Skip to main content

Tembak Di Tempat 5

Bagian 5

Hotel yang akan kami tempati selama 4 malam ini lebih tepat disebut guesthouse, kamar-kamarnya terpisah satu sama lain, menyerupai bungalo, berderet ke bawah menuju danau. Kamar Tim berada paling ujung, juga paling besar agar kami bisa rapat di situ. Sejak masih di Bangkok Tim sudah minta Rudi untuk mengatur supaya ruang duduk di kamarnya diberi meja dan empat kursi, tempat kami rapat dan bekerja.

“Nggak sabar ingin berenang di danau,” gumam Tong Rang.

“Itu bukan danau, itu reservoir!” Sergah Rudi.

“Apa bedanya?” Tong Rang ngeyel.

Tim menatap dua anak buahnya dengan cara yang membuat mereka berhenti bercanda, lalu duduk. Ia punya kemampuan menyuruh orang mematuhinya lewat tatapan mata. Aku merasa sedikit lemas, mungkin karena pain killer yang kuminum dan obat anti tetanus yang disuntikkan ke tanganku, sekitar 2 jam lalu. Rudi mengkhawatirkan lengan bawah kiriku yang dibebat perban, persis dari bawah siku hingga tiga senti dari pergelangan tangan. Kujelaskan kalau dokter melapisi lukaku dengan hidrokoloid yang harus diganti tiap 3 hari, jadi harus ditutup.

“Bukti kalau aku kerja beneran di lokasi konflik…” selorohku. Meskipun aku terguncang, perasaan itu kutekan.

“Merasa lebih baik?” Tim memandangku. Aku mengangguk. “Ada air panas, baru saja mendidih, kalau mau minum teh atau kopi,” dengan kepalanya Tim menunjuk poci listrik di atas meja kecil yang menempel di dinding, dekat pintu kamar. Rudi berdiri, menyeduh kopi untuk bertiga. Tim sudah menyeduh kopinya sendiri.

“Itu tadi Mosin Nagant…” Tim mengawali, menatap Tong Rang tajam.

“Apa itu?” tanyaku.

“Senapan yang ditembakkan penjaga checkpoint tadi,” jawab Tim. “Senapan tua, bolt action, harus dikokang, bukan senapan mesin. Awalnya buatan Rusia, diproduksi juga di Finlandia dan Cina. Dipakai dalam Perang Dunia II. Masih banyak beredar sampai sekarang. Model tertentu sering dipakai oleh snipers,” jelasnya. “Aku yakin penjaga itu hanya marah karena perintahnya tidak diindahkan. Tembakannya juga diarahkan ke belukar… Tapi mana kita tahu. Banyak pelintas batas ditembak di tempat tanpa alasan.” Tim dan Tong Rang bertatapan. Tong Rang menunduk, terlihat menyesal sekali. Hidungnya kembang kempis.

“Bagi orang yang belum pernah diacungi senapan, apalagi sampai ditembakkan, kejadian tadi menakutkan.” Tim menatapku, sekilas melirik balutan perban lengan kiriku. Dentuman senapan tua yang memecah udara itu terngiang lagi. “Aku ingin insiden tadi kita bahas sampai tuntas, sampai semua lega. Apapun yang kalian rasakan atau pikirkan, sebaiknya disampaikan sekarang juga. Banyak pekerjaan menunggu. Mia? Ada yang mau disampaikan?”

Tiga pasang mata menatapku.

“Pundak kiriku kaku. Mungkin kalau pain killernya habis, lukaku akan perih. Badanku juga meriang. Lututku lebam…”

“Kamu takut?”

“Ya. Tadi. Takut sekali. Sekarang kalau ingat, masih ingin menangis,” aku jujur, “Tapi aku yakin yoga bisa membantu…” Teman-teman kerjaku tahu kalau aku rajin yoga.

“Apa lagi?”

“Moga-moga lukaku tidak meninggalkan bekas buruk.”

“Aku akan mengantarmu ke Rumah Sakit Bumrungrad segera setelah kita kembali ke Bangkok,” Tong Rang cepat menyahut. Bumrungrad adalah rumah sakit internasional kelas atas. “Kalau tidak di-cover asuransi….”

“Semua ter-cover…” sahut Tim.

“Sunglasses-ku hilang….”

“Nanti aku ganti, Mia…” ujar Tong Rang.

Tim bilang kalau aku ingin menangis supaya jangan ditahan. Kadang-kadang orang masih dihantui rasa takut selepas mengalami kejadian traumatis. Aku yakin peristiwa tadi tidak sebegitu mengerikan sampai membuatku mengalami PTSD – post-traumatic stress disorder.

Kami menghabiskan satu jam untuk bertukar cerita, saling mendengarkan. Rudi lebih banyak diam, menyimak, sesekali saja dia bertanya. Tim meminta Tong Rang supaya lebih berhati-hati. Sebelum kami bubar, Tong Rang memelukku, berjanji akan mengganti kaca mataku.

“Itu Ray-Ban limited edition, frame-nya dilapis emas putih…”

“Akan kuganti! Suka model Aviator?”

“Nope!”

 “Itu buat aku saja…” Tim terkekeh.

** 

“Setiap tamu hotel harus paham kalau hotel tidak menyediakan lifeguard dan tidak bertanggungjawab atas kegiatan yang dilakukan para tamu di danau. Kecuali bila tamu menyewa perlengkapan dan boat dengan pengemudi kami.” Petugas front desk menjelaskan pada Tong Rang, tangannya menunjuk papan pengumuman di samping pintu masuk.

“Saya tidak butuh lifeguard.” Tang Rong langsung berbalik, “Hey, Rudi! Orang sini saja bilang itu danau!” Tong Rang berlari keluar lobby, turun melangkahi tangga-tangga batu, menuju kamarnya.

“Dasar gila!” rutuk Rudi menggeleng-gelengkan kepala. “Apa dari dulu dia selalu begitu?”

“Ada kalanya dia bertingkah sesuai usia dan keahliannya. Tapi kali ini dia kayaknya makin gila.”

Kami berdua duduk di lobby, menghadap danau. Langit mendung, tak terlihat semburat jingga di cakrawala penanda senja. Air danau hijau gelap. Di tepiannya beberapa wisatawan menikmati panorama. Tim di dalam kamar, entah apa yang dikerjakannya, yang pasti tidak sedang Skype dengan istrinya, karena masih terlalu pagi di Washington D.C. Rudi bertanya apa aku ingin menelpon keluarga di Jogja. Kubilang aku baik-baik saja, aku yakin besok pagi semua akan kembali normal. Meskipun masih tinggal dengan orang tua, aku punya hidup sendiri, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tak ingin kubagi dengan mereka.

“Aku merasa kami ditembaki…” bisikku, “itu yang membuatku berbalik dan berlari. Kakiku saling membelit saking takutnya. Lalu aku jatuh…” kupegang bebatan di lengan kiri. Rudi membuang rokoknya yang baru dihisap dua kali. Ia menggeser kursinya, mendekat, memunggungi danau. Pandangannya tertuju padaku. “Aku melihat penjaga itu marah, mengacungkan senapannya, mengokangnya, lalu melepas tembakan, dua kali, diselingi kokangan, atau entah apa aku tidak tahu, kejadiannya begitu cepat. Kupikir ia tidak akan berhenti. Kupikir Tim dan Tong Rang mati… Kupikir aku akan mati…” aku tersengal.

“Jangan ditahan, Mia… keluarkan saja.”

“Selama 5 tahun bekerja dengan Tim, baru kali ini mengalami yang seperti tadi. Aku belum pernah terjun langsung di wilayah konflik saat sedang terjadi konflik.”

“Aku juga belum pernah. Aku pasti juga ketakutan kalau mengalami. Teman-temanku banyak yang suka motret perang… aku belum pernah melakukan, paling-paling demo di Jakarta, kerusuhan di sana-sini, atau bencana. Dulu, waktu masih sering ikut demo, sebelum reformasi…” Rudi bercerita. Kami bertukar kisah-kisah menegangkan yang pernah kami alami di masa lalu. Obrolan itu membuat otot-otot tubuh dan pikiranku rileks. Rasa takut memang sebaiknya dikeluarkan, bila disimpan ia akan menghantui.

Sambil menikmati rokok kedua Rudi bercerita tentang situasi Sangkhlaburi. Tidak ada bar atau kehidupan malam seperti di Bangkok dan Chiang Mai, tidak ada bangunan tinggi, tidak ada shopping mall. Ada sekitar selusin guesthouse dan hotel bagus, bersih, kamarnya dilengkapi air panas dan AC, semua terletak di tepi danau dengan pemandangan ke arah dataran rendah dan perbukitan. Guesthouse atau hotel bagus rata-rata mematok tarif 200 Baht untuk kamar dengan fan dan kamar mandi di luar. Kamar ber-AC dengan kamar mandi di dalam tarifnya antara 700 Baht hingga 900 Baht, tergantung ukuran kamar dan fasilitas lain seperti TV, ukuran bed, teras dan sebagainya. Ia belum menemukan restauran fancy, hanya warung-warung kecil dengan masakan Thailand dan Burma. Namun semua hotel dan guesthouse dilengkapi restauran dengan menu Eropa, Thailand, dan Burma. Harganya rata-rata 40 – 90 Baht per porsi.

“Aku heran… Tong Rang kayaknya sama sekali tidak terganggu,” gumamku, setelah cerita Rudi tentang Sangkhlaburi berhenti.

“Mungkin sebenarnya dia takut,” ujar Rudi.

** 

Restoran setengah penuh, tetamu hotel ini lebih banyak berwajah Asia. Sambil makan malam kami membahas pekerjaan. Rudi dan Tim, yang sudah tahu lingkungan sekitar, paling banyak bicara. Tong Rang mendengarkan dengan seksama, dua tangannya sibuk sekali, berganti-ganti antara mencatat di buku kecil dan memasukkan makanan ke mulutnya. Ia sangat kelaparan sehabis berenang.

“Angel’s Hand ada di sini, tak jauh dari hotel,” Tim menggelar peta setelah pelayan restoran mengangkat semua piring dan sisa-sisa makanan dari meja. “LSM ini jadi rumah singgah untuk anak-anak yatim piatu dan ibu muda korban konflik. Semuanya dari Burma,” Tim menatapku, “ini tugasmu besok pagi, Mia. Cari tahu sebanyak mungkin tentang kegiatan mereka. Kita harus menyusun proposal untuk mereka.”

“Rudi, kamu ikut Mia dulu. Kalau sudah selesai, kalian menyusul Tong Rang. Ia ada FGD dengan stateless people, di permukiman di seberang danau itu.” Mata Tim beralih ke Tong Rang. “Kamu akan ditemani Yan Aung. Pengungsi yang sudah punya local ID yang sehari-harinya berdagang buah di pasar.”

“Aku tidak perlu translator,” Tong Rang memotong.

“Dia bukan melulu translator. Ia pemandu, sudah dikenal dan dipercaya orang-orang di permukiman itu. Tanpa Yan Aung, mereka tidak mau bicara,” Tim membetulkan letak kacamatanya, memandang kami bergantian. “Ingat, kita harus low profile…”

Kami membahas pekerjaan sampai sekitar pukul 9. Aku menguap, rasa meriang mulai mengganggu. Antibiotik sudah kuminum. Dokter juga memberiku paracetamol yang akan kuminum sebelum tidur. Mungkin sebaiknya aku tidak melakukan gerakan yoga apapun malam ini, lebih baik melakukan dhirga swasam. Rudi memberi isyarat pada pelayan yang sedang bercanda dengan anak perempuan usia 6-tahunan, berambut keriting pirang, anak salah satu tamu hotel yang sejak tadi menonton acara musik di TV sambil menari-nari sementara orang tuanya makan.

Gerimis turun. Kami keluar restoran, berpisah menuju ke kamar masing-masing. Beberapa meter dari bungaloku, Tim merangkul pundakku dari belakang. “Jangan lupa obatnya. Semoga kamu tidur nyenyak. Kalau perlu sesuatu, jangan ragu-ragu…”

Sejak di klinik tadi, Tim memberiku perhatian yang kurasakan sangat personal. Perhatian yang menurut ingatanku tidak ia berikan sebelumnya.

*** 

Catatan: 
• FGD atau Focus Group Discussion merupakan salah satu metode riset kualitatif yang paling terkenal selain wawancara. FGD adalah diskusi terfokus dari suatu kelompok untuk membahas suatu masalah tertentu, dalam suasana informal dan santai. Jumlah pesertanya antara 8-12 orang, dilaksanakan dengan panduan seorang moderator. Kualitas hasil FGD sangat bergantung pada keahlian moderatornya. 
• Stateless people: orang tanpa kewarganegaraan karena berbagai alasan; bagi yang ingin tahu lebih banyak bisa klik di sini. 
• Dhirga swasam: pernapasan penuh (dalam) dengan memanfaatkan bahu, dada dan diafragma. Di antara manfaatnya adalah mengendurkan otot-otot tubuh dan menenangkan pikiran. 


Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…