Skip to main content

Rewrite/Remake Proyek 1: Hatiku Telah Bosan, Glory Grant

Proyek #RewriteRemake1 
Judul Cerpen: Hatiku Telah Bosan. 
Sumbangan Tulisan GloryGrant

Silakan menulis RewriteRemake ala kalian di kolom komentar, dengan syarat-syarat sbb:

Kamu boleh,
1. Mengubah judulnya
2. Mengubah sudut pandang (pov) penceritaan.
3. Mengubah awal dan akhir.
4. Membuat sambungan cerita.
5. Memberikan kritik membangun, tetapi harus membuat contoh seperti apa cerita ini agar lebih baik menurut pandanganmu. 

Yuk berlatih!

Hatiku Telah Bosan. 

“Mina, tolong sabarlah menungguku. Aku pasti kembali,” kata Mas Egi.

“Kapan kamu akan kembali, Mas?” tanyaku.

“Itu…. Sesuatu yang tidak pasti. Jika aku dapat cuti lebih, aku akan segera kembali. Nanti aku kabari,” jelas Mas Egi.

Aku melambaikan tanganku kepada Mas Egi yang akan pergi merantau ke kota seberang. Ya, dia mendapatkan pekerjaan di kota sana yang jauh. Aku ingat perkataannya beberapa hari yang lalu, “Ini demi masa depan kita, Mina. Aku harus terima pekerjaan ini, supaya bisa mengumpulkan uang untuk kita nanti.”

Kala itu, aku percaya. Aku bahkan mendukungnya mengambil pekerjaan itu. Sebuah perusahaan besar bidang perminyakan, sungguh tawaran yang sangat bagus. Jarang sekali ada orang mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan sebesar itu. Tesnya pun tak gampang. Mas Egi adalah salah satu orang yang berhoki besar bisa mendapatkan pekerjaan di sana.

* * *

Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan. Tak terasa waktu cepat berlalu. Selama sebulan sampai dua bulan lebih komunikasi anatara kami tak putus. Namun, pada bulan ketiga, selalu ada hambatan komunikasi antara kami.

“Maaf, Mina. Pekerjaanku banyak sekali. Di sini sinyal kurang jelas. Maaf jika aku tak dapat meneleponmu lama-lama,” begitu kata Mas Egi saat aku meneleponnya.

Beberapa kali aku mengirimkan pesan teks ke ponselnya, namun selalu lambat dibalas. Jika aku tanyakan alasannya, dia selalu bilang sibuk. Akhirnya karena tak sabar, aku membuka akun Facebookku yang sudah lama kutinggalkan sejak aku menjalin hubungan dengan Mas Egi. Aku ingin tahu apa yang ada di akun Facebooknya Mas Egi.

Ketika aku pertama kali masuk ke profilnya, aku dapati dia mengupdate gambar dirinya berdiri di kapal minyak. Di bawah ada komentar dari seorang wanita bernama Risa. Lalu aku melihat lagi ke postingan-postingannya yang lama. Selalu ada nama wanita itu, entah dia memberi tanda jempol ataupun memberikan komentar. Hatiku mulai panas.

Aku semakin penasaran dengan siapa wanita itu. Lalu aku mengklik namanya. Dan, masuklah aku ke profilnya. Untungnya wanita itu membuat profilnya agar dapat dilihat oleh khalayak ramai, sehingga dengan mudah aku mengetahui apa saja yang dipostingnya. Setiap foto yang diupdate oleh wanita itu, pasti ada nama Mas Egi memberikan tanda jempol.

Aku kesal, aku marah. Langsung saja kutelepon Mas Egi, walaupun ini sudah tengah malam. Dan telepon pun dijawabnya - suatu kebetulan yang memang aku harapkan.

“Mas, siapa wanita yang bernama Risa itu? Aku lihat dia ada di Facebookmu?” serangku.

“Eh, Risa? Oh… Itu teman, kok,” jawab Mas Egi terbata-bata.

“Teman apa, Mas? Kenapa di setiap postinganmu selalu ada namanya? Lalu, dipostingan dia juga selalu ada namamu?” cecarku.

“Ya, dia itu teman yang hadir di saat aku suntuk. Nggak seperti kamu yang membosankan. Kamu nggak pernah lagi buka Facebookmu. Tak pernah lagi berikan komentar untukku ataupun memberi tanda jempol. Aku bosan dengan kamu, Mina. Maaf ya… Kita akhiri saja semua ini. Aku nggak ada lagi perasaan sama kamu,” jawan Mas Egi.

Belum sempat aku berkata apa-apa. Mas Egi telah menutup teleponnya. Dan, tinggalah aku berdiri mematung dengan air mata yang berlinang jauh entah sampai mana. (R/R)

******

Contoh Remake oleh Indri Hapsari

Judul : Miss Kepo Patah Hati

Email or Phone : minawati88@yahoo.com
Password : ********

Enter.

Sekian lama aku tidak membuka akun Facebookku. Pada dasarnya aku memang tak menyukainya. Teman-temanku memang banyak yang memiliki akun, dan sudah ku-add mereka satu persatu. Aku berusaha untuk menyapa mereka di masing-masing timeline-nya, namun hanya sedikit yang membalasnya. Bahkan, saat aku mencoba berkomentar di status mereka, terasa balasan mereka hanya berupa basa-basi. Setelah itu, mereka asyik hahahihi dengan yang lainnya. Sering komentarku berakhir dengan ‘unfollow post’ untuk mengurangi sakit hatiku.

Malas rasanya membaca status ataupun foto yang mereka upload di dan muncul di wall-ku. Malas pula membaca statusku tak ada yang mengomentari. Akhirnya kuputuskan saja untuk tidak menengoknya kembali. Tak ada untung dan ruginya. Mereka tidak pernah kehilanganku, dan aku tak pernah kehilangan mereka.

Namun kali ini, Mas Egi membuatku harus masuk kembali ke akunku.

Mas Egi adalah pacarku. Kami dipertemukan oleh Siska, temanku dan teman Mas Egi. Katanya ada pria di kantor sebelah yang cukup OK dan single. Ia menawariku untuk diperkenalkan padanya, karena Siska sendiri sudah punya pacar. ‘Kalau gue jomblo udah gue embat!’ begitu katanya. Karena itu ia mengusulkan agar aku berkenalan dengannya, secara ‘tak sengaja’ tentu.

Siska sudah tahu Mas Egi biasa makan dimana. Maka pada jam makan siang, kami bergegas ke warung tersebut, yang memang menjadi tempat berkumpul pekerja kantor daerah ini. Syukurlah, Mas Egi sudah disana. Dengan ramah Siska menyapanya, sambil bilang, ‘Eh, kenalin nih. Temen gue.’ Setelah kami bersalaman, Siska dengan tanpa malu-malu duduk di sebelah Mas Egi, dan mempersilahkanku duduk. Lalu ia berpura-pura mau melihat masakan apa saja yang dipajang di display warung, dan meninggalkan kami berdua.

Disanalah Mas Egi mengajakku bercakap-cakap untuk pertama kali. Siska memang tak salah. Mas Egi ini laki banget penampilannya. Lengan kemeja digulung sampai siku, dagu yang biru habis dicukur, dan dasi yang dilonggarkan. Rambutnya rapi meski ada anak rambut yang membandel jatuh di keningnya, namun malah menambah natural penampilannya.

Untunglah Mas Egi mungkin menganggap hal yang sama pula padaku, mengenai hal ‘cukup manis’ itu, hingga mungkin baru dua minggu kami intens bertemu, ketika ia mengucapkan cintanya padaku. Lalu kami berpacaran, dan semua baik-baik saja, sampai ia berkata dipindahtugaskan ke cabang di luar kota.

Lalu aku bisa apa, selain merelakannya? Aku bukan bossnya, tak bisa pula mengganti gajinya. Lagipula, ‘ini demi masa depan kita berdua,’ begitu katanya. Sehingga kulepas kepergiannya di bandara, dan ia berjanji akan sering menghubungi.

Itu janjinya. Pada kenyataannya, sangat jarang ia meneleponku, membalas teleponku, pesanku, emailku, atau apapun yang bisa kuusahakan agar bisa menghubunginya. Hampir putus asa aku setelah lebih dari dua minggu tak mendapat kabar darinya.

Ketika kuceritakan hal ini ke Siska, ia menanyakan apa aku terhubung dengan medsosnya? Facebook, salah satunya. Aku ingat, pernah meng-addnya hanya karena ingin melihat foto-fotonya. Sudah di-approve, dan sempat kulihat timeline-nya yang hanya berisi status dan foto teman-temannya, yang men-tag namanya. Mas Egi nampaknya tak terlalu berminat pula dengan pergaulan dunia maya. Karena itu kembali aku meninggalkan Facebook.

‘Coba masuk ke akunnya, siapa tahu ada keterangan tentangnya,’ begitu saran Siska. Kuikuti nasehatnya, dan setelah mencari namanya di daftar friendlist-ku, kini aku telah masuk ke timeline-nya.

Ada yang baru nampaknya. Timeline-nya kini tak hanya berisi milik teman-temannya. Ada status dan foto, dibuat dalam jangka dua minggu yang lalu. Cukup aktif nampaknya, setiap dua hari pasti ada yang baru darinya. Menyakitkan, mengingat ia tak pernah menghubungiku, padahal mengetik statusnya ia mampu. Belum lagi meng-upload foto yang mungkin sudah di-edit lebih dahulu.

Aku buka satu persatu. Sepertinya ia punya penggemar. Seseorang yang bernama Risa, perempuan pastinya, sering me-like status, fotonya, kadang berkomentar ‘Ganteng banget!’, ‘Wah aku bisa tak tidur malam mini!’ Dan Mas Egi menanggapinya dengan icon tertawa di setiap balasan komen yang diberikan.

Aku penasaran dengan yang namanya Risa ini. Untunglah profilnya dibuka untuk umum, sehingga aku bisa menelisik di setiap postingannya. Cukup banyak fotonya dengan pose close-up, dan memang cukup menarik wajahnya. Di akunnya, aku merasakan keanehan yang sama. Setiap Risa posting sesuatu, entah status, foto, bahkan lokasi tempat ia berada, Mas Egi selalu mengomentari dengan kalimat-kalimat yang menggoda. ‘Ikut dooong’ atau ‘Tambah cantik aja nih!’ atau ‘Baru aja ketemu, sudah bikin kangen’.

Astaga! Padahal bisa kuhitung dengan sebelah jari tangan, berapa kali ia mengatakan hal-hal manis itu padaku. Dengan geram kukirimkan message padanya, mempertanyakan tentang Risa. Aku juga merambah semua status dan fotonya, kutambahkan komentar, ‘Risa ini siapamu Mas? Kok lebih akrab dariku, yang adalah pacarmu?’ Aku sudah gelap mata dengan perselingkuhan mereka berdua. Terlebih semua dilakukan di depan mata dunia. Kuposting status berisi sakit hatiku. Tak peduli jika teman-temanku membacanya, toh mereka juga tak mempedulikan aku.

Bertambah sedih hatiku ketika di malam hari, saat aku ingin memeriksa sudahkah ia membalas pesanku, timeline-nya kembali kosong. Rupanya ia sembunyikan semua dariku. Pesankupun sudah dibacanya, aku melihat notifikasi ‘Seen Mon at 13.30’ tapi ia tak pernah membalasnya. Aku kirimkan lagi pesan yang sama, mempertanyakan siapa Risa, dan bagaimana kelanjutan hubungan kami berdua.

Pagi hari, saat aku akan memeriksa balasannya, aku tak bisa lagi menemukan akunnya. Kucari di Google dengan mengetikkan nama lengkap Mas Egi tak pula kudapatkan. Rupanya, aku telah di-block olehnya.

Menjadi terpikir, apakah sebaiknya aku buat akun samaran, dan meng-addnya sebagai teman?

******

Bagi mereka yang berniat menyumbangkan cerpen atau 1st pagenya untuk Rewrite/Remake, silakan kirim ke kampungfiksi@gmail.com, tulis pada subyek email: Rewrite/Remake Cerpen atau Rewrite/Remake 1st Page. Panjang tulisan maksimal 1000 kata. Penyumbang akan mendapatkan kenang-kenangan dari Kampung Fiksi, selama persediaan masih ada.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…