Skip to main content

[Cerpen Winda Krisnadefa] Rahasia



   Sepertinya dia membutuhkan persiapan lebih sebelum memutuskan untuk datang ke sini. Keila menyadari hal itu sekarang ini. Tetapi sudah terlambat. Dia sudah berada di sini, di depan pintu kamar nomor 713. Tangannya sudah mengetuk pintu itu tiga kali dan kini pintu itu terbuka lebar.
   “Keila?” Mario berdiri di sana, nampak terkejut.
   “Siapa, sayang?” Belum habis rasa terkejutnya, terdengar suara seseorang dari dalam kamar.
   Jantung Keila berdegup kencang. Astaga! Dia kenal suara itu. Jadi, semua yang dikatakan Brinna memang benar! Ada sesuatu yang harus diketahuinya tentang dia.
   Tapi Mario?



   Apa yang dilakukan saudara kembarnya itu di sana? Dari semua kejutan yang bisa dibayangkan olehnya, Mario tidak ada di dalamnya. Bahkan namanya tak terlintas sedikit pun sejak dia memutuskan untuk mencari kebenaran ini.
   "Ngapain kamu di sini?" Mereka berkata serempak. Insting kembar mereka tak pernah berkurang hingga usia dua puluh tahun.
   Si pemilik suara yang menyapa Mario dengan "sayang" tadi kini hadir di hadapan Keila. Dia tampak sama terkejutnya dengan si kembar yang kini tengah berdiri berhadapan di pintu kamar. Rambutnya tampak basah, seperti baru selesai mandi. Handuk kecil membalut tubuhnya. Dadanya terbuka bebas dan masih terlihat berkilau oleh air yang belum sempat diseka. 
   Mendadak kepala Keila terasa berputar. Laki-laki dalam balutan handuk itu dia. Orang yang telah berhasil mengaduk-aduk perasaan Keila selama enam bulan terakhir. Kalau bukan karena ingin memastikan segalanya antara mereka berdua, Keila tak akan mengikuti saran Brinna untuk datang ke sana.
   Mario tampak panik dan cepat menyambar tangan Keila, membawanya ke lorong lantai tujuh hotel itu. Tangan lainnya dengan keras menutup pintu kamar, meninggalkan laki-laki itu masih berdiri mematung di dalam kamar.
   "Ngapain kamu ke sini?" Suara Mario mendesis sambil menatap sekeliling mereka dengan was-was.
   "Kamu yang ngapain di sini?" Keila tidak mengerti kenapa dia juga harus ikut mendesis.
   Mario menarik rambutnya dengan ekspresi gemas yang sudah Keila kenal seumur hidupnya. Mario selalu bertingkah seperti itu jika dia merasa putus asa. Sebuah perasaan iba menyelip dalam hatinya. Tapi logikanya membutuhkan penjelasan. 
   "Ngapain kamu ada di kamar hotel berdua dengan Mas, eh, Pak Agung? Dan kenapa dia memanggilmu sayang?" Keila berusaha mengatur suaranya agar tetap terjaga. "Demi Tuhan, Mario! Apa yang sedang kalian lakukan?" Keila menjerit. Usahanya untuk menjaga nada suaranya tetap tenang gagal sudah.
   Mario berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan kekarnya. Keila dapat melihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya kini. Dia ikut berjongkok di depan kembarannya itu.
   "Aku menebus nilai mata kuliahku ke sini, Kei," ujar Mario lemah. 
   Keila mengerutkan keningnya. Dia menunggu penjelasan Mario selanjutnya.
   "Kata Brinna, Pak Agung bisa negosiasi nilai dengan mahasiswanya. Aku di sini untuk...memperbaiki nilaiku." Ada sedikit suara tercekat di akhir kalimat Mario. Keila ikut menelan ludah.
   "Kalian ngapain?" tanya Keila. Seumur hidup, dia belum pernah merasa sebodoh ini; menanyakan sesuatu yang tak ingin dia dengar jawabannya.
   "Kamu nggak usah tahu."
   Dalam kecepatan yang tidak bisa diduga oleh dirinya sendiri, sebuah perasaan marah tiba-tiba saja sudah menguasai kepala dan tubuhnya. Keila berdiri dan berjalan cepat menuju kamar itu lagi. Dia berusaha membuka pintu itu, namun terkunci. Dia mengetok pintu dengan keras. Tak juga dibukakan, Keila mulai menggedor-gedor pintu itu.
   "Buka! Dosen pengecut! Laki-laki hina! Kamu bilang kamu cinta padaku! Lalu sekarang kamu ada di hotel dengan saudara kembarku! Sakit! Aku akan adukan kamu ke polisi! Buka kataku! Bukaaa! Mas Agung, bukaaa!"
 Keila makin tak bisa menguasai kemarahannya. Terbayang olehnya bagaimana selama enam bulan ini Mas Agung mendekatinya dengan begitu manis. Mengajaknya makan siang selepas jam kuliah. Mengajaknya nonton di akhir minggu. Beberapa minggu yang lalu Mas Agung mengajaknya menginap di sebuah vila di puncak. Ajakan ini yang membuat Keila menunda kembali keinginannya untuk meresmikan hubungan mereka. Selain beberapa alasan yang lainnya.
   Keila belum memberitahukan kedekatannya dengan Mas Agung kepada Mario. Dia baru menceritakannya pada Brinna, sahabatnya. Selain itu, Mas Agung pun belum mengatakan apa-apa selain hanya mengajaknya kencan ke berbagai tempat. Semua ungkapan sayang dan cintanya selalu diiringi dengan menjamah beberapa bagian tubuh Keila sambil menciumi wajah dan lehernya. Belum ada ajakan, “Maukah kamu jadi kekasihku?” dari laki-laki itu
   Pintu itu tak juga terbuka. Mario mendekatinya. Keila berdiri dengan nafas terengah-engah dan wajah marah yang masih tersisa. 
   "Kamu pacaran sama dia?"
   Keila menggeleng lemah lalu menyeret langkahnya menjauhi kamar itu. Mario mengikutinya sambil merangkul pundaknya. Mereka berjalan menuju lift untuk meninggalkan hotel itu.
   "Kenapa tidak bilang padaku kalau kamu suka sama dia? Dan kenapa aku bisa nggak tahu kalau kamu sedang dekat dengan dia?" Mario bertanya tidak mengerti.
   "Kurasa koneksi batin kita tidak sehebat itu, Rio. Aku tak ingin memberitahumu dulu, karena kupikir kamu akan protes aku kencan dengan dosen kita. Selama ini kamu selalu over protective melindungiku."
   "Ternyata aku yang butuh perlindunganmu. Maafkan aku, Kei." ujar Mario masih sambil merangkul pundaknya di dalam lift. "Aku malu sekali pada diriku sendiri. Ya Tuhan, please, jangan katakan pada siapa-siapa apa yang baru kulakukan dengannya di sini, Kei! Please, jangan!" Suara Mario kini berubah panik.
   Pintu lift terbuka. Mereka berjalan membelah lobi hotel kecil itu menuju pintu keluar. 
   "Aku akan simpan kejadian ini jadi rahasia kita dan Brinna, kecuali kalau si bangsat itu macam-macam dengan kita," kata Keila dengan dingin. "Brinna sebenarnya menyuruhku ke sini untuk melihat sendiri kelakuan brengseknya itu. Tapi aku tak menyangka kamu dan dia... Ah, sudahlah..." 
   Keila terus menyeret langkahnya dengan tangan Mario berada di pundaknya. 
   Dari sebuah pojok kecil di lobi hotel, sepasang mata mengamati mereka berdua. Pemilik sepasang mata itu tak sabar untuk menghibur Keila besok di kantin kampus. Mendengarkan ceritanya, menghapus air matanya, mengelus pipinya, memeluknya dan mungkin menciumnya. Apa pun akan Brinna lakukan demi gadis yang dicintainya itu.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…