Skip to main content

[Cerpen Ria Tumimomor] Ternyata

“Danang!” Lastri memanggil anaknya dari halaman depan setelah menerima paket. Ia mengucapkan terima kasih pada petugas pengirim paket tersebut. Lastri agak terkejut ketika si pengirim paket berbasa basi mengatakan padanya bahwa akhir-akhir ini sering ada paket untuk Danang.

“Danang jualan ya bu?” tanya si petugas yang merasa perlu berbasa basi.Ia tentu saja tidak memikirkan apa yang terjadi dari perkataannya setelah pergi meninggalkan Lastri termangu dengan paket tersebut.

“Ada apa buuu,” anaknya berlari keluar dari rumah dengan baju seragam yang masih dipakainya.Danang baru saja meletakkan tasnya ketika mendengar panggilan ibunya. Tanpa pikir panjang lagi ia langsung berlari keluar karena tidak mau membuat ibunya menunggu. Ia sudah cemas mengira telah melakukan kesalahan seperti tidak sengaja menginjak tanaman ayahnya. Atau malah membuat lantai rumah kotor karena ia lupa membuka sepatunya tadi. Aih, pasti ituuu kesalahanku…
Namun kecemasannya berubah ketika melihat paket di tangan ibunya. Matanya memandangi paket tersebut dengan penuh harap dan perlahan menghampiri ibunya.Lastri menyipitkan matanya sembari memberikan paket tersebut ke pada Danang. Senyuman Danang merekah ketika melihat nama pengirim dari paket tersebut. Ia mengucapkan terima kasih dan setengah berlari ke dalam rumahnya ketika didengarnya teriakan ibunya.

“Danang!” ia merandek di depan pintu dan dengan pasrah menanti apa kelanjutan dari teriakan ibunya tersebut. “Jangan lupa sapu rumah! Kenapa sih kamu selalu lupa melepaskan sepatu kalau masuk ke rumah?!”
***

Sejak pembicaraan singkat dengan petugas pengirim paket itu Lastri mulai memperhatikan Danang dengan lebih seksama. Bukannya selama ini ia kurang memberi perhatian pada putra satu-satunya itu karena Danang sering sudah menyatakan ibunya terlalu berlebihan. Tapi sekarang ada hal tambahan yang ia mulai amati dengan lebih serius.

Paket-paket yang mendadak menghujani Danang mulai menimbulkan kecemasan di hati Lastri. Apalagi ketika ia diam-diam mengintip ke dalam kamar anaknya, ternyata Danang telah menggunakan Blackberry yang sepertinya merek terbaru. Tidak sulit bagi Lastri mengenali merek-merek terbaru peralatan elektronik akibat para tetangganya yang sering pamer ketika arisan.Dan sekarang Danang juga sudah menggunakannya? Kok bisa? Aku saja ibunya tidak punya!

Lastri menepuk pipi untuk menyadarkan dirinya kalau ia sudah keluar dari topik permasalahan. Yang merisaukannya adalah dari mana Danang mendapatkan uang untuk membeli Blackberry tersebut?Ia mulai merasa cemas membayangkan bahwa Danang…mencuri dari temannya? Karena Lastri tidak pernah melihat Danang menggunakannya secara terbuka.Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika suaminya tahu dan menuduhnya tidak pernah memperhatikan anak mereka?

Kekhawatiran Lastri semakin menjadi-jadi ketika paket terus berdatangan setiap minggu.Dengan bentuk dan perlakuan yang berbeda dari Danang. Ada kalanya ia tidak segan membuka paket-paket tersebut dihadapan Lastri. Isinya ternyata buku-buku cerita yang walau tidak ada yang mencemaskan dari hal itu, kembali ia dibuat bingung. Rasanya ia tidak pernah memberi uang jajan berlebihan pada anaknya. Kemudian yang membuatnya semakin resah ketika ia melihat Danang semakin sering di dalam kamar. Bermain dengan peralatan elektronik lainnya.IPAD.

Sudah cukup! Aku harus membicarakannya dengan Muji nanti malam, gumam Lastri ketika berjingkat-jingkat menjauhi kamar anaknya.Iamelampiaskan kegusarannya dengan mencuci piring dan menggosok panci sekuat tenaga. Setidaknya Lastri berusaha melepaskan ketegangannya sekarang sehingga pada saat berbicara dengan suaminya bisa sudah lebih tenang. Atau begitulah niatnya.

Seperti biasa akibat laporannya yang meledak-ledak dengan dibubuhi bumbu yang berlebihan mengakibatkan Mujianto menarik napas panjang.Ia meletakkan buku yang hendak ia selesaikan malam itu dan langsung beranjak meninggalkan Lastri. Hanya perlu hitungan detik bagi Lastri untuk pulih dan segera menyusul suaminya. Begitu tergesa ia menyusul suaminya sehingga nyaris menabraknya dari belakang. Mujianto berhenti sejenak untuk membiarkan Lastri mundur beberapa langkah. Barulah ia mengetuk pintu kamar anaknya dan ketika tidak mendapatkan jawaban Mujianto membukanya.

Seperti yang sudah diduga, Danang tidak mendengar ketukan ayahnya. Ia sedang sibuk mendengar entah apa dari headset yang ada di telinga. Kabel terhubung pada Blackberry sementara jari jemarinya sibuk menari di sana. Mujianto melangkah hingga ia berada di hadapan anaknya yang tentu saja terkejut melihat kedua orangtuanya ada di dalam kamar. Begitu Danang melepaskan headset maka Mujianto langsung mengambil kursi dan tanpa perlu pembukaan; pertanyaan langsung dilontarkan pada anaknya.

“Darimana barang-barang ini berasal, nak?” pandangannya tajam pada Danang yang mulai menangkap kemana arah pertanyaan orangtuanya. “Kami berdua mengharapkan betul semua ini bukan barang curian”

Tawa yang sudah keluar terpaksa harus di rem oleh Danang ketika dilihatnya pandangan yang bisa membuat preman manapun mengkeret. Dengan terbata-bata ia menjelaskan bahwa barang-barang itu ia dapat dari kuis. Ketika orangtuanya menuntut penjelasan kuis macam apa yang ia ikuti sehingga bisa mendapat hadiah setiap minggu, Danang menepuk kepalanya.
“Baiklah, bapak, ibu… Saya akan terangkan. Begini saya ikut kuis dari twitter…”

Lastri langsung menyergah sebelum Mujianto sempat berkomentar,”Apa pula twitter itu? Seperti pesbuk?”
Dalam hati Danang bersyukur teman-temannya tidak ada di dalam ruangan ini dan mendengar ibunya mengucapkan pesbuk. Ia tahu bahwa untuk menerangkan hal ini akan membutuhkan perjuangan besar darinya. Sementara selama ini ia bisa dibilang lebih ke tipe yang bisa menggunakan tanpa bisa menerangkan dengan jelas pada orang lain. Ia lalu mengambil Blackberry yang masih baru tersebut dan mulai membuka akun twitternya. Ia mengatakan pada ibunya kalau Twitter kurang lebih sama dengan Facebook.

Dulu seperti kebanyakan orang, Danang hanya menggunakannya untuk mengisi statusnya. Namun dengan begitu banyak kuis dan lomba yang diadakan lewat media sosial tersebut membuatnya tergiur untuk mengikuti. Lagipula ia punya banyak waktu luang untuk memperhatikan satu persatu akun mana yang tengah membagikan hadiah. Mulai dari buku cerita, voucher makan hingga perangkat elektronik. Jadi ia sama sekali tidak mencuri apa-apa dan hadiah itu ia dapatkan secara baik-baik. Danang memperhatikan wajah orangtuanya dengan cemas menyadari bahwa mereka sepertinya masih belum mengerti penjelasannya. Tapi ia boleh berlega hati karena setidaknya orangtuanya tahu satu hal. Bahwa ia jujur mengenai barang-barang itu memang hadiah dan ia memperolehnya dengan resmi. Mujianto  dan Lastri mengingatkan kembali putranya agar jangan sampai lupa belajar sebelum akhirnya mereka keluar.

“Pak,” Mujianto menurunkan kembali buku bacaannya dan memandang istrinya. Ada apa lagi ini…
“Tolong buatkan aku… apa itu tadi?Akun tuiter dan pesbuk juga dong…,” rengek Lastri mengejutkan Mujianto.Ia menggelengkan kepala dan menanyakan untuk apa seraya kembali berusaha membaca novel tersebut.

“Yah, siapa tahu kita bisa dapat hadiah ratusan juta mas…,” dan Lastri memulai khayalannya tanpa menyadari tatapan suaminya.

Lastri, Lastri… Mengingat hari ulang tahun suami saja susah bagaimana ia bisa mengingat semua kata kunci untuk akun media sosial segala?

Lagipula...sebaiknya tidak ah…,” gerutu Mujianto dalam hati. Nanti lama-lama dia bisa tahu kalau aku juga sering mendapatkan hadiah voucher makan dari Twitter. Lebih gawat lagi kalau ia sampai menangkap aku berkencan kembali dengan mantanku.

Dan Mujianto membiarkan Lastri berkicau bak di Twitter tentang akun Twitter khayalannya…

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…