Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2011

Workshop Perempuan Menulis dan Blogging ala Kampung Fiksi Powered By Indosat!

Halo, teman-teman Kampung Fiksi!

Semangat sekali rasanya menyambut hari ini! Rencana kegiatan offline perdana Kampung Fiksi akhirnya sudah di depan mata!

Yup! Bagi yang belum ter-update, “Kampung Fiksi mau mengadakan acara apa sih?” Dengan bahagia sekarang kami bisa memberi jawaban yang memuaskan, setelah selama sebulan kemarin kami mempersiapkan acara ini.

Dalam rangka berbagi dalam menulis fiksi dan blogging, Kampung Fiksi akan mengadakan Workshop Perempuan Menulis dan Blogging. Acara ini diadakan untuk memperkenalkan blog Kampung Fiksi kepada masyarakat luas, kaum perempuan peminat baca, tulis dan blogging khususnya. Selain itu acara ini juga diadakan untuk membantu sebuah penerbitan menyebarkan buku cerita anak berjudul Peri-peri Bersayap Pelangi untuk anak-anak tidak mampu.

Workshop Perempuan Menulis dan Blogging 
ala Kampung Fiksi
Catet tanggal dan tempatnya! Sabtu 26 Nov 2011, jam 8-13, di Bekasi Cyber Park, Jl. KH, Noer Ali No.177, Bekasi 17148 (seberang Metropolitan Mal).

Aka…

Hyun Bin Sarangheyo

"Ini gara-gara kamu jadi kita harus mencari pembantu baru lagi!" gerutu Mama padaku entah untuk yang kesekian kalinya. Aku terpaksa hanya bisa manggut-manggut dan menggumamkan kata maaf. Pikiranku mau tidak mau melayang ke Ratmi pembantu kami yang sudah keluar tiga bulan yang lalu.

Dari semua pembantu yang keluar masuk rumah kami, Ratmi boleh dibilang yang paling lama bekerja disini. Mama dan Papa menyukai dirinya karena walau sebenarnya dia sering telmi alias telat mikir, tapi dia sangat penurut. Contohnya? Ratmi tidak mengerti mengapa kami tidak mengijinkannya untuk sembarang menerima tamu. Apalagi jika kami semua sedang tidak ada di rumah. Ia tidak mengerti ada konsep orang jahat yang bisa menyerang siapa saja yang lengah. Tapi ia memilih menurut apa yang kami katakan karena baginya kami adalah majikan yang harus ia turuti. Wah, bagaimana mungkin dia tidak menjadi kesayangan orangtuaku?

Aku jarang berbicara dengan Ratmi karena selalu pulang malam dari kantor. Dan di akhi…

Pasukan Penyelamat Dunia

Saat ini bumi semakin sekarat. Hutan-hutan tropis semakin gundul. Banjir menjadi hal yang demikian biasa, sehingga penduduk berlomba-lomba membangun rumah yang tinggi. Matahari terasa seperti bola api raksasa yang membakar. Tak ada lagi manusia yang berani keluar rumah di siang hari tanpa pakaian khusus anti sinar ultra violet. Air laut meluap, sementara secangkir air bersih siap minum harganya jauh lebih mahal dari sebatang besar coklat.

Picture Talking : One Special Someone

Fri 30/9 (11:12 am)

Everyone has one special someone in their life
It's not a matter of how long we've known that person
But it's more like how s/he makes us feel
Everytime we're with that one special someone

If we're lucky, we might spend the rest of our life with that person
But most of us doesn't have that privilege
For we only know him/her for a short while
But forever our life has changed


Ve & Tanah Tabu

Tanggal 12 November 2009, sebuah sms masuk ke ponsel SE saya berbunyi: "Sy baru tiba di dekai, tlg cari dan baca buku Tanah Tabu karangan Anindita Stayib, Gramedia, berbicara banyak ttg Papua..." yang tidak langsung saya baca sebab saya tidak tahu dimana ponsel saya berada setelah dimainkan oleh, entah, Jason atau Joshua. Beberapa hari kemudian barulah saya menemukan ponsel plus sms tersebut, dan saya langsung mencari informasi tentang buku termaksud ke sebuah situs bernama Goodreads, lalu terpesona dengan resensi-resensi tentang buku ini. Dua minggu kemudian barulah saya memperoleh buku Tanah Tabu karangan Anindita S. Thayf dan mulai membacanya.

Lala Purwono, Writer's Block Itu Alesan!

Siapakah Lala Purwono itu? Aulia Fita Retnani Prabandari, demikian nama lengkap lajang berusia 31 tahun yang merayakan ultah setiap tanggal 12 Februari (lebih akrab dipanggil Lala) memulai petualangan menulisnya sebagai seorang blogger yang rajin menuangkan isi pikirannya secara reguler di blog Wordpress-nya yang beralamat di http://jeunglala.wordpress.com dan dari postingannya di blog itu lahirlah buku perdana Lala yang berjudul "The Blings of My Life" terbitan Grafidia di tahun 2008. 
Bagi yang rajin beredar di dunia perblog-an dan milis yang berkaitan dengan dunia menulis, mungkin tanpa kalian sadari kalian sudah pernah bersinggungan dengan penulis yang satu ini karena Lala rajin menyambangi beragam blog dan meninggalkan komentar di blog yang dikunjunginya. Sampai dengan saat ini, Lala sudah mempunyai beberapa buku lainnya di samping "The Blings of My Life", yaitu "Curhat Kelana", "Girl Talk" dan "A Million Dollar Questions", ke…

Monolog Hati

Aku selalu beranggapan kalau dia itu memang mahluk yang paling menyebalkan. Kesan sombong dan angkuh selalu terbawa dalam setiap sapanya. Meski begitu, dia tidak pernah kesepian. Teman-temannya selalu mengelilinginya.. Penampilannya sangat oke memang. Tak heran, banyak wanita saling berbisik bila dia datang atau lewat dihadapan mereka, meskipun dia selalu menggandeng seorang wanita cantik yang setia mendampinginya.
Yang heran, kenapa pula aku bisa berkenalan dengannya? Memang perkenalan kami ini suatu kebetulan, bahkan ketidaksengajaan kalau bisa kuanggap. Karena dari sejak awal pertemuan, tidak pernah ada niatku untuk mengenalnya. Apalagi dia. Manalah sudi memalingkan tatapannya padaku. Aku hanya kasir di sebuah café yang selalu laris dikunjungi anak jaman. Pekerjaanku menuntut ketelitian, karena kalau tidak, bisa-bisa gajiku habis dipotong hanya demi membayar ketidaktelitian tersebut. Maka dari itu, aku selalu serius dalam bekerja.

Happy Birthday, Nilam! From Armando, with Lipbalm!

Sepuluh tahun menikah, hanya satu kali mendapat kado ulang tahun. Rasa-rasanya ada yang kurang, walaupun tak kurang-kurang perhatian Raja pada Nilam selama ini. Raja ibarat mesin canggih dengan satu kekurangan. Dia bekerja giat demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, memperhatikan semua kebutuhan Nilam, mencurahkan segenap kasih sayang untuk istrinya tercinta, selalu siaga setiap saat Nilam membutuhkannya, bercinta dengan penuh pengertian dan perasaan. Satu kekurangannya, Raja selalu lupa ulang tahun Nilam. Buktinya, baru sekali Nilam mendapat kado ulang tahun, di tahun kedua pernikahan mereka. Itu pun dengan diawali adegan merajuk Nilam karena Raja benar-benar lupa ulang tahunnya.

"Pulang"

Aku meninggalkan kota itu dengan kenangan. Kini Aku kembali mengenangnya.
Jalan besar tempat dimana Aku melangkah. Suara anjing-anjing yang menyalak.Bus panjang yang selalu tepat waktu.Tombol lampu menyeberang tempat jahilku.Pemuda hitam yang selalu menyapa,”Good morning big eyes.”Jembatan merah yang selalu mewarnai romantisme dan berdiri memandang laut biru sambil menyatap makanan laut.

*****

Kegiatan setiap pagi hari yang berjalan melalui jalan-jalan besar, menunggu bus ditemani pemuda hitam. Dia selalu mengucapkan,” Call me Nigel. Don’t call me negro,” dengan pengucapan yang sama dengan nama Nigelnya tanpa huruf ‘R’.

Ironis

"Pengumuman kepada penumpang kereta jurusan Bekasi - Kota yang baru saja tiba tadi...," suara itu terdengar menggema keras di penjuru stasiun kereta Kota. Bahkan terdengar ke dalam gerbong kereta yang tengah kunaiki saat ini. Aku mengalihkan perhatian dari koran yang kubaca dan memasang telinga mendengarkan apa yang selanjutnya akan diumumkan. Oh, mudah-mudahan tidak ada perubahan jadwal atau semacamnya karena posisi duduk yang sudah enak nih!

"Telah ditemukan Blackberry dalam bungkusan berwarna hijau. Jika ada yang merasakan kehilangan mohon segera menghubungi petugas..."

Oh, tidak ada hubungannya denganku jadi perhatian kembali kualihkan ke berita yang tengah kubaca sebelumnya. Tapi telingaku memang tidak bisa diajak kompromi untuk menutup diri dari suara-suara disekitarnya. Karena beberapa detik kemudian aku kembali kehilangan konsentrasi ketika mendengar celetukan dari para penumpang lain.

Stasiun dan Aku

Aku merasa seperti berada di sebuah stasiun tempat kereta-kereta terhentak dari lamunan lantas sejenak berhenti untuk mengukur jarak. Pada kepergian dan kepulangan, yang telah menjelma debu yang mencintai lengking peluit. Hidup ini, hidup kita, adalah titik persimpangan tempat bubarnya matahari. Kau bisa menandainya dari lambaian sapu tangan yang kusemat di ujung tiang utara.
Seharusnya aku sedari dulu mengerti. Stasiun bukanlah tempatku pribadi merekam adegan airmata atau derai tawa. Di sini, keberadaan bukanlah hal yang terlalu berarti. Kita pun entah sejak kapan menjadi tahu diri. Berbagi. Seperti ketika kau menyisihkan recehan untuk pengamen yang membuatmu tersenyam-senyum karena lagu yang dinyanyikannya membuatmu teringat pada suatu ketika, di masa lalu..

Wajah Kematian

Topic starter : Kamis, 6 Oktober 2011 (1:03 pm)

Jika suatu hari nanti Kematian datang dan menyapa dirimu, bagaimana kamu akan menjawab panggilannya?

Apakah kamu akan menyambutnya penuh kehangatan dan rasa terima kasih karena ia akhirnya mengingat dirimu?

Ataukah kamu akan membujuknya supaya pergi menemui orang lain dulu dan diam-diam berharap setelahnya Kematian akan lupa untuk kembali menjemputmu?

Atau kamu sama sekali tidak peduli akan kehadirannya?

Cerita Pendek: Beberapa Tips

Menulis cerita pendek (cerpen) artinya meluncurkan cerita di tengah-tengah suatu kejadian tertentu yang menjadi fokus cerita tersebut.

Sebuah cerita pendek yang bagus adalah yang mampu merebut perhatian pembaca sejak paragraf awal. Mengingat sifat cerita pendek itu sendiri sesuai dengan namanya: sebuah tulisan yang pendek, dibatasi, maka penulis harus mampu 'menghemat' karakter-karakter dan babak-babak kejadian dengan memusatkan rangkaian cerita seputaran satu konflik saja. Konflik inilah yang harus mampu dirangkai dan diolah sedemikian rupa sehingga menuju pada sebuah kejutan sebelum sampai pada akhir cerita yang tidak mudah diduga.

Nggak heran kalo ada cerpen yang membekas di hati pembaca dan ada juga cerpen yang malahan mampu membuat pembacanya bertanya-tanya 'apa sih maksudnya?'.

Jelasnya, gue nggak mau (lagi) menjadi penulis cerpen yang membuat pembacanya menaikkan alis tinggi-tinggi sembari ngedumel: 'maksud lu?' Haha, nggak enak banget itu, baik untuk y…

Surat Kepada Jum

jum (1)

kutulis surat pagi ini kepada burung-burung malam yang akan masyuk di sarang pagi, meninggalkan bening bulan dan airmata bintang, mengetahui secara pasti sebentar saja semua pupus oleh panas dan ganas surya. permainan manusia milik siang hari. mereka sadar sesadar-sadarnya takdir mempermainkan nasib. sementara itu manusia, dalam jumawa mereka paling mudah dipermainkan nasib.

Lelaki Itu

Kulit kusamnya berpeluh dan berdebu. Tubuh kekarnya berbalut kaus oblong putih yang sudah menjadi krem. Dari ujung gang dia berjalan cepat, masuk ke sebuah rumah kecil di seberang jalan ini. Wajahnya memang asing. Tapi aku tahu siapa dia. Seorang yang sedang dikontrak sebagai borongan pada salah satu perumahan baru. Hanya tinggal sendirian saja di rumahnya yang kecil dan kumuh itu.
Bukan itu saja, aku juga mengetahui setiap detil perjalanan hidupnya. Tentu informasi yang terbukti kebenarannya, dan kudapat dari seseorang yang benar-benar terpecaya.
Ya, lelaki itu pada masa mudanya adalah seorang yang gagah rupawan. Ini yang tak terekam pada jejak dan raut mukanya kini. Begitulah, dia menjadi seorang yang digilai banyak wanita. Namun hatinya hanya tertuju pada seorang kembang desa, Maryamah.

Ibu, Kematian dan Tangisannya

Ibuku sungguh berbeda. Usianya sudah sepuh untuk ukuran orangtua dengan seorang anak yang masih baru lulus kuliah seperti aku. Tujuh puluh lima tahun. Ayahku sudah berpulang lima tahun yang lalu saat aku berusia 19 tahun. Aku tidak pernah menyadari ada sesuatu yang lain dari Ibu sampai hari Ayah meninggal dunia itu datang.

Sore itu Pak Diran, staff Ayah di kantor, menelepon ke rumah. Aku dan Ibu sedang menonton televisi sambil menikmati teh manis hangat dan sepiring pisang goreng buatan Ibu saat itu. Aku masih ingat sekali bagaimana deringan telpon itu terdengar lebih nyaring dari biasanya di telingaku. Aku terlonjak mendengarnya. Mukaku pucat pias seketika karena aku tak siap menguasai jantungku yang berdegup kencang tiba-tiba karena terkejut. Ibu tertawa kecil melihat wajahku. Dia berjalan perlahan menuju pesawat telepon di samping pintu menuju kamar tidur Ayah dan Ibu.

"Halo."

"Ya, Pak Diran, saya sendiri. Ada apa?"

Sesuatu Tentang Teras Rumah Itu..

Gue punya kamar di lantai 2 dan ada kaca besar, tinggi dan tidak tembus pandang-orang dari luar dipastikan tidak bisa melihat ke dalam kamar gue ini. Di sinilah gue bebas memandang teras rumah tetangga gue, tepatnya di depan rumah gue. Ada seseorang yang membuat gue betah berlama-lama memperhatikan dirinya sekaligus apa yang terjadi di teras itu. Sejak kepindahannya di kavling ini, gue mulai sering berdiri di depan kaca kamar memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Awalnya dia tidak begitu suka berada di teras rumahnya. Dia hanya melewati untuk keluar dan masuk saja, tidak pernah sebentar pun duduk di kursi kayu yang ada di teras itu. Apalagi untuk menyiram taman mungil di rumahnya, jangan harap dia melakukan itu. Bagi gue, dia tidak begitu cantik, sedikit manis, tapi menarik. Entah apa yang membuat dirinya menarik. Dibandingkan istri gue, wah jauhhh. Istri gue lebih cantik dan anggun, sedangkan dia wanita cuek plus tomboy yang pernah gue lihat seumur hidup gue. Terus terang aja nih gu…

Sinetron dalam sinetron

Hufff, akhirnya aku sampai dirumah juga setelah penat berdesak-desakan dengan para penumpang lain di bus. Ah, sudah hampir jam 7 malam ketika aku melihat jam di lenganku. Alamat aku harus menghabiskan waktu lagi dengan bertapa di dalam kamar. Yah, pada jam seperti ini biasanya...

"Kak, kau baru pulang?" adikku Selly menyapaku seraya membukakan pintu rumah. Rupanya ia mendengar suara pintu pagar yang kudorong tadi. Aku mengangguk kearahnya dan mengintip ke dalam ruang tamu. Hmmm? Kok sepi? Selly yang melihat pandangan mataku langsung mengatakan kalau malam ini adalah malam tenang.

"Mama dan Papa tadi mendapat telepon kalau anak buah Papa masuk rumah sakit karena kecelakaan," Selly menerangkan padaku bahwa orang tua kami pergi menjenguk seraya menutup pintu rumah begitu aku masuk. Ia mengunci pintu dan memandangiku dengan tersenyum,"Malam ini kita tidak perlu mendengar Mama dan Papa berdebat soal sinetron gak mutu itu..."

Surat Terbuka kepada Ibu Peri

Ibu peri yang baik hati,
Tentunya ibu peri masih mengingat seorang perempuan muda yang ibu sulap menjadi putri cantik jelita supaya ia dapat menghadiri pesta dansa dan memikat hati sang pangeran, bukan? Perempuan itu, adik tiri saya, sekarang menjadi istri tercinta dari putra makhkota yang kelak akan memimpin negeri ini -semoga kelak mereka akan memperhatikan kesejahteraan rakyat dan menjadi pemimpin yang bijaksana-. Pesta pernihakan mereka adalah pesta termewah dalam sejarah dongeng, diselenggarakan tujuh hari tujuh malam, mengundang penguasa-penguasa dari negeri tetangga sebelah, Putri Salju, Putri Jasmin dan suaminya Aladin, sampai Rapunzel yang rambutnya sekarang dipotong pendek dan dibentuk shaggy. Semua rakyat larut dalam kegembiraan dan kemeriahan pesta. Tapi, ibu peri, saya tidak melihat ibu sama sekali. Apakah ibu peri tidak diundang?

Romantisme Sepeda

Wed 28/9 (10:14 pm)

Romantis.

Aku bukanlah orang romantis, namun itu tidak menghalangiku membayangkan hal-hal yang menurutku bisa dikategorikan romantis. Mungkin aku terlalu banyak menonton film ala Hollywood sehingga tanpa sadar, definisi romantisku dipengaruhi film yang pernah aku tonton.

Seperti misalnya, romantis itu menurutku ketika seorang pria membawakan bunga untuk kekasihnya, walau sampai sekarang aku masih belum bisa menentukan apakah lebih romantis bila ia hanya memberikan setangkai bunga, atau ketika ia menyerahkan sebuket bunga, hmm..

Empat Perempuan

Episode 18: Bersemi di Lereng Merapi

Hari Jum’at biasanya Runi baru pulang saat matahari tak lagi menyisakan bayangan pohon kelengkeng tetangga di tembok rumah, pertanda senja sudah sepenuhnya lengser dari singgasananya. Ia tak ingin membawa pulang pekerjaan yang hanya akan mengganggu acara akhir pekannya. Namun hari itu klason mobil Runi mengejutkan Iroh yang masih menyeterika. Ia pulang jauh lebih awal. Rambut kepang Iroh melonjak-lonjak di belakang punggungnya ketika ia berlari hendak membuka pintu pagar.

“Dea sudah pulang, Roh?” Sejak kemarin sekolah-sekolah di Jogja dipulangkan awal. Aktivitas Merapi menciutkan nyali banyak orang, tidak hanya warga yang tinggal di lerengnya saja. Letusan-letusannya makin kerap dan panjang. Awan panasnya mulai menerjang batas radius zona bahaya 10 kilometer.