Skip to main content

Agen Naskah? Apa Itu?

Beberapa minggu yang lalu secara tidak sengaja saya mengikuti sebuah workshop--Writing For Living--yang diadakan oleh Islandscript.net di Blu Plaza, Bekasi. Tidak sengaja, karena saya menemukan kegiatan itu sedang berlangsung di Blu Plaza saat sedang berjalan-jalan dengan keluarga. Sesaat saya merasa "gelo" karena baru tahu ada workshop ini dan diadakan dekat dari rumah. Rasanya rugi sekali, karena jarang kegiatan-kegiatan semacam ini diadakan di pinggiran Jakarta seperti Bekasi. Dengan sedikit kecewa saya datangi juga panitia penyelenggara untuk mencari tahu tentang workshop yang sedang berlangsung itu. Puji syukur alhamdulillaah, ternyata workshop itu diadakan dua hari, artinya esok hari saya masih bisa mengikuti.


Siapa yang nggak pengen bukunya laris seperti kacang goreng di pertandingan sepak bola? ;)

Maka dengan penuh semangat keesokan harinya saya datang kembali ke Blu Plaza dan membayar biaya keikutsertaan workshop tersebut sebesar Rp 50.000. Pada mulanya saya kira workshop ini akan membahas tentang kegiatan menulis dan bagaimana menulis bisa dijadikan income yang menjanjikan. Tertulis dengan jelas di backdrop stage "Siapa Bilang Nulis Ga Bikin Kaya!" Ahahaha, menarik, nih!



Di sesi pertama Nisa Salwa--seorang penulis muda--tampil mengupas seputar menulis fiksi. Sebagian besar materinya adalah dasar-dasar yang membangun sebuah cerita fiksi seperti tema, ide, plot, setting dan lainnya. Tentu saja dengan ditambah sedikit cerita dari pengalaman menulis Nisa sendiri. Menarik dan bermanfaat. Namun saya masih belum bisa menemukan keterkaitan materi yang dibawanya dengan tagline workshop itu.

Nisa Salwa berbagi ilmu dan pengalaman seputar menulis fiksi

Kemudian masuk ke sesi selanjutnya, barulah diisi oleh pembicara dari Islandscrip.net selaku penyelenggara. Pak Ees--sang pembicara dan managing director dari Islandscript.net--berbicara panjang lebar mengenai seluk-beluk penerbitan buku. Dibuka dengan sebuah kenyataan yang cukup membuat saya menelan ludah getir. Beliau mengatakan untuk bisa menembus penerbit besar ada beberapa hal yang jadi pertimbangan penerbit; nama besar penulis, modal besar penulis (kesediaan menanam modal uang), jumlah follower di atas 50.000 di media sosial dan komunitas dan/atau penulis adalah juga tokoh masyarakat. Lho? Trus gimana nasib penulis-penulis pemula tanpa modal dan follower banyak seperti kita-kita ini, dong? Apa kita tidak punya kesempatan sama sekali untuk bisa menembus penerbit besar?


Pak Ees dari Islandscript.net berbagi informasi seputar agen naskah yang digawanginya di Islanscript.net

Pak Ees kemudian menjelaskan tentang fungsi sebuah agen naskah dalam keterkaitannya dengan menerbitkan karya tulis kita ke penerbit besar. Islandscript.net ini adalah salah satu dari banyak agen naskah yang saat ini sudah banyak terdapat dan menyelinap dalam dunia penerbitan. Dia ada untuk memfasilitasi penulis dengan penerbit. Tentu saja mereka sudah memiliki semacam kesepakatan dengan beberapa penerbit, sehingga penerbit akan lebih memprioritaskan naskah yang datang melalui agen ini. Kenapa begitu?

Setiap penerbit memiliki kriteria kualifikasi tulisan yang bisa masuk dalam daftar terbitnya. Kriteria ini yang dipegang oleh agen naskah untuk kemudian digodok menjadi sebuah pola yang mereka sebut sebagai matriks. Matriks ini menjadi semacam check-list kelayakan dari sebuah tulisan. Sebagai contoh; untuk tulisan fiksi, selain menyertakan sinopsis, penulis juga diminta untuk menyertakan jumlah follower di media sosial, keaktifan di komunitas-komunitas baik online mau pun offline, benchmark dari karya orang lain yang menjadi acuan dari tulisan penulis (diutamakan buku-buku yang best seller), kelebihan dari naskah yang dikirim, sampai ke teknik promo seperti apa yang akan dilakukan penulis jika karyanya diterbitkan melalui penerbit tersebut. Secara keseluruhan, hal ini membuka mata kita kalau menerbitkan buku saat ini--baik itu self published mau pun melalui major publisher--membutuhkan kerja keras penulis untuk menjual karyanya ke pasaran.

Kehadiran agen naskah ini bisa kita pandang sebagai bantuan untuk penulis atau justru malah menjadi gatekeeper tambahan yang menghadang kita dengan penerbit besar. Tergantung bagaimana kita memndangnya. Sebab, bagaimana pun, agen-agen naskah ini tentu tidak bekerja tanpa biaya. Pasti ada biaya yang harus dikeluarkan oleh penulis (atau penerbit) atas jasanya mengantarkan sebuah naskah ke penerbit sehingga bisa diterbitkan. Bottomline, cara apa pun yang kita pakai agar naskah kita bisa menembus penerbit besar, semua membutuhkan kerja keras (yes, bahkan melalui bantuan agen naskah seperti ini pun bukan berarti penulis hanya tinggal tunggu kabar saja). Kentungan yang ditawarkan ke penulis agar mau menitipkan karyanya ke agen naskah tentu saja kemungkinan naskahnya sampai dan dibaca langsung oleh penerbit karena sudah 'lolos' checklist yang disyaratkan oleh penerbit melalui agen naskah. Setidaknya satu langkah itu sudah bisa dilalui. Agen naskah tentu memiliki kepentingan juga agar karya penulis bisa lolos penerbit, sehingga kemungkinan checklist yang ada akan terus dipenuhi sampai lengkap oleh penulis (dengan bantuan dan panduan dari agen naskah) sebelum akhirnya dikirim ke penerbit tersebut.

Ini wajah-wajah kita; calon-calon penulis dengan impian dan harapan besar. Siap kerja keras? ;)

Menerbitkan buku saat ini memang mudah. Tapi mau diapakan buku itu setelah terbit? Itu yang sulit. Menurut pendapat pribadi saya, apa pun jalan yang kita pilih untuk menerbitkan buku kita, pada akhirnya kerja keras kita sebagai penulis tidak bisa berhenti begitu karya kita sudah berwujud buku. Apalagi kalau niatnya memang mau mencari hidup dari menjual buku-buku kita. Mau buku kita jadi best seller? Lewat agen naskah, lewat self published atau langsung diterbitkan oleh major publisher, penulis tetap harus berjualan. Deal with it! Bahkan Dee dengan nama dan karyanya yang selalu best seller itu pun melakukannya; menjual buku-bukunya. Pilihan ada di tangan kita--PENULIS. Mau terbit lewat agen naskah, menerbitkan sendiri secara indie atau (syukur-syukur) langsung lolos ke penerbit besar, penulis jaman sekarang harus ikut aktif menjual karyanya.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…