Thursday, October 24, 2013

(Tips Menulis Fiksi) Trik Untuk Meneruskan Naskah Setengah Jadi


Halo Fictionholics. Bagaimamana kabar naskah yang sedang kamu tulis? Adakah yang sekarang naskahnya lagi terkatung-katung alias mandeg? Coba diingat-ingat sudah berapa lama naskah belum selesai itu ngendon di folder kamu?


Memang suka ada rasa terintimidasi ya saat kita ingin kembali meneruskan naskah mandeg itu. Kadang suka ragu-ragu, bisa nggak ya membuat adegan yang keren banget setelah sekian lama naskah ditinggal saat menjelang konflik? Jangan-jangan nanti malah jadi maksa?


Ingin juga langsung meneruskan tanpa  arah, yang penting terusin aja dulu. Soal mau ke mana cerita akan berbelok, urusan belakangan. Tapi, lagi-lagi, kamu merasa akan membuang-buang waktu saja. Jangan-jangan nanti naskahnya bukan mendekati ending, malah melebar ke mana-mana? Ketakutan dan keraguan meneruskan naskah mandeg itu akhirnya  membuat  kamu urung menulis lagi. Mood juga menguap entah kemana.


Sebenarnya, tahu nggak kamu kalau penyebab tulisanmu mandeg itu bisa jadi karena konsep cerita kamu lemah? Bisa jadi, saat kamu mulai menulis naskahmu itu kamu “hanya” berangkat dari sebuah ide dasar. Kamu tidak membuat draft sama sekali, karena kamu yakin sekali dengan ide cerita milikmu yang beda dari yang lain. Jadi, dengan yakinnya kamu mulai menulis tanpa pusing-pusing memikirkan terlebih dahulu apa konflik yang harus dihadapi si tokoh dan bagaimana ending ceritanya. Ah, itu bisa dipikirkan nanti-nanti saja.


Banyak yang mengira cara menulis “tabrak ide” seperti itu adalah salah satu gaya menulis seseorang. Padahal, sebenarnya itu bukan gaya menulis. Mungkin memang “gaya” bisa menulis naskah novel langsung tanpa panduan kerangka atau premis, tapi percaya deh, gaya itu tidak sehat untuk kelanjutan proses menulismu.


Tidak semua orang seberuntung itu—menulis tanpa draft/kerangka. Kalau kamu ternyata sering stuck di tengah-tengah menulis naskah, berarti ada yang salah dengan proses menulismu. Harus mulai dicari penyebabnya untuk mengurai di mana mandeg-nya, nih? Kebanyakan penulis pemula menganggap proses menulis adalah proses yang sangat bergantung pada mood, sehingga tidak jarang menganggap enteng. Saat mood lagi bagus, menulis bisa lancar sampai berlembar-lembar. Lalu saat mood sedang tidak mendukung, kamu yakin nanti juga mood akan membaik. Kalau terus begini, percaya deh, naskah setengah jadi akan makin banyak menumpuk di foldermu.


Bagaimana supaya tidak keterusan begitu terus? Gemes kan melihat naskah belum jadi itu bengong-bengong aja di folder? Padahal kalau naskah itu bisa selesai, kamu bisa lanjut ke proses selanjutnya.


Cobalah mulai proses menulismu dengan menciptakan sebuah premis. Premis adalah bentuk paling dasar dari cerita yang akan kamu tulis. Kamu harus tahu siapa tokohmu, apa tujuannya dalam cerita dan berhasil atau tidak dia mencapai tujuan tersebut. Premis inilah yang akan membantu kamu mengarahkan ceritamu hingga selesai. Begitu kamu sudah memegang premis itu, kamu bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.


Apa selanjutnya? Apa dengan memegang premis saja kita sudah bisa mulai menulis? Silakan saja. Tapi tidak semua penulis bisa langsung menulis hanya dengan berpegang pada premis, lho! Bahkan penulis sekaliber Leila S. Chudori pun mengatakan kalau dia masih membuat draft untuk bahan tulisannya.


So, jangan malas membuat draft/kerangka yang berangkat dari premis tadi. Jangan menganggap enteng proses menulismu. Kalau penulisnya “ngegampangin” proses menulis naskahnya, apa iya mau berharap pembaca nggak menganggap enteng juga?


Cara paling mudah untuk meneruskan tulisanmu yang mandeg adalah menentukan kembali tujuan si tokoh dan ending. Ending ini penting sekali ditentukan sejak awal, karena dialah yang akan mengarahkanmu menyelesaikan menulis cerita itu.


Berikut ini ada beberapa adegan umum yang banyak dipakai dan susunannya yang paling umum. Soal penyusunan adegannya tentu saja tergantung plot yang kamu inginkan. Tapi setidaknya beginilah kira-kira panduan untuk menulis ceritamu dari awal sampai akhir, sehingga tulisanmu tidak lagi mandeg. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah membuat point dari 1 sampai 12.  Point yang berada di antara 1 dan 12 adalah rangkaian adegan yang bersambung dari awal sampai akhir cerita.


Ini contohnya:


Point 1: Tokohmu dalam kesehariannya (perkenalan karakter dan setting).

Point 2: Tokohmu mengalami sebuah gejolak akibat pengaruh dari luar.

Point 3: Tokohmu meminta pendapat tentang gejolak tersebut kepada tokoh-tokoh lain dalam cerita. 

Point 4: Tokohmu dipertemukan dengan beberapa pilihan.

Point 5: Tokohmu membuat gebrakan yang tidak terduga.

Point 6:Tokohmu mengalami masalah atau mendapat tantangan karena gebrakannya.

Point 7: Tokohmu menghadapi tantangan yang makin besar (menuju konflik).

Point 8:Tokohmu terpuruk (menuju klimaks).

Point 9:  Tokohmu berusaha bangkit kembali.

Point 10: Tokohmu mulai mendapatkan penyelesaian (menuju ending).

Point 11:  Tokohmu dikonfrontasi dengan tokoh antagonis (klimaks).

Point 12:  Tokohmu berhasil/gagal mencapai tujuannya (ending).


Kira-kira demikian panduan teoritis yang bisa kamu pakai untuk mengurai tulisanmu yang sedang mandeg itu agar bisa diselesaikan. Ingat ya, ini hanya teori. Bagaimana kamu bisa mengadaptasi teori ini ke dalam ceritamu, di sanalah seninya. Tidak heran kalau menulis disebut sebagai kegiatan crafting, karena kalian memang butuh latihan banyak dan mengeksplorasi kreatifitasmu.


Oh ya, kalau teori sudah dapat, langsung saja menulis. Karena kalau cuma baca-baca teori, tulisanmu tetap saja mandeg. Selamat mencoba! Semoga bermanfaat.