Skip to main content

Kelas Akademi Berbagi Bekasi Bersama Windy Ariestanty

Sabtu, 9 Februari 2013, Akademi Berbagi Bekasi mengadakan kelas dengan tema yang sangat menarik: Book Publishing. Bertempat di SMAN 2 Bekasi, dengan pembicara seorang penulis terkenal dan Editor in Chief penerbit GagasMedia dan Bukune; Windy Ariestanty, Kampung Fiksi tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar yang bagus ini.

Kelas dibuka dengan mengenalkan sosok Windy Ariestanty yang namanya sudah sangat bergaung di dunia kepenulisan dan social media. Kampung Fiksi sedikit terkejut melihat sosoknya yang mungil dan masih muda. Tapi rasa terkejut itu hilang begitu Windy memulai kelasnya. Windy berbicara di depan kelas dengan gaya yang super santai dan tampak sangat menguasai apa yang dibicarakannya. Gaya bicaranya yang tidak formal justru membuat suasana kelas semakin hangat.

Gaya santai Windy saat manyampaikan materi di kelas Akber Bekasi :) (doc milik Indah Julianti)



Windy membuka kelas dengan membuka slide bertuliskan: "Get Published!" Kata-kata yang mengintimidasi sekaligus menggoda banyak writers wannabe. Siapa yang tidak ingin kayanya diterbitkan? Windy memulai percakapan dengan mengatakan bahwa profesi penulis dan industri penerbitan saat ini memiliki tingkat "kegenitan" yang sama dengan industri film dan musik. Makin banyak anak muda yang ingin menjadi penulis. Kegiatan membaca dan menulis sudah menjadi gaya hidup anak-anak muda Indonesia. Melihat perkembangan ini, seorang penerbit (Windy secara spesifik mengatakan "seorang") memiliki kepentingan lain yang lebih besar selain menerbitkan buku, yakni: regenerasi penulis. Seorang penerbit harus melakukan proses investasi sehubungan dengan regenerasi ini. Proses investasi ini pada dasarnya adalah mencari penulis-penulis dengan karya-karyanya yang terus berkembang dari waktu ke waktu.



Selanjutnya Windy mengungkapkan apa saja yang bisa didapat seseorang jika naskahnya diterbitkan. Royalti, sudah pasti. Hak cipta, sebutan profesi sebagai penulis dan menjadi terkenal; beberapa hal yang akan didapat oleh seorang penulis. Untuk mendapatkan itu semua, penulis perlu menerbitkan karyanya dan menjual/menyebarkan bukunya seluas mungkin dengan bantuan penerbit.

Kemudian Windy melanjutkan penjelasannya tentang seluk-beluk agar naskah kita diterbitkan oleh penerbit.

1. Carilah penerbit yang tepat.
Jika karyamu berupa karya fiksi roman, carilah penerbit yang menerbitkan buku roman. Kalau naskahmu tentang kisah inspiratif, carilah penerbit yang menerbitkan buku sejenis. In a way, mencari penerbit yang tepat seperti mencari pasangan hidup: harus klop.

2. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang penerbit yang dituju. Apakah penerbit tersebut memiliki kondite yang baik di dunia penerbitan? Hal ini bisa dicari tahu melalui penulis-penulis yang sudah menerbitkan bukunya melalui penerbit tersebut. Selain itu, penerbit yang baik dan bisa dipercaya adalah yang selalu mencantumkan identitasnya dengan jelas (alamat, nomor telelpon, e-mail) dan selalu mudah diakses/dihubungi.

3. Memenuhi persyaratan dari penerbit untuk memasukkan naskah.
Bacalah dengan teliti persyaratan yang diberikan oleh penerbit agar tidak perlu menanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah jelas tercantum di website mereka. Misalnya jumlah maksimal halaman yang diminta, jenis huruf, jarak spasi dan sebagainya. Setiap penerbit memiliki standardnya masing-masing terkait dengan proses yang nantinya akan dijalani saat produksi buku.

4. Kirim dan tunggu balasan dari penerbit.
Lamanya tanggapan yang diberikan penerbit biasanya beragam, tergantung tingkat kesibukan penerbit tersebut. Kalau pun ingin menghemat waktu dengan mengirim satu naskah ke beberapa penerbit, Windy menekankan untuk selalu berkomunikasi dengan semua penerbit yang sudah dikirimi naskah tersebut. Apabila satu penerbit sudah memberikan jawaban, harus segera memberitahu penerbit lain untuk menarik naskah tersebut.

Winda Krisnadefa (Kampung Fiksi), Windy Ariestanty dan Indah Julianti (KEB)

Di bawah ini beberapa Do's yang perlu dilakukan agar naskahmu bisa diterbitkan.

1. Ketik naskahmu dan simpan dengan rapi.
2. Buat sinopsis (tidak lebih dari 1 halaman) dan lampirkan.
3. Beritahu keunggulan naskahmu. Dari sini penerbit bisa melihat kekuatan ide penulis akan ceritanya sendiri. Karena pada akhirnya nanti, penulis juga harus mampu menjual bukunya kelak.
4. Kemas naskah dengan rapi dan baik (dijilid).
5. Jangan lupa mencantumkan biodata dan nomor kontak.
6. Buat judul untuk naskahmu. Walaupun saat nanti naskahmu masuk proses editing dengan editor dari penerbit tersebut, judul kemungkinan besar akan berubah.
7. Hubungi editor pada saat yang tepat.

Lalu naskah yang bagaimana yang diterima oleh sebuah penerbit? Penerbit memiliki kepentingan ekonomis yang besar saat memutuskan sebuah naskah bisa diterbitkan. Artinya, kalau naskah itu diperkirakan akan menjual dan menjawab kebutuhan pasar, maka kemungkinan besar akan diterbitkan. Naskah yang demikian itu bisanya memiliki tema yang kuat dan mengangkat issue yang sedang trend di masyarakat. Yang pasti, tulislah karya yang berbeda dan unik. Tuliskan dengan baik. Sisanya, tunggu tanda tangan konrak. In the meantime, keep the spirit! ^_^

Foto bersama setelah kelas usai (doc milik @akberBKS)

Kelas yang menyenangkan akhirnya berakhir dan mengundang tangan-tangan teracung ke udara untuk bertanya. Kampung Fiksi juga mendapat kesempatan untuk melempar pertanyaan ke Windy tentang bagaimana tanggapannya tentang self published. Windy mengatakan, tak ada yang salah dengan indie publishing. Yang harus dipertanyakan adalah apakah seseorang hanya ingin memiliki buku yang tercetak atau menjadi seorang penulis? Karena itu adalah dua hal yang berbeda. Menerbitkan buku adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan sekarang, tapi menjadi seorang penulis adalah sebuah proses panjang yang membawa manusianya berkembang seiring dengan waktu dan pengalamannya dalam menulis.

Windy juga menyempatkan untuk menuliskan pesan khusus untuk sahabat Kampung Fiksi:

"Menulis itu latihan. Bukan teori."
"Yang membuat kita menjadi mahir menulis adalah kegiatan menulis itu sendiri."

Pesan Windy untuk teman-teman Kampung Fiksi. Too bad, she forgot to leave a signature. :')

Akhir kata, terima kasih untuk Akademi Berbagi Bekasi yang sudah mengadakan kelas bermanfaat ini. Terima kasih juga untuk Windy karena sudah mau berbagi. Kampung Fiksi juga tidak mau ketinggalan berbagi dengan membagikan pembatas buku untuk teman-teman sekelasnya. :D

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…