukmu
aku c…

Kenangan Pagi Bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri

Oleh: Endah Raharjo

Selembar pagi tergelar rapi di atas amben kayu nangka. Sepiring jadah bakar bertabur irisan gula jawa tersaji disandingkan tiga cangkir kopi. Aroma rajangan tembakau mengintip lewat jendela yang daunnya terbuka sebelah, berebut masuk dengan langu lethong sapi.

Dari pawon terhirup wangi nasi dari bulir-bulir padi yang dipanen sendiri. Di lubang tungku percik-percik api berlompatan meninggalkan ujung kayu bakar, menyapa udara pagi. Setenggok jagung teronggok di atas pogo, sabar menunggu belaian tangan keriput mengupasi kulit-kulitnya yang masih menyisakan harum ladang.

Kembali ingin kuanyam lembaran-lembaran pagi dengan benang cinta yang dipintal Mbah Kakung dan Mbah Putri. Kembali anganku melayang menembus gapura langit kenangan, lalu hinggap di lereng gunung Sumbing. Kembali ingin kugelar pagi ‘tuk bersila di atasnya bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri.

***

Mencuri Pagi

oleh: G

-

lampu-lampu jalanan sudah redup

kaki kita sama-sama mulai melangkah

kau ke timur aku ke barat

dia ke selatan dan mereka ke utara

tapi kita sama-sama mulai dari: sini

di titik sentrum ini,

ketika pagi baru mulai menggeliat

dan malam menguap ngantuk lalu memudar

sementara pagi belum benar-benar sadar

bahwa kita hendak mencuri kemudaannya

untuk kita simpan di rumah masing-masing

sehingga kapanpun kita perlu

kita buka saja dari bungkusannya

melongok sejenak dan memperoleh sekelebat hari baru

tanpa repot-repot menunggu esok hari

tanpa perlu ketiduran memandang bulan

atau menggerutui panasnya siang.

-

maka, diam-diam kita pergi

sepakat untuk mencuri pagi.

-

2002

Puisi-Puisi Granito Ibrahim

Bulan biru

di wajahmu ada bulan
aku melihatnya di bangku taman
bulan biru lingkar pendar untaian
nada-nada lirih lantun perlahan
sebaris isak yang kau tahan

di wajahmu ada bulan purnama
bergemintang bulir air mata
sesekali jatuh lalu kuseka
luruh bersama sejumlah rasa
tentang lanjut cinta kita

di wajahmu bulan membiru
tanpa kata, hening dan gagu
meski kucoba ayu merayu
tak hilang lara pada rupamu
renda kasih kita diurai sang waktu


Menanti Pagi

sebaris gunung dan hutan jati,
angin membawa kabar pohon yang hilang
gemah dan ripah tinggal prasasti,
hingga jalak terbang di atas tanah gersang.
taman hijau berbunga melati,
harumnya kini musnah terbang melayang
sedih hati rakyat tiada terperi,
negeri ini bagai pagi tak kunjung menjelang.


Granito - Juni 2011

Hidupkanlah!

oleh: G

apa yang kamu cari di hari-hari ini?
apakah waktu sepertinya membeku dan enggan melangkah maju?

apa yang kamu lihat pada bayangmu yang menyentuh bumi
di bawah telapak kakimu?

sosok siapa yang ada di sana? apakah ia hanya rebah di atas ilalang
yang tertunduk dan tak mampu menari?

apa yang kamu rasakan di dalam tubuhmu, di dalam jiwamu?
apa yang kamu rasakan di sekujur emosimu?

pikirkan. pikirkan. pikirkan.
bangun dari tidur panjangmu yang sesosok dengan mati. hidupkanlah!

Puisi-Puisi Naim Ali (2)

Judul Satu

sebait
pada maya

terlampir dua baris derita

pena tak berkuasa
dalam kisar drama tanpa tinta.

Judul Dua

di kisah berantah, tersebut
si tuan melipat halaman
tahun-tahun rumahnya yang kering
dengan debu rebak berantakan.

dari lembar halaman nampak kibarnya giat bergetar
juga daun serta kelopak bunganya gugur lalu terbang
karena jingkat angin waktu itu merepotkan.
dan tentu si tuan kian meradang.

hanya kemudian ia batal melipat, namun
berkerah sekuat niat: saban jengkal halaman disirami
oleh ludahnya sendiri.

Judul Tiga

dibilang saja telah cukup. sekarang. atau kemudian
bilamana akhirnya berlebih akan dirasa berkecukupan.
sebab dari jauh hari dibentangkan senyum lapang.

apa peduli setan.

Empat Perempuan

Episode 8: Priyo Pamit (1)


Ringan bagai burung Iroh melangkah ke ruang tengah. Wajahnya menyerupai bunga kana merah muda yang ia sirami tadi sore. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tampak begitu bahagia. Eyang baru hendak bertanya saat perempuan berkaus hijau itu tak bisa menahan ledakan di hatinya.

“Ada Mas Priyo… Ada Mas Priyo di depan…” Suara Iroh terdengar seperti senar gitar D’Addario favorit Dea, berdenting jernih.

“Oh…” hanya itu saja yang keluar dari mulut Eyang.

“Ada apa kok datang lagi, ya? Apa Nyonya minta diantar? Tapi Nyonya udah pergi, nyetir sendiri… Apa Non Dea mau pergi? Tapi tadi dia nggak bilang apa-apa sama saya…” Iroh kebingungan seolah ia yang punya kepentingan dengan Priyo. Matanya menatap Eyang minta penjelasan. Meski tak lebih besar dari sebutir pasir dan terpendam begitu dalam, di lubuk hatinya ada harapan Priyo datang lagi karena ada perlu dengan dirinya.

Puisi R-82

Juni Yang Tertinggal
Seuntai kata yang tertundaTerlawat waktu yang dulu tersisaKini hanya diam meratapiBegitu bodohnya aku waktu itu
Sesal tiada taraNamun percuma meratapiKini semua telah berbedaAku, kamu dan dia
Waktu tak mungkin bisa kembaliKeterlambatan yang tak bisa dihindariBiarlah semua menjadi misteriTak akan terbuka hingga ajal mengunjungi
Terdiam didepan jendela kacaRintik hujan terlihat berjatuhanTerlihat tipis mereka tertiup anginMenyapaku yang dingin disini
Juni ini tak sama dengan Juni yang duluAku dan harap seakan spi menunggu kuburTak akan berkata walau hati trus berteriakTentang rasa, tentang mimpi dan ketulusan
Bairkan aku diam disiniSendiri dan tak akan menunggu lagiDisisi jendela yang setia menemaniMelihat kalian berjalan melewati
Tentang kataTentang rasaTentang rahasiaBahwa aku masih mencintainya.

Saat Itu: Gelagah, Angsa Putih dan Kita

oleh: G

kita duduk bersisian. mengamati angsa putih diantara eulalia japonica yang menarinari.
angin hilirmudik menyerupa irama yang sama seperti waktuwaktu yang lalu.
capungcapung bergerak lincah di atas permukaan air.

punggung tanganmu menyentuh punggung tanganku, kita berdiam sejenak
jarak tidak memisahkan. waktu tidak bergerak. angin mempermainkan daundaun gugur,
air menampung satusatu. danau melarutkan bayangan.
kita dalam duduk diam, hening, tenang.

Puisi-puisi Dudi Irawan (5)

ENIGMA (1)

Tak perlu ditanya
Karena  jemari telah jenuh mengeja
Kebisuan yang  bertentang mata
Mereka-reka tanpa ada tanda tanya

Diam ternyata percuma
Tetap saja matahari meneteskan bara
Gelap di pikiranmu, tersesat di ujung lorong buntu
Sungguh tak dinyana
Perbincangan itu telah melahirkan jemu
Kontraksi di otakku, meronta-ronta dirahim benakmu

Tak tahukah engkau?
Itulah bias hasil persetubuhan .
Antara kebodohan dan ketololan dimasa lalu
Berputar-putar jawabpun tak bertemu

Kita bercumbu
Membongkar teka-teki waktu
Bertanya tentang takdir yang di titiskan Tuhan
Pada gurat garis-garis tangan kiri dan kanan

Sepenggal Enigma tentang hidup sesudah kematian
Seperti serumpun kamboja yang bungkam diatas pusara
Tak pernah tahu kapan ia luruh
Lalu raib dalam tanah yang kau tiduri kemudian…


KAMPUNG DIATAS AWAN (2)


Kampungku diantara riak awan
Beratap merah dengan menara jingga
Hilir-mudik anak-anak peri bersayap putih
Menari berdansa pada semburat matahari..

Lanskap langit seumpama permadani
Me…