Skip to main content

Petualangan Kasenda dan Twittwit 12


Kasenda menarik-narik ujung gaun kuning yang dikenakannya. Sebenarnya Kasenda menyukai warna kuning, apalagi kuning yang lembut, mengingatkannya pada warna langit ketika baris pertama sinar matahari muncul di pagi hari. Tetapi gaun panjang merepotkan berwarna kuning dengan bebunga biru dan merah, oho, itu jelas bukan sesuatu yang nyaman dan cantik di mata Kasenda. Untuk kesekian kalinya, Kasenda mengibaskan poni panjangnya yang menghalangi mata dengan kesal. Kepalanya mengangguk-angguk, serupa dentang lonceng di atap gereja, sementara tangannya sibuk menulis di atas sehelai kertas. Mobil yang dikendarai mama sudah hampir sampir sampai di rumah Astha.


“Selamat ulang tahun, Astha.” Kasenda mengangsurkan kado berpita besar kepada Astha, memaksakan memberikan senyumnya yang lebar, yang lebih terlihat seperti sebuah seringai. Dia memang tidak pernah menyukai Astha, sepupu cantiknya yang pesolek dan angkuh. Tetapi, yah, kita kan tidak mungkin memilih siapa yang akan menjadi sepupu kita, sama seperti memilih ikut ke pesta ulang tahun yang membosankan ini. Bicara tentang membosankan, nah, itu dia, gadis kecil berambut kaku dengan sepasang mata badam menukik naik ke atas. Juli, si rubah! Kasenda menarik nafas dalam-dalam.

“Halo, Kasenda. Cantik sekali bajumu. Beli dimana? Di pasar loak? Atau jangan-jangan, dari lemari nenekmu?” Juli, seperti biasa, tidak pernah memulai percakapan dengan sopan menanyakan kabar. Di sampingnya, Astha, sepupu Kasenda, sahabat Juli yang sama noraknya, terkikik-kikik sambil memegang segelas besar limun. Kasenda menggertakkan giginya, berusaha keras tidak memberi komentar pedas tentang pita rambut Juli yang sebesar lemari. “Sabar, Kasenda, sabar”, gumamnya dalam hati, “ingat akan misimu.”


“Masih suka bermain kotor-kotoran di bawah pohon, Kasenda? Kenapa? Tidak punya teman, ya?”

“Kasenda, dengar-dengar, katanya kamu bisa bicara dengan hewan? Jadi, bahasa apa yang kalian pakai?” Juli menggerak-gerakkan tangannya, meniru gerakan monyet sembari mulutnya mengeluarkan bunyi uw-uw-uw-uw.

Kasenda memilih diam dan memasukkan sepotong kue buah dengan sekali lahap ke dalam mulutnya. Dia memerlukan tambahan energi untuk tetap berdiam diri seperti ini.

Mendadak, Kasenda merasakan sesuatu yang dingin menyergap punggungnya. Kasenda menoleh dengan cepat. “Ups, maaf, aku tersandung”, si rubah Juli memamerkan giginya yang kecil-kecil runcing sambil memegang gelas limun yang kosong. Limun! Ini tidak ada dalam misi sebelumnya! Kasenda merasakan urat-urat di wajahnya menegang. Rasa panas menjalari lehernya, naik sampai ke kepala. Tanpa berpikir panjang, dia melangkah lebar-lebar ke arah Juli dan menarik rambutnya yang seperti ijuk kuat-kuat, sekuat tenaga Kasenda.

Juli menjerit. Astha memekik. Kasenda mendengar mamanya menyerukan namanya. Seseorang menarik tubuhnya ke belakang. Kasenda meronta, menyambar sesuatu yang paling dekat dengannya. Sesuatu seperti tongkat panjang di atas meja. Barangkali itu kado untuk Astha yang sedang berulang tahun. Kasenda tidak peduli. Kasenda hanya ingin mengejar Juli dengan tongkat tersebut, memukul mulutnya yang sombong agar tidak lagi mengejek orang lain.

Kasenda mengejar Juli ke halaman. Diayun-ayunkannya tongkat di tangannya. Tidak dihiraukannya bibi, paman, sepupu-sepupunya yang lain dan entah siapa saja yang mengejarnya di belakang. Kasenda juga tidak peduli gaunnya robek tersangkut semak pohon yang tajam. Dilihatnya Juli berlari memasuki hutan pinus kecil di belakang rumah Astha. Kasenda berlari, melewati pagar dengan sekali lompat, dan berbelok ke jalan setapak menuju hutan kecil.

Di ujung semak sebelah kanan, Kasenda melihat secarik kain bergoyang-goyang. “Itu pasti pita jelek si rubah Juli,” pikir Kasenda. Diayunkannya tongkat di tangannya ke arah pita ungu tersebut. “Kena kau!” seru Kasenda.

“Aduh!” sesosok kepala muncul dari balik semak-semak sambil mengaduh. Dan, itu bukan Juli! Itu… kurcaci?

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…