Skip to main content

Horeee…!!! Akan Dapat Royalty!!!

Sumber Foto
Royalty? Apa itu? Menurut kamus yang terinstal di laptop saya, royalty adalah: a sum of money paid to a patentee for the use of a patent or to an author or composer for each copy of a book sold or for each public performance of a work. Kira-kira terjemahan bebasnya berbunyi: sejumlah uang yang dibayarkan pada pemegang paten atau penulis atau komposer untuk tiap eksemplar buku yang terjual atau untuk tiap penampilan publik atas karyanya.

Hmmm… kalo buku karya kita laris manis sampai ribuan eksemplar, sudah pasti jumlah royalty yang akan kita terima juga banyak. Bisa untuk beli macam-macam, bukan cuma secangkir kopi, tapi bisa dapat semangkuk berlian.

Tapiii… Lho! Belum-belum kok udah tapi dengan triple ‘i’. Iya! Jangan dulu bermimpi. Mari kita belajar menghitung besarnya royalty.

Saya ambil saja dua contoh buku yang pernah dan sedang diterbitkan oleh Kampung Fiksi (KF).

Yang pertama Kumcer bertajuk ‘24 Senarai Kisah dari Kampung Fiksi’. Buku ini biaya produksinya Rp 33 ribu per eksemplar. Dijual seharga Rp 45 ribu. Jadi ada selisih harga Rp 12 ribu. Karena kumcer ini dijual langsung oleh KF, maka selisih harga itu semua masuk ke kas KF. Bila keuntungan sebesar Rp 12 ribu per buku itu diberikan pada semua penulis KF (8 orang), maka masing-masing kebagian sebesar Rp 12.000/8 = Rp 1.500 per buku. Jumlah itu bisa dianggap royalty.

Nah! Kalau buku cuma laku 100 eksemplar, penulis cuma dapat Rp 150.000. Kalau 1.000 eksemplar? Tinggal dikalikan saja. Tapi pastinya belum bisa untuk jalan-jalan ke Eropa, lhaaa… wong cuma Rp 1,5 juta. Padahal, untuk buku label indie seperti karya KF ini, untuk bisa laku 1.000 eksemplar itu beraaat… sekali! Butuh berbulan-bulan dengan promosi sana-sini.

Yang kedua, buku kumpulan cerpen bertajuk ‘The Greatest Love of All’ - yang masih hangat, sebab baru saja keluar dari percetakan. Buku ini berisi cerpen-cerpen yang terilhami oleh lagu-lagu yang dinyanyikan mendiang Whitney Houston. Buku ini (saya sebut Buku Whitney) merupakan kerja bareng antara KF, Nulisbuku dan para kontributor yang mengirimkan tulisan.

Karena dicetak lewat Nulisbuku, biaya produksi Buku Whitney ini mengikuti aturan Nulisbuku yang berlaku untuk semua buku yang dicetak dan diterbitkan di sana. Hitung-hitungannya kira-kira begini:

Harga jual minimal yg ditetapkan oleh Nulisbuku adalah Rp. 33.000.
Jumlah halaman buku minimal 100 (tdk termasuk cover buku), dengan base price (kertas HVS, harga percetakan per 100 halaman) Rp 17.500.
Jadi, bila tebal Buku Whitney 200 halaman, biaya cetaknya sebesar Rp 35,000. Kalau harga jualnya Rp 50.000, maka pendapatan bersihnya: Rp 50.000 – Rp 35.000 = Rp 15.000.

Nulisbuku mengambil 40% dari keuntungan bersih tersebut, yaitu Rp 6.000. Sisanya 60% adalah royalti pengarang/penulis, sebesar Rp 9.000.
Kalau jumlah penulisnya 10 orang (dalam satu buku), maka masing-masing penulis mendapat Rp 900. Kalau jumlah penulisnya 20 orang, masing-masing mendapat Rp 450.

Sekarang bisa dihitung sendiri. Kalau Buku Whitney ini laku sampai 100 eksemplar, akan ada total royalty Rp 9.000 x 100 = Rp 900.000. Jadi masing-masing penulis berhak atas Rp 900.000/20 = Rp 45.000.

Kalau laku 100 biji penulis cuma dapat royalty empat puluh lima ribu rupiah? Lho...? Kok cuma segitu? Ya… begitulah kalau kita menulis keroyokan dalam satu buku.

Khusus untuk Buku Whitney ini, royalty akan dihibahkan ke Taman Baca Mahanani. Semakin banyak terjual, maka semakin banyak pula dana yang diterima oleh TB Mahanani.

Selain Buku Whitney, KF juga menerbitkan buku kumcer bertema cecintaan. Buku ini rencananya juga akan diterbitkan lewat Nulisbuku. Tentu saja, urusan royalty bagi para peserta yang cerpennya lolos seleksi tidak beda dengan perhitungan di atas.

Dari hitung-hitungan ini, kita bisa tahu, royalty baru akan berarti kalau buku kita terjual ribuan eksemplar. Kalau baru laku di bawah 300 biji… yaaa… royaltinya cuma segitu-itu… belum cukup untuk beli laptop baru. Namun bila yang sedikit itu dihibahkan, pasti nilainya akan jauh lebih besar. Atau bila kita rajin menerbitkan buku, seperti petatah-petitih itu… yang sedikit pun suatu saat bisa membukit…

***

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…