Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2012

Tembak di Tempat 6

Bagian 6
Tim menggelar peta tanpa skala wilayah Sangkhlaburi dan Three Pagodas Pass.

“Ini lokasi kamp pengungsian Ban Luang. Kita akan ke sana lusa. Seorang teman di UNHCR sudah memastikan kita dapat clearance. Kontak kita, namanya Naing Naing, akan menunggu di pertigaan ini,” Tim menandai lokasi itu dengan tinta merah, “Dia jurnalis. Punya banyak kontak,” Tim menyebut nama sebuah majalah berita internasional, “orang di sini mengenalnya sebagai relawan Angel’s Hand.”

Pagi itu sehabis sarapan aku dan Rudi akan menuju kantor Angel’s Hand. Sambil mendengarkan penjelasan Tim, Rudi mengeluarkan rokok dari saku celana kargonya.

“Tolong ambil sebanyak mungkin foto kegiatan mereka, terutama anak-anak,” Tim menatap Rudi. “Proposal yang kita susun ini untuk pendidikan anak-anak. Mirip yang kita buat tahun lalu.” Mata Tim beralih menatapku. Aku ingat. Kami bisa mencarikan dana US$10 ribu untuk sebuah LSM lokal di Chiang Mai. Lumayan. Mereka bisa membangun perpustakaan kecil dengan uang itu.

[Kamis Tips Nulis] Genre Dalam Fiksi

  Wah, udah lama juga gue puasa menulis dan beneran deh... Semua tips and trik menulis itu gak akan ada gunanya kalau gak dipraktekkan. Karena gue merasa sendiri nih blank-nya pas baru mau memulai menulis lagi. Yang ada gue bengong lamaaa dan berakhir dengan baca buku cerita alias menulisnya gak maju-maju.

Oh? Baca buku cerita apa nih? Gue suka cerita-cerita mistery pembunuhan sejak SMP. Salahin temen gue deh yang meminjamkan buku Agatha Christie yang mengenalkan gue dengan detektif Hercule Poirot. Jadilah sejak itu gue demen dengan cerita-cerita misteri lalu merambat ke cerita hantu kemudian ke cerita fantasy lainnya. Dan gue nyaris tidak pernah membaca cerita romance, entah yang versi lokal ataupun terjemahan. Dan ternyata, hal ini berpengaruh banget pada tulisan-tulisan gue. Coba tanya temen-temen gue yang pasti pada ngakak kalau mendengar gue mengarang cerita romance. Langsung kutu gue mati semua tuh (idih. gue punya kutu?).

Tembak Di Tempat 5

Bagian 5
Hotel yang akan kami tempati selama 4 malam ini lebih tepat disebut guesthouse, kamar-kamarnya terpisah satu sama lain, menyerupai bungalo, berderet ke bawah menuju danau. Kamar Tim berada paling ujung, juga paling besar agar kami bisa rapat di situ. Sejak masih di Bangkok Tim sudah minta Rudi untuk mengatur supaya ruang duduk di kamarnya diberi meja dan empat kursi, tempat kami rapat dan bekerja.

“Nggak sabar ingin berenang di danau,” gumam Tong Rang.

“Itu bukan danau, itu reservoir!” Sergah Rudi.

“Apa bedanya?” Tong Rang ngeyel.

Tim menatap dua anak buahnya dengan cara yang membuat mereka berhenti bercanda, lalu duduk. Ia punya kemampuan menyuruh orang mematuhinya lewat tatapan mata. Aku merasa sedikit lemas, mungkin karena pain killer yang kuminum dan obat anti tetanus yang disuntikkan ke tanganku, sekitar 2 jam lalu. Rudi mengkhawatirkan lengan bawah kiriku yang dibebat perban, persis dari bawah siku hingga tiga senti dari pergelangan tangan. Kujelaskan kalau dokter mela…

Tembak Di Tempat 4

Bagian 4

Ternyata perjalanan sekitar 6 jam dari Bangkok menuju Three Pagodas Pass menyenangkan. Sepanjang jalan mataku menikmati rangkaian perbukitan yang hijau-teduh-rimbun. Jalan yang dilewati mulus, tidak kalah dengan jalan-jalan raya lintas negara bagian di Amerika. Masing-masing jalur untuk satu arah dan tiap jalur terdiri atas 2 lajur. Sangat nyaman untuk perjalanan jarak jauh.

Kendaraan yang berpapasan di sepanjang perjalanan sebagian besar keluaran terbaru. Four-wheel drive berbagai merk aneka warna. Setiap kendaraan itu kupandangi penuh kekaguman. Aku jadi ingin tahu siapa pemilik kendaraan-kendaraan itu. Menurut yang kubaca, penduduk di wilayah itu sebagian besar petani.

“Four-wheelers itu milik para petani,” jelas si supir, seperti mengerti isi pikiranku. Ia melihatku melalui kaca spion. Nama lengkapnya Saw Ku Moe, namun lebih senang dipanggil Mo, katanya agar mudah diingat. Ia lahir di Burma. Bersama keluarganya Mo pernah menjadi pengungsi di salah satu kamp pengungisan di…

[Serial Kamis Tips Nulis] Proses Menulis

Apa yang menjadi motivasi kamu untuk menulis? Sekedar menuangkan keluar apa yang ada di kepala alias uneg-uneg yang sudah membuncah? Self-therapy? Ingin berbagi informasi dengan orang lain? Hobby? Hati terasa senang ketika menyadari ada kekuasaan disana untuk menentukan nasib para tokoh ciptaannya? Atau uang? Atau ketenaran?

Kalau kalian menebak gue hendak membahas tentang JKR lagi, tepaaat sekali!  Dalam video yang gue tonton itu, diceritakan soal proses yang berjalan setelah ia menyelesaikan naskah. Orang mungkin sulit untuk percaya jika prosesnya terlihat biasa-biasa saja bahkan nyaris membosankan. Setelah ia selesai menulis, naskah itu ia print dan bersama dengan editornya mereka membaca ulang bersama. Memastikan tidak ada yang terlewat. Ada proses menyusun, membaca ulang, menulis ulang, lalu dibaca ulang lagi, di edit dan seterusnya. Memang begitulah yang seharusnya dilakukan oleh setiap penulis. Kalau JKR punya editor, kita juga bisa meminta tolong teman untuk membantu membaca,…

[Serial Kamis Tips Nulis] Stop Pleasing Everybody

Gue masih melanjutkan nonton video wawancara JK Rowling yang diberikan oleh sesama bungloner ke gue. Ceritanya tentang JK Rowling yang baru saja menyelesaikan naskah Harry Potter buku terakhir. Setelah perjalanan panjang selama 17 tahun! Wow!

Anyway, JKR bilang bisa aja naskah yang telah selesai ini hanya sampah. Banyak orang yang akan gak suka sama cerita ini. Bisa jadi mereka gak suka sama akhir dari ceritanya yang berbeda dari harapan mereka sebagai para die-hard fans Harry Potter.

[Serial Kamis Tips Nulis] Don't Turn Yourself Into Your Fiction Character

Tgl 31 July di media sosial twitter sempat trending ucapan Selamat Ulang Tahun Harry Potter dan JK Rowling - penciptanya. Ternyata JKR dan Harry Potter tokoh fiksi rekaannya berulang tahun di hari yang sama.

Ngobrolin soal Harry Potter dan JK Rowling, temen gue yang juga sesama bungloner Kampung Fiksi mengirimkan bagian pertama dari interview dengan si penulis Harry Potter.

Dari video bagian pertama yang dikirimkan ke gue itu diceritakan betapa meninggalnya sang ibu sangat mempengaruhi JKR. Dan kesedihan yang sama itu juga (ceritanya) di rasakan si tokoh Harry Potter. Lalu diceritakan pernikahan JKR yang berumur 2 tahun dengan seorang puteri itu berakhir dengan perpisahan. Dan hal itu membuatnya sempat depresi dan ia menyadari betapa kacau kehidupannya. Dan depresi itu membuatnya mati rasa dan sepertinya ia tidak mungkin merasa kegembiraan lagi. Dan perasaan depresi ini yang menginspirasinya untuk menciptakan tokoh dementor. Mereka diceritakan memangsa kesedihan, ketakutan yang ada …

Tembak Di Tempat 3

Bagian 3
Terburu-buru aku keluar kamar hotel. Tim sudah berada di restoran untuk sarapan. Pagi ini aku kemrungsung sekali, mungkin terlalu banyak pikiran, sampai-sampai lupa memakai bra. Untung sewaktu menyusuri koridor hendak menuju lift aku merasa ada yang aneh di dadaku, rasanya semriwing, enteng dan lega; lalu aku berlari kembali ke kamar, tergesa-gesa memakai bra biru tinta itu, warna favoritku, selaras dengan rona kulitku.

“Kamu baik-baik saja, kan?” Tim manatap rambutku yang belum kering benar dan berbagai perlengkapan yang memenuhi kedua tanganku.

“Aku terlalu lama mendengarkan berita…” Sambil duduk kulolos ranselku dari punggung. Satu-satu perlengkapanku kumasukkan ke dalamnya.

“Jangan khawatir. Akhir-akhir ini situasi cukup terkendali. Suasana di sana tidak seseram yang ditulis media,” Tim meyakinkanku. Aku mendengus geli, sejak bangun tidur berkali-kali kuyakinkan diriku agar tidak perlu mengkhawatirkan situasi di lokasi yang akan kami kunjungi.

Tembak Di Tempat 2

Bagian 2
Rasa was-was tak mau pergi dari hatiku. Kurang dari satu jam lagi kami akan berangkat menuju Three Pagodas Pass. Menurut media, beberapa minggu terakhir konflik terbuka lebih sering muncul di kawasan perbatasan Burma-Thailand bagian barat itu. Berita di TV tadi malam menyebutkan kalau checkpoint – pos penjagaan – di sana ditutup sejak seminggu lalu, pasca konflik terbuka. Tujuh pengungsi Burma tewas ditembaki sekelompok lelaki berseragam militer.

Sejak bangun tidur – yang tidak nyenyak – berbagai bayangan buruk melintas di benakku: jalan rusak dan berdebu sebagaimana jalan-jalan di pedalaman Indonesia, munculnya sekelompok perampok menghadang kendaraan di jalan, kecelakaan yang direkayasa, pelemparan batu dari arah belukar di tepi jalan, kelompok gerilyawan bersenjata yang mencegat untuk minta uang, dan berbagai hal buruk lain yang sulit diperkirakan.

Meskipun khawatir, bayangan seram itu tidak kuberi kesempatan menyurutkan langkahku. Aku tahu media gemar melebih-lebihkan si…

Cuplikan Cerita Pendek G di Kotak Pandora

Ada tiga cerpen saya di antologi Kampung Fiksi yang terbaru: Kotak Pandora. Ketiga cerpen ini sudah pernah dimuat di blog beberapa waktu yang lalu. Jadi memang bukan cerpen-cerpen baru bagi mereka yang rajin berkunjung ke Kampung Fiksi dan memang suka membaca tulisan saya. Tetapi :) tentu saja cerpen-cerpen ini ketika akan diterbitkan sebagai buku mengalami revisi, penulisan ulang, sehingga memang ada perbedaannya dengan yang ada di blog.
Berikut ini, cuplikan-cuplikan ketiga cerpen:
Cerpen Headline! (Hal. 197-204) 
Apa yang memotivasi seseorang untuk melakukan sebuah tindakan, seringkali tidak dapat ditebak oleh mereka yang hanya melihat dari sisi luarnya saja. Bahkan mereka yang paling sukses sekalipun memiliki penderitaannya sendiri. Ada orang yang membangun tembok disekitar dirinya sehingga orang lain tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok tersebut.
"Di koran pagi itu, fotonya masuk menemani kepala berita, Young Entrepreneur Of The Year, begitu kora…