Skip to main content

[Serial Kamis Tips Nulis] Proses Menulis



Apa yang menjadi motivasi kamu untuk menulis? Sekedar menuangkan keluar apa yang ada di kepala alias uneg-uneg yang sudah membuncah? Self-therapy? Ingin berbagi informasi dengan orang lain? Hobby? Hati terasa senang ketika menyadari ada kekuasaan disana untuk menentukan nasib para tokoh ciptaannya? Atau uang? Atau ketenaran?

Kalau kalian menebak gue hendak membahas tentang JKR lagi, tepaaat sekali!  Dalam video yang gue tonton itu, diceritakan soal proses yang berjalan setelah ia menyelesaikan naskah. Orang mungkin sulit untuk percaya jika prosesnya terlihat biasa-biasa saja bahkan nyaris membosankan. Setelah ia selesai menulis, naskah itu ia print dan bersama dengan editornya mereka membaca ulang bersama. Memastikan tidak ada yang terlewat. Ada proses menyusun, membaca ulang, menulis ulang, lalu dibaca ulang lagi, di edit dan seterusnya. Memang begitulah yang seharusnya dilakukan oleh setiap penulis. Kalau JKR punya editor, kita juga bisa meminta tolong teman untuk membantu membaca, menemukan kalimat yang gak nyambung karena terlalu semangat menyisipkan kalimat tambahan tapi lupa menghapus yang sebelumnya. Yang penting periksa, baca, tulis ulang, baca lagi, edit dan proses itu berjalan terus. Membosankan ya? Tapi itulah proses yang memang harus terjadi.



Dalam video itu juga diceritakan, JKR ditanya apakah ia ingin menjadi terkenal. Ia menjawab bahwa ia ingin naskahnya diterbitkan. Dan ia benar-benar ingin menjadi penulis. Ketika ia menjadi terkenal karena Harry Potter ia tidak menyangka orang akan begitu ingin tahu tentang kehidupannya. Mulai dari mencari sesuatu di kotak sampahnya hingga mengintai anak-anaknya di sekolah. Ingin tahu apakah anak-anak JKR sombong karena dirinya adalah penulis terkenal. Ia tidak pernah menyangka ketenaran akan menghampirinya karena Harry Potter.  Ia senang bertemu dengan orang-orang yang membaca bukunya. Tapi ia sulit membiasakan diri untuk acara-acara yang banyak meminta kehadiran dirinya. Sementara ia tidak terlalu menyukai hal tersebut. Ia menekankan bukan berarti ia merasa dirinya lebih baik dari orang lain karena tidak menyukai keramaian. Jadi, ia benar-benar ingin menjadi penulis melebihi apapun di dunia ini tanpa berpikir oh, dengan menulis saya akan menjadi terkenal. Dan menjadi terkenal ternyata tidak menyenangkan karena orang akan mencari tahu hal-hal yang paling pribadi.

Jadi apakah kita menulis untuk mencari ketenaran yang akan mengantar kita ke satu perayaan ke perayaan lainnya? Atau kita hanya fokus pada satu hal yaitu ingin naskah di terbitkan karena inilah hasil kerja keras saya sebagai penulis? Semuanya sah-sah aja kok karena bukankah kita sendiri nanti yang akan menjalani prosesnya? Mulai dari ide yang mengalir, menuangkannya dalam nasakah yang kita susun, coba menerbitkannya dan setelah itu tinggal melihat hasilnya. Jadi, jangan berhenti menulis hanya karena tidak memberi kamu ketenaran. Jangan mengucapkan selamat tinggal pada menulis karena tidak mendapat uang dari sana. Intinya adalah, apapun motivasi kamu untuk menulis dan ingin menerbitkan proses yang sepertinya membosankan itu tetap harus dilalui :) Dapat ide, mulai menyusun awal dan akhir dari cerita. Lalu tokoh-tokohnya, bagaimana sifat-sifat mereka. Gunakan selalu Who, what, where, why, when untuk menuntun kamu dalam menulis. Jangan bosen-bosen membaca ulang agar tahu mana yang perlu di edit. Jangan malu-malu meminta tolong teman kamu untuk membaca. Tidak ada teknik apapun yang bisa membantu untuk menulis lebih baik selain rajin menulis.

Bukankah begitu? :)

*dimuat juga di 40th Mind Wanderer*

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…