Skip to main content

Petualangan Kasenda dan Twittwit 11

.“Apa ini?” Gumamnya heran. Dibaliknya amplop itu dan menemukan tulisan: BUKA dan BACA. SEGERA! PENTING!!! Dengan penuh rasa ingin tahu cepat-cepat dibukanya amplop itu dan mengeluarkan kertas-kertas yang ada di dalamnya. Pada kertas paling atas tertulis: Baca dari halaman 1. “Baiklah, baiklah.” Kini dia merasa sangat ingin tahu. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh lima menit. Sebuah tulisan tangan yang besar-besar dan jelas, walau nampak ditulis secara tergesa-gesa kini terpampang di depan matanya. Pada pojok kanan atas tertulis: halaman 1. Kasenda mulai membacanya.

Dear Kasenda, lima menit dari sekarang, kalau jam dinding menunjukkan pukul 08:00 kamu akan ingat kembali siapa dirimu di dunia yang ini. Kita, sudah mengalami hal ini berulang-ulang. Kalau kamu kembali lagi dan membaca surat ini sekali lagi, berarti sekali lagi kita belum berhasil melaksanakan misi kita. Masih ada yang salah, karena itu kita kembali ke sini dalam waktu yang sama. Dimulai dengan mama menemukan kita di dalam kamar, memarahi kita, lalu kita mencium bau harum masakan, kemudian kita dijewer ke kamar mandi ini dan akhirnya kita menemukan surat ini. 


Aku bilang kita, karena kamu pasti bingung kalau aku memakai kata aku. Tapi aku juga merasa memang ada beberapa aku dalam satu lintasan yang sama dan kita saling bahu-membahu berusaha menyelesaikan misi kita. Kamu tidak akan dapat mengingat apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya begitu dikirim kembali ke dunia yang satunya lagi. Kamu akan mulai dari hal yang sama, memulai sebuah perjalanan dengan Twitwit. 

Karena itu sangat penting untuk segera melakukan hal ini: tulis apa saja yang sudah kamu lakukan sebelum kamu tiba-tiba muncul di sini. Lakukan segera! Setelah itu selesai, barulah kamu boleh membaca halaman selanjutnya dari surat ini dan perhatikan baik-baik apa yang sudah terjadi, ada 11 lembar perjalanan sebelumnya. Kita hanya punya 13 kali kesempatan. Aku sungguh-sungguh berharap saat aku membuka surat ini, aku sudah berhasil menyelesaikan misi tersebut. Tetapi kalau aku gagal, maka tugas kita masih menjadi tugas kita. Kesempatan kita hanya tinggal satu kali lagi. Kalau kita tetap gagal... Aku tidak berani, aku tidak mau memikirkannya. Kita harus berhasil. Kita harus.

Ya Tuhan, cepat-cepat Kasenda mencari jam dinding dan melihat tepat saat waktu berganti dari 07:59 menjadi 08:00. Kasenda merasa kepalanya berputar begitu keras sebelum tiba-tiba saja semuanya kembali ke dalam ingatannya. Dia merasakan kepanikan yang tadi tidak ada sama sekali. Dia harus bersiap-siap untuk ulang tahun Ashta. Ibunya akan marah luar biasa dan satu lagi, hal yang sangat buruk akan segera terjadi. Kasenda merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Hanya dia satu-satunya yang dapat mencegah hal itu terjadi. Dia sudah melakukan sebuah kesalahan besar, sangat besar dan sekarang, dia juga harus memperbaiki segala sesuatu sebelum segalanya menjadi terlambat.

Segala sesuatu yang sudah dialaminya kini berkelebat sangat cepat di depan matanya, seperti sedang menonton film yang di fastforward 10x lipat, tetapi dia ingat dan tahu apa yang sudah terjadi. Cepat-cepat diraihnya kertas kosong yang tersedia dengan tulisan 12 pada pojok kiri atas dan diraihnya bolpen yang terdapat pada gelas sikat gigi.

Saat itulah pintu kamar mandi diketuk dengan tidak sabar. “Kasenda!”

Cepat-cepat Kasenda memasukkan surat-surat itu ke dalam saku celananya, “sebentar. Sabar. Aku sedang mencuci muka.”

“Sepuluh menit, Kasenda, sepuluh menit atau kamu terpaksa tinggal. Mama tahu kamu lebih senang tinggal...” 

“Nggak, aku ikut.” Kasenda menyahut dengan cepat. 

Rasa panik itu menyerangnya lagi. Dia harus ikut. Ashta dan ulang tahunnya adalah salah satu mata rantai dari misi yang harus diselesaikannya. Kali ini, dia harus ingat untuk tidak membalas apapun yang dikatakan oleh Juli. Dia harus bisa menahan diri. Dia akan menulis apa yang harus ditulisnya nanti di dalam mobil. Tidak ada waktu yang boleh disia-siakannya sekarang ini. Banyak hal bergantung pada tindakan-tindakan yang diambilnya. Dia tidak boleh ceroboh. Kecerobohannya sudah memakan korban pada kesempatan kesepuluh. Dia tidak pernah bisa melupakannya. Dia tidak boleh melupakannya. Sejarah tidak bisa dengan sembarangan digeser-geser semaunya sendiri, itu yang kini dipahami oleh Kasenda.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…