Skip to main content

Chit Chat with Arini Suryokusumo


Dear pembaca blog tersayang,

Setelah berturut-turut even January 50K, lalu disusul dengan even Cecintaan serta Tribute to Whitney di bulan February...maka bulan Maret ini kami memutuskan untuk rehat. Selain akan menggunakan waktu di bulan Maret ini untuk menyusun naskah Tribute to Whitney. Juga kami akan melakukan seleksi untuk naskah-naskah yang mengikuti even Cecintaan. Maka untuk mengisi blog, kami berencana untuk mengadakan interview dengan para penulis.

Yang pertama mengisi blog Kampung Fiksi ini adalah penulis wanita cantik (ehm) bernama Arini Suryokusumo.

Arini lahir di Bogor tanggal 12 November 1969. Ia kuliah di Jurusan Sastra Inggris program D3 dan Kriminologi S1 Universitas Indonesia,lalu melanjutkan kuliahnya di bidang TV,Video, dan News Media di UCLA. Tulisan-tulisan Arini berupa cerpen dan novelet dimuat di berbagai majalah remaja seperti HAI dan Gadis sejak tahun 1988. Sejak tahun 1989, empat novel karyanya diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama.

Tanpa menunda lagi, yuk kita mulai aja interview dengan Arini :)



q. Sejak usia berapa Arini mulai menulis?

A: sebenernya sih dari jaman SD (12 tahun)udah hobi nulis, tapi baru dimuatnya di majalah waktu kelas 2 SMA (17 tahun).

q. Siapakah yang menginspirasi Arini untuk menulis?

A: Wah, banyak. Karena sejak dulu senang membaca, jadi penasaran pengen bisa menulis juga. Dulu aku ngefans Hilman Lupus sama Arswendo Atmowiloto. Tapi tulisan2 penulis lain suka juga sih kayak Mira W, kembangmanggis, dll...

q. Sudah berapa buku yang Arini tulis dan terbitkan?

A: Empat buku. Tunangan, Taruhan, Natasha, Jodoh Kedua. Ada juga satu buku yang nulis rame2 bareng penulis gramedia satu angkatan dulunya, namanya: Kupu-kupu Tak Berkepak.

q. bagaimana proses menulis yang dilalui Arini, hambatan apa saja yang dihadapi dalam menyelesaikan tulisan dan bagaimana cara mengatasinya?

A: Biasanya ada ide, langsung dituangkan ke tulisan. Ngga pakai proses macem-macem.. hihihi... nulis buku buat aku tergantung mood banget sih. Kalau lagi ngga mood, ditinggal dulu.. nanti pas mood diutak-atik lagi.. sampai selesai. Biasanya dalam proses menulis, minta tolong temen bacain, kasih masukan. Tantangan terberat yaitu: M.A.L.E.S! hahahahaha cara mengatasinya, ya motivasi diri sendiri aja, harus selesai, pekerjaan yang cuman setengah-setengah itu ngga bagus, cepat atau lambat harus diselesaiin. biasanya banyak baca buku orang lain bisa memotivasi juga... :-)

q. Bagaimana prosesnya dari menulis novel ke menulis naskah drama?

A: Pertama kali sih, penasaran aja pengen tau gimana caranya nulis naskah. terus cari alamat2 PH dan kirim lamaran ke semua PH tersebut. Multivision satu-satunya PH yang manggil. Ya udah dari situ mulai merambah ke dunia sinetron.. :-)

q. Sudah berapa banyak naskah drama yang Arini tulis dan dipublikasikan lewat sinetron?

A: Waduh udah ngga ke itung. Sudah nulis sinetron sejak tahun 1996. sempet jeda 4 tahun, terus balik lagi nulis sinetron sampai tahun 2010. Sekarang lagi pengen coba ke dunia film.. tapi belum ada yang jalan.. nanti dikabarin deh kalau mau produksi ya? :-)

q. Apakah perbedaan yang paling significant dalam menulis novel dibandingkan dengan menulis naskah untuk sinetron?

A: Nulis novel LEBIH SULIT. Karena kita bertanggungjawab penuh dengan hasil karya kita. Kalau sinetron itu kan kerja team ya.. ada produser, sutradara, artis, kru... dsb... Kalau novel beda. Nulis novel jauh lebih susah... menulis novel itu merupakan seni tersendiri. Akan lebih mudah bagi penulis novel untuk terjun ke penulis naskah.. tapi kalau sebaliknya, ngga akan segampang itu. Makanya, merupakan kebanggaan dan kepuasan tersendiri kalau novel kita diterbitkan dan dinikmati orang lain! Lebih bangga rasanya kalau orang memuji tulisan kita.. ketimbang kalau orang memuji sinetron kita! Soalnya kalau novel itu murni hasil pekerjaan kita sendiri! :-)

q. Siapakah pengarang favorit Arini dan apa judul bukunya serta mengapa Arini sangat menyukainya?

A: Waduuuuhhh... banyaaaaaaaakkk!!! Ngga ada yang favorit! hehehe Mungkin James Patterson... aku sering nyari buku dia.. tapi belakangan ini, dia nulis kolaborasi dengan penulis lain... udah kurang greget lagi... IMHO!

q. Apa yang akhirnya mendorong Arini untuk meninggalkan dunia menulis dan bekerja?

A: Ketika menulis berubah dari hobi menjadi mata pencaharian,the fun becomes a duty. Mungkin setelah sekian lama, aku jadi jenuh juga, dan tidak lagi menemukan kepuasan dalam menulis. Perlu break. Yang lamaaa.. hehehehe

q. Adakah saran atau tips yang ingin Arini berikan bagi para pemula di bidang tulis menulis?

A: Banyak baca. Banyak nulis... yang berarti juga banyak latihan. Learning by doing. Practise makes perfect! :-) Dan yang terpenting, masalah diterbitkan atau tidak, disenangi masyarakat atau tidak... yang penting kita suka, dan kita puas! :-)

q. Kalau harus memilih, dengan penghasilan yang sama besar maka yang mana Arini akan pilih? Bekerja kantoran, berdagang atau menulis (fiksi, naskah sinetron/drama) dan apa alasannya?

A: Bekerja kantoran. Menulis buat aku lebih enak dijadikan hobi.. jadi tidak ada tuntutan. Aku ingin menulis because I want to. Not because I have to.

N.B.
Artikel diolah juga dari link berikut ini:

Fan Page Arini
Buka Buku
Goodreads

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…