Tuesday, October 1, 2013

Launching Labirin Rasa bersama Eka Situmorang-Sir & Wahyu Media



Hari Sabtu tanggal 28 September 2013 , Kampung Fiksi menghadiri acara launching Labirin Rasa karya Eka Situmorang-Sir terbitan Wahyu Media di Gramedia Matraman. Ternyata hari itu juga ada launching buku Broken Heart dari penerbit yang sama.

Broken Heart ditulis oleh 6 orang: Heri, Joe, Bara, Putri, Dinar dan Kiki yang intinya bercerita tentang bagaimana rasanya patah hati ditinggal oleh pacar. Masing-masing punya cerita andalan sendiri dalam novel Broken Heart ini. Pengunjung acara launching juga berkesempatan bertanya pada mereka apa pendapat mereka tentang cinta, patah hati dan pernikahan yang dijawab dengan gaya masing-masing.


Lalu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dan dimulailah acara launching Labirin Rasa. Eka berbagi mengenai proses pembuatan naskah Labirin Rasa yang selesai dalam waktu 4 bulan. Tapi tokoh Kayla sudah ada dalam benaknya sejak ia masih kuliah. Sekedar inforamsi, sebelum Eka mengisi blog-nya dengan cerita perjalanannya, ia juga menghasilkan karya fiksi.

Pihak Wahyu Media menghubungi Eka tentang menerbitkan novel romance traveling. Oleh Eka, naskah selesai disusun dalam waktu 4 bulan. Judul Labirin Rasa dipilih karena jalan hidup orang (dalam hal ini : Kayla sebagai tokoh utamanya) tidak ada yang berjalan mulus termasuk juga perjalanan mencari cinta. Walau tokoh Kayla ini sudah ada lama di benak Eka, bukan berarti dia tidak mengalami yang namanya writer's block. Akhirnya, untuk mengatasi hal tersebut Eka mengunjungi kota yang menjadi setting naskah Labirin Rasa. Masalah deadline juga menjadi kendala sementara untuk mengatasi writer's block-nya Eka merasa wajib untuk mengunjungi kota dalam setting ceritanya tersebut. 

Disediakan juga waktu tanya jawab untuk pengunjung dengan Eka. Antara lain mereka menanyakan bagaimana cara menulis bab pertama yang bisa membuat pembaca tertarik dan bertahan untuk melanjutkan. Eka mengaku kalau ia belajar menulis secara otodidak. Yang ia lakukan adalah menulis dari hati. Ehm.

Yang menarik dari novel Labirin Rasa, selain menggunakan setting 8 kota di Indonesia dan 2 negara adalah konflik yang dialami oleh tokoh utamanya. Tentang keberanian mengambil keputusan dan melakukannya tanpa perasaan bersalah. Medan, bagi sang penulisnya adalah kota yang paling menarik dalam cerita ini (bukan karena dia juga orang Batak ya...) karena disinilah Kayla menemukan akar budayanya serta mengambil keputusan untuk move on. Eka juga sadar kalau selera para pembaca itu berbeda-beda karena baginya tidak ada buku yang jelek. Hanya masalah selera. 

Masalah typo yang mengganggu dalam novel disebabkan karena penerbit Wahyu Media berburu dengan deadline dan diharapkan akan diperbaiki pada edisi cetak ulang nanti. Amin. 

Selain tanya jawab, acara yang paling ditunggu-tunggu adalah pemenang review novel Labirin Rasa dan informasi kalau Labirin Rasa yang berikutnya akan segera muncul. 

Congrats untuk para pemenang lomba review dan tentunya juga bagi Eka Situmorang-Sir ^_^

Sibuk :)