Saturday, June 22, 2013

(Cerpen Ajen Angelina) Darah di tubuh Joko



Gulita mengkudeta malam, ketika Joko terbangun. Dia sungguh terkejut ketika  mendapati  ada darah  di kepala, lengan, dan telapak tangannya. Dia sungguh tak tahu mengapa darah-darah itu bisa ada di  tubuhnya. Beribu pertanyaan membuncah di kepalanya, darah siapa ini? Apakah ini darahnya? Mengapa dia sampai berdarah? Apakah ada yang membubuhnya? Ataukah dia bunuh diri? Atau jangan-jangan ini darah orang lain. Kalau darah orang lain mengapa darah itu ada padanya? Jangan-jangan dia telah  membunuh orang. Dia bergidik, dia merinding, dia ketakutan.  Dia mencoba memeras otak, berpikir dengan keras kejadian yang terjadi hari ini. Menelaah dengan teliti lapisan memori otaknya, mencoba mengurut kejadian-kejadian hari ini.

Pagi tadi Joko bangun seperti biasa. Pukul tujuh pagi di dering weker yang entah ke berapa. Dia mandi seperti biasa, di kamar mandinya yang penuh tissue dan celana dalam kotor bekas pakai yang sudah seminggu lebih dibiarkan tergeletak tak berdaya di sudut kamar mandi. Dia menggosok badannya dengan sabun dua kali, membilas tubuhnya dengan air dan mengeringkan tubuhnya  dengan handuk berwarna biru berbau apek akibat tak pernah terkena sinar matahari, hanya digantung seadanya di paku di dinding kamar. Dia tidak sarapan pagi ini, jadi tidak sikat gigi hanya kumur dua tiga kali menggunakan obat kumur. Jadi sehabis mandi, dia langsung mengenakan pakiannya, baju kemeja berwarna biru langit dan celana bahan hitam dari katun  sambil memikirkan materi  presentasi yang akan dia sampaikan untuk meeting bersama klien di kantor jam sebelas nanti. Tepat pukul delapan pagi dia meninggalkan apartemennya, tanpa sempat membereskan tempat tidur bahkan tanpa menjemur handuk basah yang tergeletak begitu saja di tempat tidur. Jelaslah darah-darah di  tubuh Joko sekarang, bukan berasal dari waktu pagi, ketika dia bangun tidur dan bersiap bekerja.

 
Joko sampai di kantornya tepat pukul sembilan kurang lima menit. Setelah berdesak-desakan dengan banyak orang di trans Jakarta. Selama empat puluh menit neraka itu, dia harus rela digencet berbagai macam orang. Kakinya pegal akibat lama berdiri, belum lagi tadi hak sepatu tinggi seorang wanita tak sengaja menginjak ujung sepatunya. Meninggalkan bekas tak enak dilihat, mengingat dia baru saja menyemir sepatunya kemarin sore dengan semir sepatu terbaik. Untung saja yang menginjak sepatunya adalah wanita cantik, kalau tidak sudah disuruhnya penginjak itu menjilat sepatunya sampai bersih. Hal pertama yang dilakukanya begitu sampai di mejanya di pojokan adalah menyalahkan komputer. Baru ada Udin satpam kantor. Bos mereka dan tiga orang teman kantornya belum kelihatan batang hidungnya. Jam aktif kantor mereka memang selalu dimulai pukul sepuluh pagi, dia sengaja datang lebih cepat karena ingin mempersiapkan diri lebih baik di presentasi dengan klien nanti.  Sambil menunggu proses booting, dia berlalu ke pantry membuat kopi untuk diri sendiri. Satu sendok kopi, satu sendok gula sedikit creamer dan air panas. Dia kembali ke mejanya dengan gelas dan kopi yang mengepul.. Jelaslah darah-darah di seluruh tubuh Joko sekarang bukan berasal dari waktu pagi ketika dia memulai aktivitas di kantornya.
Pukul sepuluh, semua teman kantor termasuk bosnya telah berkeliaran di kantor.
“Sudah siap presentasi proyek terbaru kita, Ko?” kata si Bos yang kepalanya botak dan berkumis.
“Semangat kawan! Kalau kau memuaskan klien kau berhasil.” Kata Bayu teman sekantor paling akrab.
Do your best!”

“You can do it!”
Kata-kata penyemangat yang diamini Joko dengan sungguh-sungguh dalam hati. Matanya tak lepas dari layar computer, melihat adakah kekurangan dari proyek yang akan dia presentasikan. Setelah merasa puas, dia meraih rokok dari bungkusnya di atas meja. Merokok membuat pikiranya tenang. Kopinya telah bersisa ampas. Dia segera menuju ke pantry, membuat kopi gelas kedua. Pukul sebelas presentasi berjalan lancar. Dua jam yang menuras tenaga, pikiran dan tentunya adrenalin itu berakhir dengan ucapan selamat dari klien, Bos, dan rekan-rekanya
“Kau memang hebat, Joko,kata si Bos. Saat itu SMS dari Lastri muncul ke HPnya, mengajak Joko makan siang. Jelaslah darah-darah di seluruh tubuh Joko sekarang bukan berasal dari waktu pagi menjelang siang setalah dia presentasi dan sebelum makan siang dengan Lastri.
Makan siang dengan Lastri berjalan lancar. Mereka makan di sebuah restaurant yang menyediakan steak dan burger sebagai hidangan utama. Lastri memesan tenderloin ukuran besar, dengan saus berbeqyu dan segelas es lemon. Joko memilih burger sapi berukuran sedang dan segelas jus alpukat. Mereka menghabiskan makan siang mereka dalam diam. Lastri yang biasanya banyak bicara, lebih banyak diam siang tadi.
“Kenapa kau diam saja? Adakah yang menganggu pikiranmu?” Joko bertanya ingin tahu.
“Aku ingin  menikah!” Tanpa basa-basi Lastri berkata serempak. Joko hampir saja menelan bulat-bulat daging sapi dalam burgernya.
“Mengapa?”
“Aku hamil!”
“Kau yakin?”
“Sudah tiga bulan.”
“Baiklah, mau apalagi. Aku akan menghadap kedua orang tuamu.” Kata Joko.Lastri memegang tangan Joko erat. Dia tersenyum manis, menampakan gigi-gigi putihnya yang seperti mutiara. Jelaslah darah-darah di seluruh tubuh Joko bukan berasal dari waktu siang ketika dia dan Lastri makan siang.
Sehabis makan siang dengan  Lastri kondisi psikis Joko berubah seratus delapan puluh derajat. Seluruh otaknya dipenuhi dengan bayi dan bayi. Joko mencintai Lastri dan demi apapun, dia akan menikahi perempuan itu. Tetapi dia merasa belum siap menikah menjadi suami sekaligus ayah. Dia memang mempunyai karir yang lumayan cemerlang, dia  mempunyai sebuah apartemen yang dirasanya cukup sebagai tempat hunian bersama Lastri. Tetapi sesuatu dalam dirinya meninginkan kebebasan. Dan tiba-tiba kegundahan pelan-pelan merayapi hati Joko, menciptakan rasa sesak tak enak di dada. Dia terus gunda sampai jam kantor berakhir, sampai saat pulang dan berdesak-desakan dengan penumpang Trans Jakarta, sampai saat tiba di apartemennya, sampai saat merebahkan tubuhnya yang masih memakai kemeja biru dan celana bahan di atas tempat tidur yang tak diatur, sampai saat dia menutup mata dan tertidur. Jelaslah darah-darah di tubuh Joko tidak berasal saat dia kembali lagi di apartemennya.
Lalu dari mana darah-darah ini berasal? Joko frustasi. Dia memandang tanganya yang berdarah. merasakan kepalanya yang berlumuran darah. Darah itu masih segar, bahkan belum membeku. Darah itu pastilah menempel di tubuhnya belum lama. Tetapi darah siapa ini? Joko semakin frustasi. Dia berteiak kencang berharap frustasinya mengilang, berharap darah ditanganya hilang.
“Anda tak apa-apa, Pak Joko?” Dua orang perawat berseragam putih tiba-tiba datang menghampirinya.
“Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di kamarku?” Tanya Joko garang. Dia menatap perawat-perawat itu marah. Kedua peawat itu saling menatap.
“Astaga segera panggil dokter Latip.” Kata seorang kepada yang lain. Joko semakin bingung, lebih bingung lagi ketika melihat darah di tubuhnya menghilang. Tiba-tiba dia ingat, dari mana darah-darah itu muncul.
Joko terbangun tepat pukul tujuh, mandi, mengeringkan badan, tidak sarapan dan tidak sikat gigi hanya berkumur dengan obat kumur, berpakian dan berangkat ke kantornya menggunakan Trans Jakarta. Joko tiba di kantor pukul Sembilan, Bos dan teman-temannya telah menunggu dia dengan muka lesu dan kuyu. Aneh biasanya, teman-temannya baru tiba di kantor pukul sepuluh siang. Dia bahkan tidak sempat menyalakan computer, merokok dan membuat kopi.
“Klien membatalkan kontrak, Joko. Kau tidak jadi presentasi Kantor kita bangkrut.” Kata bos dengan sedih. Joko tak percaya. Bertepatan dengan itu SMS dari Lastri mengajak bertemu. Mereka bahkan belum memesan makan  ketika Lastri berkata.
 “Aku ingin menikah!”
“Mengapa?”
“Aku hamil”
“Kau yakin?”
“Sudah tiga bulan!”
“Baiklah aku akan menghadap orang tuamu. Kita akan menikah.”
“Ini bukan anakmu.”
“Maksudmu?”
“Ini anak laki-laki lain. Aku ingin kita putus.” Perkataan lastri membuat kemarahan besar menguasai Joko. Rasa stress karena kehilangan pekerjaan dan kehilangan Lastri bercampur jadi saksi. Dia bangkit menampar Lastri.  Lastri jatuh terjerambab ke lantai. Darah mengalir dari sela-sela pahanya. Suasana restaurant menjadi ribut dan semrawut. Joko bangkit dan menghampiri Lastri, dia ingin mencekik leher perempuan itu dan saat itulah Lastri memukul kepala Joko keras menggunakan piring kaca yang berat. Joko tak ingat apa-apa lagi.
Astaga darah di  tubuhnya itu adalah darahnya sendiri, darah akibat pukulan Lastri. Kini Joko ingat semuanya.
“Anda baik-baik saja, Pak Joko?” tanya perawat yang tetap tinggal  bersama dia.
“Lastri memukul kepala saya, saya dipecat dari pekerjaan, ada darah di seluruh tubuh saya,ujar Joko cepat.
“Ada apa dengan dia? Apakah dia baik-baik saja?” Dokter Latip muncul di ruangan itu. Bersama perempuan berseragam putih yang tadi memanggil dia.
“Pak Joko sudah mengingat kembali, Dok. Ingatannya sudah kembali. Sepertinya dia telah sembuh dan normal kembali” Kata perawat yang bersama Joko. Dokter Latip menatap Joko.
“Anda sudah dapat mengenal semuanya, Pak Joko?”
“Dimana Lastri? Aku ingin perempuan itu membalas apa yan dia lakukan kepadaku” Tanya Joko. Dia menatap dokter Latip dengan tajam. Ada dendam membara di matanya.
"Astaga, Dok. Dia belum sembuh seutuhnya. Dia tidak ingat telah membunuh kekasihnya," bisik salah seorang perawat. Dokter Latip si ahli jiwa menganguk-anguk. Sepertinya Joko masih harus dirawat dalam waktu yang lama. Sudah enam bulan sejak hari dimana Joko dipecat dari kantornya dan membunuh kekasihnya Lastri di restaurant. Sepertinya dia membutuh waktu lebih lama lagi di rumah sakit jiwa ini..

-TAMAT-