Artikel Baru

Tuesday, October 16, 2012

Mari Menulis Cerpen!


Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!

***

Sejarah Cerita Pendek 

Cerita pendek atau cerpen biasanya adalah karya fiksi yang padat dan langsung pada tujuannya. Cerpen fokus pada satu atau beberapa tokoh dengan satu plot, tidak ada sub-plot.

Kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer adalah cikal bakal dari cerita-cerita pendek, walaupun pada jamannya kisah-kisah ini didongengkan dalam bentuk puisi yang berirama, agar mudah untuk diingat dan diulangi kembali oleh pendengarnya. Maklum, saat itu semua kisah didongengkan oleh para master pendongeng secara lisan, dan kita semua tahu bahwa sebuah lagu dengan irama yang catchy lebih mudah untuk diingat ketimbang kata-kata panjang yang musti dihafalkan. Jadi, musikalisasi puisi atau novel atau pun cerpen yang dilakukan sekarang-sekarang ini sebenarnya hanyalah daur ulang dari cara mendongeng pada masa-masa purba.

Fabel atau cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan moral di dalamnya, juga merupakan bentuk cerita pendek kuno. Dalam pandangan literatur Indonesia, fabel lebih sering diartikan sebagai cerita yang tokoh utamanya adalah binatang. Contoh yang paling populer adalah Si Kancil yang Cerdik, Kelinci dan Kura-kura.

Cerpen kuno lainnya adalah, saga, mitos, dan legenda. Saga adalah cerita kepahlawanan. Misalnya Si Pitung. Mitos adalah cerita yang mistis, terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat, contohnya, Nyi Roro Kidul. Legenda adalah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Surabaya.

Bentuk-bentuk kuno cerita pendek ini didongengkan secara lisan, dari mulut ke mulut. Jelas bahwa, cerita pendek yang kita kenal sekarang ini sudah memiliki sejarah yang sangat panjang sejak jaman purba. Perumpamaan yang sering kita jumpai dalam kitab-kitab suci atau amsal juga merupakan bentuk kuno dari cerita pendek. Mereka umumnya adalah kisah realistis berisikan pesan atau tujuan tertentu.

Ketika tradisi mendongeng secara lisan mulai beralih ke dalam bentuk tulisan, pada awal abad ke-14 di Eropa, terbitlah kumpulan cerpen (kumcer) karya Geoffrey Chaucer, berjudul Canterbury Tales dan Kisah Seribu Satu Malam karya Antoine Galland yang menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa pada abad ke-18 tersebut.

Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genre tersendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek, misalnya Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara yang kita kenal hingga sekarang dan cerpen-cerpen ‘gelap’ karya Edgar Allan Poe. Seiring dengan pertumbuhan majalah dan jurnal di abad 19 dan 20, lahir juga permintaan pasar yang kuat untuk fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya.

Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar pada saat itu, hingga cerpen dibayar dengan harga tinggi. Bahkan, F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya. Kegandrungan pembaca akan cerita pendek, nampak ketika pada tahun 1952 majalah Life menerbitkan cerita pendek Ernest Hemingway yang lebih pantas disebuat sebagai novella, berjudul Lelaki Tua dan Laut. Majalah yang memuat cerita ini terjual 5.300.000 eksemplar hanya dalam waktu dua hari.

Jelas sekali cerpen pernah mengalami masa keemasannya, lalu menjadi semakin berkurang dari sisi komersial. Namun menemukan kembali napas baru lewat penerbitan online, baik melalui blog-blog pribadi maupun antologi-antologi yang diterbitkan secara indie. Bahkan kini, beberapa penerbitan komersil mulai mengadakan berbagai macam lomba antologi cerpen.

Cerpen dan Elemen-elemen di Dalamnya 
Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.

Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.

Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.

Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu:
1. Unsur Intrinsik 
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
- Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.

- Latar (setting) adalah tempat, waktu, suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.

- Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita. Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
b. Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
c. Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.

Alur meliputi beberapa tahap:
a. Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita. b. Penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
c. Puncak ketegangan/klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
d. Ketegangan menurun/antiklimaks : masalah telah berangsur-angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
e. Penyelesaian/resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.

- Perwatakan Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
a. Dialog tokoh
b. Penjelasan tokoh
c. Penggambaran fisik tokoh

- Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

 2. Unsur Ekstrinsik 
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
- Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
- Latar belakang kehidupan pengarang
- Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan

Tips Seputar Menulis Cerpen
Judul. Banyak pengarang yang tidak terlalu memikirkan judul. Padahal judul penting untuk menarik perhatian ketika pertama kali membaca tulisan tersebut. Judul harus tidak biasa-biasa saja sehingga membuat siapapun yang membacanya merasa ingin tahu. Judul yang keren! Kira-kira apa ya isi ceritanya? Sepertinya menarik. Penulis perlu memikirkan bagaimana sebuah judul merefleksikan isi cerita.

Paragraf awal. Kualitas tulisan harus sudah terlihat sejak paragraf pertama. Tarik pembaca langsung kepada kejadian tertentu dalam cerita. Tunjukkan apa kejadian besar yang sedang terjadi, baru lakukan flashback. Bahkan bila perlu, tokoh sedang berada dalam situasi tertentu dan melakukan sesuatu sejak dari awal cerita. Visulisasikan adegan pertama seperti di dalam sebuah film, sesuatu sedang terjadi dan direkam oleh kamera.

Perhatikan detil. Tajamkan fokus pada kegiatan yang terjadi sehari-hari karena sebuah cerpen merekam kejadian dari menit ke menit tanpa membuat pembaca bosan karena monoton. Ingat film seri 24? Pelajari bagaimana mereka melakukannya.

Setting. Setting cerita harus menarik atau berbeda. Ia harus mampu membawa pembaca juga merasa hadir di sana. Dia tidak hanya terbatas pada dunia sehari-hari yang dikenal penulisnya dan kadang-kadang membatasi imajinasi penulis. Karena itu, jangan hanya menulis apa yang kamu ketahui saja (sebab apa yang kamu tahu sangat sedikit, terbatas bahkan bisa jadi membosankan dibandingkan dengan apa yang tidak kamu ketahui) tetapi lakukan eksplorasi, tulis hal-hal yang menarik perhatianmu atau apa yang ingin sekali kamu lakukan tetapi belum pernah kamu lakukan. Bawa pembaca kepada sebuah dunia dan waktu yang unik dan menggelitik rasa ingin tahu mereka.

Karakter. Karakter selalu lebih menarik daripada plot. Cerita-cerita yang menarik selalu menunjukkan bagaimana tokoh dalam cerita mengalami perubahan. Apakah perubahan persepsi, atau sebuah pemahaman baru tentang kehidupan mereka atau kehidupan orang lain, atau memperoleh sudut pandang baru dari pengalamannya. Pembaca harus dapat berempati kepada tokoh utama. Tokoh utama yang tidak mengundang simpati pun dapat menjadi menarik asal saja ia memiliki sisi-sisi kepribadian yang dapat diperbaiki. Tidak ada manusia yang sepenuhnya baik atau buruk. Pikirkan apa yang sudah membuat karaktermu seperti dirinya sekarang ini?

Penggunaan bahasa. Penulis yang keren adalah mereka yang mampu bermain-main dengan kata-kata. Ia mampu menciptakan metafora dan penggambaran yang menakjubkan. Hati-hati dengan kalimat-kalimat klise, cobalah untuk menciptakan sesuatu yang baru. Buat variasi panjang kalimat dan panjang paragraf yang berbeda-beda. Pakai kalimat pendek untuk membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. Kalimat-kalimat yang lebih panjang untuk memperlambat alur dan memberikan rasa nyaman. Jangan lupa untuk menunjukkan. Tujukkan emosi tokoh, tunjukkan apa yang dilakukan tokoh, tunjukkan adegan-adegan yang penting. Bawa pembaca memasuki dunia tokoh cerita dengan menunjukkan kepada mereka apa yang sedang terjadi. Libatkan pembaca ke dalam cerita.

Penggunaan indera. Gunakan kelima indera. Gambarkan suasana sekeliling dan apa yang dirasakan. Bagaimana keadaan udara saat itu, apa aroma yang tercium ketika tokoh melangkah ke dalam sebuah ruangan atau tempat, deskripsikan semua itu dengan mempergunakan kelima indera.

Keorisinilan. Perbesar cakrawala berpikirmu. Penting untuk melangkah lebih jauh dan keluar dari sudut nyaman. Masuklah ke dalam kondisi emosional paling ekstrim yang pernah kamu rasakan. Cobalah untuk mendeskripsikannya. Lalu letakkan ia ke dalam sebuah konteks yang sama sekali berbeda. Karanglah sebuah setting baru. Bentuklah tokoh yang sama sekali berbeda dengan diri sendiri. Lihat apa yang akan dilakukan tokoh tersebut dengan semua atribut yang diberikan kepadanya.

Struktur. Struktur sebuah cerita selalu menarik untuk diamati. Sebuah struktur yang berbeda, apabila dilakukan dengan benar dapat menjadi sangat menarik dan memberikan nilai tambah. Seperti apa sih struktur itu? Misalnya, sebuah cerita pendek dalam bentuk surat atau email, atau diceritakan melalui sudut pandang dua tokoh utama secara bergantian.

Berkesankah ceritamu? Banyak sekali cerita-cerita pendek yang telah dibaca oleh pembaca. Apakah ceritamu mengesankan? Sebuah cerita yang bagus pasti akan meninggalkan kesan yang mendalam bahkan setelah waktu yang lama. Imaji yang dituliskan menempel di dalam ingatan demikian juga karakter-karakter di dalamnya, mereka nampak menonjol dalam ingatan sehingga mereka tetap tinggal dalam kenangan.

Layout dan presentasi. Penting. Dari layoutnya saja sudah ketahuan apakah ceritanya akan menarik atau tidak. Pengarang yang peduli pada isi cerita akan peduli juga penampilan ceritanya.

Pesan moral dan tema. Pembaca tidak seharusnya dipaksa untuk bekerja keras memahami apa pesan yang hendak disampaikan oleh sebuah cerita. Apabila pembaca ternyata merasa dipaksa bekerja keras memahami isi cerita, berarti cerita itu kurang jelas. Buatlah prosa dengan gaya bercerita yang jelas, tanpa kata-kata yang tidak perlu.

Dialog yang baik dan otentik. Penting. Apa saja yang dikatakan oleh seorang tokoh harus diperhitungkan dengan cermat. Jangan memasukkan dialog yang tidak perlu. Dialog harus konsisten dan punya makna untuk jalan cerita. No chit-chatting.

Kebenaran emosional. Tokoh harus bisa memberikan kepada pembaca pengalaman emosional yang dikenali oleh pembaca dan juga dirasakan oleh pembaca sehingga pembaca dapat berkata, "Astaga, tepat seperti yang saya rasakan!" Harus terjalin hubungan antara emosi pembaca dengan tokoh cerita.

Ekonomis. Sebuah cerita pendek harus ekonomis. Ia harus dikerjakan dengan ketat dan cermat. Setiap kata yang dipakai harus diperhitungkan, apakah ia memang sesuai dan diperlukan untuk cerita tersebut. Inilah bedanya cerita pendek dengan novel. Dalam cerita pendek fokus pada satu topik utama, sangat penting.

Ending yang memuaskan! Banyak cerita pendek yang dirusak oleh endingnya sendiri. Memang nggak gampang untuk menciptakan ending yang sempurna, apalagi karena adanya tuntutan pada akhir cerita tokoh harus mengalami perubahan atau pemahaman tertentu tentang dirinya, dunia mereka atau pengalaman mereka. Yang jelas, akhir cerita harus merupakan permulaan dari sesuatu yang baru walaupun tidak perlu sangat dramatis. Ia hanya perlu menjanjikan ada sebuah hari baru di cakrawala.

Minimalis: less is more! Seringkali, apa yang dibiarkan tanpa perlu dijelaskan dapat memberikan efek nonjok banget yang tepat saat menyampaikan pesan di dalam cerita. Biarkan dan bebaskan pembaca untuk mengambil kesimpulan sendiri.

Edit,edit,edit,edit,edit dan edit lagi! Tulislah karangan awal dengan sepenuh hati, tuangkan ide sebebas-bebasnya, namun saat melakukan revisi, jadilah seorang editor yang kejam terhadap hasil karya sendiri. Pahat karya tulis itu sedemikian rupa sehingga ia mencapai bentuknya paling sempurna.

*** 

Ditulis oleh G. Siahaya -  materi Festival Social Media, Oktober, 2012


Catatan: tulisan ini boleh dipakai sebagai rujukan,  diprint untuk bahan belajar, asal menyebutkan sumbernya, dan bukan untuk dijual atau dikomersilkan.

15 comments:

  1. wuiihh bermanfaat banget nih untuk panduan menulis cerpen.. terima kasih artikelnya :D

    ReplyDelete
  2. Edgar Allan Poe. jadi ingat kalau ada judul film 'the raven' yang menceritakan tentang pembunuhan berantai yang dimana trik-triknya diambil dari novel-novel edgar allan poe. dan benar, edgar sungguh detail menceritakan isi ceritanya sampai bisa ditiru detailnya oleh si pembunuh.

    dan benar lagi, cerita yang hebat berasal dari pemikiran yang detail. makasih kampung fiksi.. :)

    ReplyDelete
  3. luar biasa tips nya, semoga menambah kesadaran kita tentang pentingnya suatu karya,semangat!

    ReplyDelete
  4. Kumplit, mencerahkan untuk digunakan sebagai panduan menulis cerpen. Bravo

    ReplyDelete
  5. sudah banyak tips yang aku baca, semua nya keren beken. mantap menambah wawasan dan tentunya motivasi. tapi nih, PR besarnya adalah memulai. Yah, mulai megang bolpen atau menyentuh keyboard laptop untuk nulis. Makanya aku selalu nyediain alat tulis dan buku di samping bantalku.

    ReplyDelete
  6. sangat bermanfaat bagi pemula yang pengen belajar nulis.

    ReplyDelete
  7. Tulis dan tumpahkan dulu lalu sempurnakan..
    SAlam karya..

    _GP

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca dan meninggalkan komentar. Kritik dan saran untuk memperbaiki tulisan, sangat diharapkan dan dihargai. Semua komentar dimoderasi dulu sebelum tampil di blog. Salam Kampung Fiksi.