Skip to main content

[Serial Kamis Tips Nulis] Stop Pleasing Everybody


Gue masih melanjutkan nonton video wawancara JK Rowling yang diberikan oleh sesama bungloner ke gue. Ceritanya tentang JK Rowling yang baru saja menyelesaikan naskah Harry Potter buku terakhir. Setelah perjalanan panjang selama 17 tahun! Wow!

Anyway, JKR bilang bisa aja naskah yang telah selesai ini hanya sampah. Banyak orang yang akan gak suka sama cerita ini. Bisa jadi mereka gak suka sama akhir dari ceritanya yang berbeda dari harapan mereka sebagai para die-hard fans Harry Potter.


Dulu gue gak pernah mengerti bagaimana mungkin ada orang yang gak demen membaca serial Harry Potter. Erhm, ini diluar konteks kalau orang tersebut gak doyan membaca ya. Lalu gue mulai membaca alasan-alasan mengapa banyak yang tidak suka dengan tokoh Harry Potter. Ada yang menyebutnya sebagai anak cengeng yang melebih-lebihkan kematian orangtuanya dan menjadikan alasan untuk bertindak sembrono. Ada yang melihatnya sebagai anak yang mencari perhatian dengan sifat pemarahnya. And so on. Dan tentu saja lama-lama gue sadar, orang begitu berbeda-beda. Dan JKR tahu banget tentang fakta bahwa tidak mungkin ia menyenangkan semua orang. Tapi dia tetap menyusun cerita itu sesuai yang ia inginkan, sesuai plot yang sudah ada di kepalanya. Bayangkan 17 tahun ia menyusun buku itu dan dari awal ia sudah tahu akan seperti apa ending ceritanya. Ohya, sama-sama demen dengan cerita Harry Potter bukan berarti juga semua pembacanya suka dengan semua buku-bukunya. Menurut gue pribadi, buku yang seru tentu saja adalah buku pertama, lalu ketiga dan keempat. Gue gak suka buku kelima. Dan buku keenam sama ketujuh, gue juga suka. Yang gue gak suka buku ke dua karena menurut gue pribadi ceritanya kurang seru. Dan buku kelima ceritanya terlalu lebay. Tapi ini kan pendapat gue pribadi. Bukan pendapat semua orang. Jadi sebagai penggemar aja kita masih merasa ada beberapa cerita yang tidak memuaskan. Jujur aja, gue gak suka Harry jadian sama adiknya Ron! Hahahah, gue malah mengharap dia jadian sama cewek yang rada-rada sarap itu tapi kata-katanya selalu bisa bikin Harry tenang kalau sedang banyak pikiran. But then again, itu kan mau-nya gue bukan maunya si penulis.
Gue gak suka cerita-ceritanya Nicholas Spark karena menurut gue cerita2nya cengeng abis. Gue bahkan bosen abis ketika menonton pertama kalinya di bioskop cerita dari salah satu novelnya yang berjudul Dear John Letter (kalau gak salah). Tapi, sekali lagi itu kan gue yang bilang jelek dan gak bagus. Ada jutaan orang di luar sana yang merasa ceritanya menyentuh banget. Jadi, semua tergantung selera masing-masing dan tidak seharusnya membuat gentar si penulisnya hanya karena ada orang yang gak suka sama ceritanya.

Konon nih dari website yang gue baca, penulis sukses selalu membayangkan bahwa pasti ada satu orang yang membaca bukunya. Dengan membayangkan satu orang yang membaca, penulis bisa terhindar dari keinginan untuk menulis yang membuat seneng semua orang. 
Kalau terlalu ingin membuat senang semua pembaca maka penulis akan melakukan sensor pada tulisan yang dirasa akan menyinggung hati. Hal ini bisa jadi salah satu yang menyebabkan writer's block.

Jadi kalau sedang menulis, lepaskan saja apa yang ada di dalam pikiran. Jangan terlalu pusing dulu sama siapa yang bakal suka, siapa yang bakal sebel baca cerita kamu. Kalau kamu suka sama cerita yang sedang disusun, itu sudah cukup sebagai permulaan yang baik. Setelah itu baru deh mencari feedback dari teman yang sama-sama suka dengan tipe cerita yang kamu suka. Lalu cari yang cerdas (jangan pernah meremehkan kecerdasan pembaca). Cari temen yang baeeeek tapi bukan berarti segan memberi kritik. Dan tentunya temen yang udah gak sabar untuk membaca cerita kamu. Gunanya apa? Ya, supaya kamu dan gue juga termasuk gak kebingungan menulis apa yang bakal di sukai semua orang. Dan membantu proses menulis mernjadi lebih terarah dan gak keilangan fokus.

Dan soal pribadi diri sendiri yang selalu ingin menyenangkan hati orang lain, erhm...sebaiknya kamu mulai google dengan kata kunci: people pleaser dan mulai cari pengobatannya ya :D Postingan ini telah dimuat di The 40th Mind Wanderer

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…