Skip to main content

[Serial Kamis Tips Nulis] Don't Turn Yourself Into Your Fiction Character


Tgl 31 July di media sosial twitter sempat trending ucapan Selamat Ulang Tahun Harry Potter dan JK Rowling - penciptanya. Ternyata JKR dan Harry Potter tokoh fiksi rekaannya berulang tahun di hari yang sama.

Ngobrolin soal Harry Potter dan JK Rowling, temen gue yang juga sesama bungloner Kampung Fiksi mengirimkan bagian pertama dari interview dengan si penulis Harry Potter.

Dari video bagian pertama yang dikirimkan ke gue itu diceritakan betapa meninggalnya sang ibu sangat mempengaruhi JKR. Dan kesedihan yang sama itu juga (ceritanya) di rasakan si tokoh Harry Potter. Lalu diceritakan pernikahan JKR yang berumur 2 tahun dengan seorang puteri itu berakhir dengan perpisahan. Dan hal itu membuatnya sempat depresi dan ia menyadari betapa kacau kehidupannya. Dan depresi itu membuatnya mati rasa dan sepertinya ia tidak mungkin merasa kegembiraan lagi. Dan perasaan depresi ini yang menginspirasinya untuk menciptakan tokoh dementor. Mereka diceritakan memangsa kesedihan, ketakutan yang ada di dalam hati manusia sehingga begitu perasaan itu diserap oleh dementor, maka manusia itu akan merasa depresi; dengan perasaan yang sama seperti dirasakan oleh JKR.



Melihat rekaman wawancara itu gue merasa... WOW! Memang benar ya jika dikatakan dalam setiap cerita penulis akan menyertakan bagian-bagian dari kehidupannya. Tentunya ketika dibilang bagian-bagiannya bukan berarti kita menjadi si tokoh dalam cerita tersebut loh! Maksudnya?

Jadi gini nih, beberapa teman dekat gue yang kalau diminta tolong untuk membaca naskah cerita karangan gue akan berkomentar begini,"Wah, tokoh utamanya ELO BANGET!" Dan buat gue ini memberikan dua perasaan yang berbeda. Pertama senang, berarti teman tahu gue banget dong sampai bisa membandingkan tokoh fiksi itu dengan gue. Kedua, walah... gue khan menciptakan tokoh fiksi dan bukan gue sendiri di-fiksi-kan? Seharusnya gue bertransformasi sejenak jadi si tokoh dan membayangkan kalau dalam keadaan begini apa tindakan si tokoh dan bukan apa tindakan gue dalam kehidupan nyata? Boleh-boleh aja gue memasukkan orang yang gue benciiii banget dalam tokoh fiksi tapi tidak sampai membuat teman-teman gue berkomentar...,"Eh, ini si Ibu yang elo sebelin itu ya?" Lama-lama orang akan bilang, si tokoh ini sebenarnya curhatan pribadi ya? Sama seperti gue membuat Cuplikan Kisah si Jomblo; tidak ada yang percaya ketika gue bilang itu fiksi. Huahahahah...

Anyway, gue rasa masih harus banyak belajar nih jika ingin menceritakan kehidupan pribadi secara terselubung. Dan gue juga mesti belajar untuk jangan menjadikan si tokoh fiksi ini adalah gue dengan segala sifat ideal dan kesempurnaannya. COntohnya seperti JKR dengan tokoh Harry Potter-nya itu. Tokoh anak-anak dan dia memandang masalah juga dari kacamata anak-anak. Anak-anak yang terkadang sering bertindak tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi dan baru disesali belakangan. Gue jadi curiga jangan-jangan tokoh Hermione ini diciptakan untuk menampung bawelnya orang dewasa dalam menghadapi anak-anak :) Lalu rasa depresi yang menjelma jadi tokoh Dementors. Rasa rindu JKR pada mamanya terlihat dari bagaimana tokoh Harry merindukan orangtuanya yang meninggal ketika ia masih kecil. Bagaimana tokoh fiksi ciptaannya itu memandang dunianya, memandang sekelilingnya, dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Harry di ceritakan cepat marah (sehingga buat orang yang gak demen baca Harry Potter; mereka melihatnya tidak lebih dari anak remaja yang hanya tahu bertindak menuruti emosinya), Hermione yang walau pintar juga bisa jadi menjengkelkan karena selalu yakin tindakannya pasti benar, Ron yang penakut tapi setia pada sahabat-sahabatnya (walau di episode terakhir sempat berpisah karena kesalahpahaman). Mereka tidak sempurna tapi pembaca tetap menikmatinya.

Wih, so much to learn and hopefully I still have time to not turning my fiction character into me:) Thanks ya G! Postingan ini telah dimuat di 40th Mind Wanderer

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…