Skip to main content

Seru Dan Basah!

Kampung Fiksi dan Story Lab
Persis banget dengan main polo air: seru dan basah. Begitulah kesan keseluruhan acara ngobrol bareng dengan Kampung Fiksi dan Story Lab dalam acara Social Media Festival, Sabtu, 13 Otober, 2012, di Gelanggang Renang Senayan, Jakarta.

Perkara seru itu sudah dijamin, sebab acara ini dipandu oleh MC keren Andi Gunawan, yang kelangsingan body-nya bikin iri para emak Kampung Fiksi. Tapi kok pakai basah??? Itu gimana ceritanya??? Itu dia! Bayangkan… acara keren ini diselenggarakan di Gelanggang Renang Senayan, di saat matahari lagi royal-royalnya melimpahi langit Jakarta dengan sinarnya. Apalagi sepanjang hari Sabtu itu kelembaban udara kota Jakarta luar biasa tinggi, menurut Nona Google Weather mencapai 81%. Alhasil, keringat mengucur deras, serupa hujan di bulan Januari (entah ini judul puisi siapa), dari pori-pori puluhan orang yang mondar-mandir menyiapkan dan mengikuti acara asyik ini.

Dihadiri oleh sekitar 50 peserta – termasuk panitia Kampung Fiksi dan Story Lab - acara yang berlangsung 1 jam ini berjalan lancar, penuh canda dan pastinya…. diselingi aksi foto-foto. Peserta mendapat goodie bag berisi: materi tertulis dari Kampung Fiksi, sekeping DVD dari Story Lab, snack, air mineral, dan sebuah pin imut khas Kampung Fiksi.

Ngobrol bareng Kampung Fiksi dan Story Lab yang mengetengahkan tema ‘Dari Cerpen Jadi Short Movie’ ini dimulai sedikit terlambat karena alasan teknis (kayak perusahaan penerbangan kita, ya… apa-apa yang disalahkan Si Teknis). Terlepas dari itu, Andi Gunawan berhasil memandu dengan baik: santai, kocak, dan seru.

Kampung Fiksi menampilkan tokohnya yang paling tersohor seantero kampung: Winda Krisnadefa. Story Lab diwakili oleh juragannya: Nuraziz Widayanto.

Memperkuat Otot Menulis 

Winda dan Andi Gunawan
Winda memperbagikan pengalamannya menulis fiksi, khususnya cerita pendek atau cerpen. Menurut Winda, menulis apapun, termasuk fiksi, tujuannya untuk menyampaikan ide. Dalam fiksi, ide disampaikan lewat jalinan cerita, lewat pikiran atau opini dan dialog para tokoh di dalam cerita.

Ide dan ilham bisa diperoleh dari mana saja, dari lingkungan sekitar dan kehidupan sehari-hari. Kemampuan orang menangkap ilham dari lingkungan sekitar itu berbeda-beda, namun bisa diasah. Caranya? Di antaranya: banyak membaca, eksplorasi dan observasi lingkungan, melakukan penelitian atau riset, dan bila perlu bergabung dengan komunitas menulis. Biasanya di dalam komunitas menulis para anggotanya saling membantu memberi masukan untuk memperbaiki kualitas tulisan. Winda mengatakan agar bersikap obyektif dan terbuka dalam melakukan hal-hal di atas, tidak menghakimi, tidak cepat menilai, karena semua itu ditujukan untuk membuka dan memperluas wawasan.

Winda memberi penekanan pada pentingnya membaca untuk memperkaya wawasan. Si Emak yang ngaku-ngaku gaul ini, saking seringnya menulis sambil ngurus dapur, mengibaratkan hubungan membaca dengan menulis ini serupa cangkir dengan teko. Kalau teko (otak kita) kosong akibat jarang membaca, gimana bisa menuangkan isinya ke dalam cangkir. Jiah!

Masih menurut Winda, seperti kegiatan lainnya, kemahiran menulis perlu dilatih agar kualitas tulisan meningkat. Ia menyarankan agar penulis harus rajin-rajin melatih ‘otot menulis’, maksudnya disiplin dan focus dalam berlatih. Nah… ternyata memang persis kayak main polo air. Kalau nggak rajin berlatih, bisa tenggelam saat melempar bola gara-gara otot-otot kurang kuat. Namun bila giat melatih otot-ototnya, kemungkinan besar lemparan bolanya mampu menembus gawang, alias karangannya berhasil diterbitkan jadi buku, dimuat di majalah atau koran, memenangkan lomba menulis cerpen, atau setidaknya memuaskan pembacanya.

Show Don’t Tell 

Winda - Nuraziz - Andi Gunawan
Salah satu rumus yang dianggap paling jitu untuk menghidupkan cerita adalah “show don’t tell” atau “lukiskan jangan jelaskan”. Rumus ini lazim dipakai oleh penulis. Apa maksudnya? Kira-kira begini: untuk mengajak pembaca lebih meresapi tulisan, sebaiknya penulis jangan memakai terlalu banyak kata sifat untuk mewujudkan gagasannya, namun melukiskannya.

Misalnya penulis ingin menuliskan tangisan Tono. Ada dua pilihan:
Satu, menjelaskan dengan kata sifat: “Malam itu Tono menangis keras sekali.”
Dua, melukiskan: “Tangisan Tono malam itu membangunkan seisi kampung.”

Kalimat pertama itu masuk kategori ‘tell’ dan yang kedua disebut ‘show’.

Menurut Nuraziz Widayanto salah satu hal paling vital dalam membuat film adalah menghindari kata sifat. Adegan film harus bisa dinikmati secara visual, gagasan yang ingin disampaikan dapat dimengerti penonton tanpa bantuan kata-kata.

Untuk menunjukkan pentingnya unsur ‘show’ - atau visual - dalam film, Story Lab mengadaptasi cerpen menjadi film pendek. Cerpen karya Ramdhani Nur berjudul Warna Warni Marni divisualisasi menjadi film berjudul Demi Malam. Dari tayangan film itu terlihat perbedaan antara cerpen (tulisan) dengan film (visual) sebagai media penyampai gagasan. Dalam cerpen pembaca mendapat kemewahan untuk ‘membayangkan sendiri’ jalannya cerita, termasuk wajah tokoh-tokohnya. Dalam film penonton dimanjakan menikmati langsung jalan cerita – termasuk wujud para tokohnya - lewat rangkaian adegan yang bisa ditangkap langsung oleh mata dan telinga. Cerita yang disampaikan lewat cerpen dan film masing-masing punya kekuatan, yang tidak bisa dibandingkan, dan memiliki cara berbeda untuk menyentuh rasa penikmatnya.

Story Lab juga menayangkan karya lainnya berjudul Omnibus Rahasia.

Karena ketatnya waktu, dua film yang membuat peserta tak berkedip itu tidak sempat dibahas tuntas. Peserta juga tidak berkesempatan bertanya pada Winda dan Nuraziz. Namun Kampung Fiksi dan Story Lab masing-masing membuka pintu untuk obrolan lebih lanjut, lewat blog, lewat twitter, maupun page Facebook. Blog Kampung Fiksi pasti udah pada tahu, kaaan? Kalian lagi pada mantengin blog paling keren sedunia fiksi ini. Kalau blog Story Lab, bisa dikunjungi lewat tautan ini: http://www.storylab.co.cc/

Penyerahan Hadiah Kuis Smartfren 

TJ Ria Tumimomor dan Shanty Handayani
Untuk memeriahkan acara festival ini, Kampung Fiksi kerja bareng dengan Smartfren menyelenggarakan serangkaian kegiatan online lewat twitter. Tentunya khusus ditujukan pada para sahabat Kampung Fiksi yang jari-jarinya lihai ‘mengoceh’ lewat twitter. Kegiatan online yang asyik ini dipandu oleh Tweet Jockey - TJ - Ria Tumimomor.

Acaranya meliputi interview on twitter antara Kampung Fiksi dengan Story Lab yang dilangsungkan pada Minggu, 7 Oktober 2012. Dilanjutkan dengan interview oleh SmartFren World pada Kampung Fiksi, Senin, 8 Oktober 2012.

Acara live twitter ini makin seru karena ada kuisnya, berturut-turut selama 3 hari dari Selasa, 9 Oktober sampai Kamis, 11 Oktober 2012. Kuis dilangsungkan live dari pukul 12 siang sampai 5 sore. Setiap hari, TJ Ria dibantu oleh tim Kampung Fiksi memilih 1 pemenangnya.

Pembagian hadiah untuk 3 pemenang diserahkan pada saat acara ngobrol bareng ini. Berikut ini nama-nama pemenang kuis:
• Nisa Aulia dari Jakarta, atau @nisafu
• Shanty Handayani dari Jakarta, atau @shantyadhitya
• Yennesy Damayanti dari Padang, Sumatera, atau @cisy_sakura

Hadiah untuk pemenang dari Jakarta langsung diserahkan dalam acara kolaborasi ini. Untuk pemenang asal Padang hadiahnya dikirimkan lewat pos. Mau tahu hadiahnya? Masing-masing menerima satu set USB modem Smartfren CE682. Asyik, kan? Makanya… lain kali ikutan kalau kami bikin acara kayak ginian!

Foto, Video, dan Materi

Untuk sahabat Kampung Fiksi yang tidak bisa hadir tapi pingin tahu sebasah dan seseru apa acaranya, bisa ngintip tautan ini untuk menikmati foto-fotonya di akun google  dan akun Facebook kami.

Salah satu sahabat KF paling-konyol-dan-lucu-tapi-tidak-unyu dengan brand name Hazmi Srondol, berbaik hati merekam kegiatan basah ini dalam video 6 menit. Sudah diunggah di YouTube. Pengin lihat? Ini tautannya: http://www.youtube.com/watch?v=c4PIcR5qSd0&feature=plcp . Hati-hati yaaa... selain basah, bisa lengket… saking banyaknya keringat!

Sahabat Kampung Fiksi yang ingin mendapat materi tertulis dari Kampung Fiksi dalam acara tersebut bisa menuju tautan ini: Mari Menulis Cerpen! 

Kampung Fiksi menyampaikan berkarung terima kasih untuk para sahabat yang sudah ikut bikin seru acara ini. Penghargaan kami yang tinggi untuk para mitra: Smarfren, Story Lab, dan Panitia Festival Social Media 2012. Acara ini bikin ketagihan, kapan ya bisa ngadain acara lebih seru lagi, dan berbasah-basah kembali? 

***

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…