Skip to main content

Petualangan Kasenda dan Twittwit 14



Kasenda melongok ke bawah tempat tidur. Ditariknya peti harta karunnya keluar, berusaha membukanya. Tangannya gemetar tidak sabaran. Baru pada percobaan keempat, Kasenda berhasil memasukkan anak kunci ke dalam lubang peti, memuatarnya, dan mengeluarkan sebuah buku bersampul coklat dengan garis-garis biru yang cerah. Buku corat-coret! Dengan segara dibukanya halaman yang terakhir. Tulisan tangannya yang besar-besar terpampang di sana, ‘Tanggal 16 Mei. Perubahan sudah dilakukan! Kali ini, memutuskan memakai sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang berbeda akan terjadi apabila jarum jam dibelokkan ke kiri. Kepulangan Refo adalah kunci!’

Refo! Kasenda ingin memberondonginya dengan ratusan pertanyaan. Kemana saja Refo? Kenapa dia menghilang dan kenapa dia kembali? Kenapa mendadak dia bisa bicara? Bukan. Kenapa mendadak Kasenda bisa berkomunikasi dengan Refo?


Kali ini, teriakan Mama dibarengi dengan gedoran di pintu, “Kasenda! Sudah jam enam lewat sepuluh!”

“Sebentar, Ma,” Kasenda balas berteriak. Dipalingkannya wajahnya kepada Refo yang sedang duduk dengan sikap siaga. “Refo, kita tidak punya banyak waktu. Pergi ke sekolah berarti kehilangan 5 jam waktu yang dapat dipakai untuk berusaha memecahkan teka-teki. Aku akan berpura-pura berangkat ke sekolah. Bisakah kamu menjumpaiku di ujung jalan di samping kebun mawar, sebelum belokan ke sekolah? Kita bisa bersama mencari Twittwit. Aku butuh bantuanmu.”

“Menurutmu, kenapa kita kembali ke dua hari lebih awal? Ada sesuatu yang harus kamu temukan di sekolah. Sesuatu yang bisa membantumu memecahkan teka-teki. Dan harus kamu sendiri yang melakukannya, Kasenda.”

Guk! Refo mengakhiri kalimatnya dengan kibasan ekornya yang bersemangat.

Sesuatu di sekolah? Apakah itu berarti sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran sekolah? Sebentar. Hari ini akan ada pelajaran Sains, Puisi, Matematika dan Musik di sekolah. Matematika! Celaka! Hari ini ada ujian Matematika di sekolah! Dan Kasenda sama sekali belum belajar. Maksudnya, tentunya dia anak rajin yang sering mengulang pelajarannya di rumah, tetapi, bagaimana mungkin Kasenda dapat mengingat semua rumus Matematika saat ini, setelah semua petualangan dan bolak-balik waktu? Duh, mana Pak Janggut terkenal sebagai guru yang tidak akan segan-segan memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah apabila ada murid yang tidak lulus ujian..

“Kasendaaaaaaa! Apakah Mama harus menyeretmu keluar dari kamar?”

Tidak ada waktu lagi! Kasenda segera menyambar tas sekolah dan menjejalkan buku corat-coretnya ke dalamnya. Dengan kecepatan yang mengagumkan, Kasenda mengganti piama tidurnya dengan kaus berwarna oranye cerah dan celana jeans selutut. Sekolah Kasenda memang sekolah yang tidak mengharuskan murid-muridnya memakai seragam ke sekolah. Kasenda berlari keluar, menyambar sepotong roti dari atas meja makan, memasukkannya sekaligus sambil berseru, “Ma, Kahsendah berghakat!”

Masih didengarnya teriakan Mamanya sebelum Kasenda melesat keluar, meninggalkan pintu depan tidak tertutup. “Kasenda, jangan terbiasa bicara dengan mulut penuh!”

*****

Di dalam kelas, Kasenda mengikuti pelajaran dengan gelisah, setengah hati sekaligus bersemangat. Dia menunggu-nunggu sesuatu. Semacam petanda. Kasenda tidak tahu petanda seperti apa, tetapi dia yakin akan tahu dengan sendirinya. Pelajaran pertama berlalu begitu saja. Tidak ada yang terjadi. Pelajaran berikutnya, Puisi, juga sama, terkecuali Kasenda hampir mati kebosanan. Setelah jam istirahat, pelajaran dilanjutkan dengan Matematika, dan Pak Janggut, tentunya ini bukan nama yang sebenarnya, seperti yang sudah direncanakan, memberikan ujian. Kasenda menggigit-gigit pensilnya. Dari 10 soal yang diujikan, ajaibnya, dia mampu menjawab 6 soal. Mudah-mudahan semuanya benar, dan Kasenda tidak harus tinggal untuk pelajaran tambahan siang ini. Kasenda merasa lega, tetapi juga berdebar-debar, karena masih tidak ada sesuatu yang aneh terjadi.

Pelajaran terakhir adalah Musik. Bu Elli, guru Musik yang baik hati dan suka memakai sepatu pantofel, tidak masuk. Dia digantikan oleh seorang guru muda berwajah kecil dengan rambut pendek awut-awutan seperti tidak pernah disisir. Anak-anak belum pernah melihat guru itu sebelumnya. Berdiri di depan kelas, guru itu memperkenalkan dirinya sebagai Bu Tiwit. Suaranya mencericit, mengingatkanmu pada suara seekor tikus.

Tiwit! Aha! Kasenda hampir terloncat dari tempat duduknya. Bukankah nama Tiwit mirip dengan Twittwit? Apakah berarti, Bu Tiwit ini adalah petanda yang ditunggu-tunggu untuk memecahkan teka-teki? Belum habis Kasenda berpikir, Bu Tiwit terlihat mengeluarkan sebuah suling berwarna hijau yang cantik sekali. Ketika Bu Tiwit mulai memainkan sulingnya, semua murid terdiam. Suara yang dihasilkan suling tersebut indah sekali, lembut dan magis, seperti suara yang datang dari tempat jauh yang indah, mendatangkan kerinduan. Kasenda menyimak ketukan-ketukan yang dihasilkan oleh nadanya. Seolah-olah, suling tersebut menyampaikan pesan kepadanya. ‘Re-Fa-La-Do-Do-Do-Mi-Sol-Mi’. Nada tersebut terus bermain-main di pikiran Kasenda.

Kasenda merasa dia harus menemui Bu Tiwit sebelum pulang sekolah. Apa arti dari lagu yang dimainkan Bu Tiwit tadi? Dari mana ia berasal? Terbuat dari mana suling tersebut?

Tepat sebelum lonceng tanda berakhirnya kelas berakhir, Pak Janggut masuk ke dalam kelas dan mulai membacakan nama murid-murid yang tidak lulus ujian Matematika. Dari jendela kelas, dilihatnya Bu Tiwit berjalan ke arah gerbang sekolah. Suling hijau di tangannya berayun-ayun seolah mengangguk kepada Kasenda. Bu Tiwit memakai topi runcing yang aneh, berwarna ungu dengan lonceng kecil di ujungnya. Kasenda mengenal topi itu! Topi yang biasa dipakai Twittwit!

Di depan kelas, Pak Janggut menyebutkan nama siswa terakhir yang harus tinggal untuk pelajaran tambahan di sekolah; Kasenda.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…