Thursday, November 7, 2013

(Tips Menulis Fiksi) Tujuan Menulis Cerita Pendek



Beberapa penulis memulai dan mengembangkan cerpennya tanpa tujuan yang jelas. Akibatnya jalan cerita tersasar dan bertele-tele yang tidak perlu. Cerita pendek hanya mengemukakan suatu aspek saja secara tajam. Cerita pendek menjadi tajam dan jelas justru lantaran keterbatasan objeknya itu. Dalam sebuah cerpen tak mungkin bercerita tentang watak yang lengkap. Yang bisa kita kemukakan hanyalah aspek watak: keserakahannya, keberaniannya, kepolosannya dan sebagainya. Padahal dalam kenyataan watak bisa berubah dan berbagai macam aspek. Hal demikian bisa dikembangkan dalam novel, tetapi tidak dalam cerita pendek.
Inilah sebabnya segala adegan dalam cerpen harus terpilih secara ketat sehingga memfokus betul pada sasaran yang hendak dicapai. Lantas bagaimana bisa menyeleksi adegan? Sesuatu menjadi jelas dan kuat kalau jelas pula tujuannya. Harus ada yang akan dikatakan. Dan jangan menulis sambil mencari apa yang akan dikatakan. Pegangan pokok dalam menulis adalah: apa yang hendak saya kemukakan dengan cerpen ini? Cerpen saya ini ingin membuktikan apa? Kalau tujuan sudah jelas maka semua pikiran dan imajinasi selama menulis bisa diarahkan ke sana. Tujuan adalah pegangan untuk mengembangkan imajinasi dan tanggapan kehidupan. Selama penulis belum yakin benar akan apa yang hendak digarapnya, selama itu pula ia menulis tanpa pegangan yang berarti ngawur tak menentu.
Ada tiga hal yang patut diperhatikan dalam menentukan arah penulisan cerpen, yakni: tentang apa, dasar kepercayaan atau keyakinan hidup dan apa yang akan dibuktikannya.

Tentang apa
Inilah objek cerpen. Dalam hal ini kita bisa menulis tentang segala macam objek. Misalnya tentang kehidupan pelacur, kehidupan guru, kehidupan tukang bakso, penggali kubur dan sebagainya. Atau bercerita tentang peperangan, bencana, kecelakaan, percintaan, perkawinan dan sebagainya. Atau tentang pengkhianatan, kemuliaan, kesalehan, kejujuran, kesembronoan dan sebagainya. Pokoknya segala macam hal bisa kita bicarakan dalam cerita pendek. Objek itu bisa diambil dari pengalaman hidup sendiri, pengalaman hidup orang lain, berita-berita dalam koran dan sebagainya.

Dasar keyakinan
Setelah memilih suatu objek yang diketahuinya benar, lantas apakah sikap dasar penulis sendiri? Menulis sebenarnya juga mengemukakan pribadi sendiri. Dengan menulis pembaca bisa mengetahui bobot seseorang pengarang. Pengarang bisa disimak watak dan sikap hidupnya melalui novel-novel atau cerpen-cerpennya. Inilah sikap. Pengarang yang dewasa dan matang harus memiliki sikap hidup demikian. Sastra bukan hanya khayalan dan barang permainan belaka. Ia adalah juga ekspresi serius seseorang dalam menanggapi kehidupan ini. Di sinilah diperlukan dasar keyakinan seseorang dalam tulisan-tulisannya. Kalau seseorang mau menulis tentang pelacur, apa dasar keyakinan yang dibawanya? Apakah bahwa pelacuran itu suatu kebutuhan, suatu keperluan mutlak? Apakah pelacuran itu suatu kemalasan saja? Apakah pelacuran itu kenistaan dan dosa? Apakah pelacuran itu akibat kondisi sosial? Apakah pelacuran itu kebobrokan moral? Apakah pelacuran itu justru kepahlawanan? Keberanian dan sepi dari kemunafikan? Orang bisa mengambil sikap yang beragam tentang pelacuran. Dan pengarang yang mau menulis tentang dunia ini harus punya sikap dulu yang mendasarinya. Inilah sikap pengarang, kepribadian pengarang, gaya seorang pengarang. Pengarang yang kuat adalah pengarang yang selalu kembali pada gayanya. Artinya ia punya pegangan dalam melihat kehidupan ini. Ia punya penilaian sendiri terhadap hidup ini. Jadi jelas pengarang bukan tukang khayal melulu yang tak ada gunanya dalam kehidupan. Pengarang adalah pemikir serius kehidupan ini. Ia harus punya pendirian yang kuat, jelas dan mengakar! Bisa saja landasannya agama, moral, filsafat dan seterusnya. Tetapi harus punya pegangan hidup dalam menilai.

Apa yang hendak dibuktikannya?
Cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita. Ini soal teknis. Pengarang harus memiliki ketangkasan menulis, menyusun cerita yang menarik. Tetapi cerita yang menarik tadi untuk apa? Misalnya seseorang memilih objek kehidupan pelacur, dan berpegangan pada prinsip moral bahwa pelacuran itu dosa dan patut dihapuskan, lantas apa yang hendak dibuktikan dengan ceritanya? Di sini pengarang misalnya dapat berpegangan pada maksud menulis cerpennya yakni bahwa bagaimanapun menderitanya seseorang asal dia punya prinsip moral yang kuat tidak akan jatuh menjadi pelacur. Atau ingin membuktikan bahwa pelacur yang rajin sembahyang hanya membuktikan bahwa perbuatan atau pekerjaan itu tetap mengusik moralnya.
Itulah sekedar contoh buat memahami apa yang sebenarnya harus dipegang oleh pengarang sebelum menulis. Untuk lebih meyakinkan lagi perlu kiranya tiga hal tadi diformulasikan secara tertulis sebelum memulai mengetik cerpennya.

(Sumber: Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen karya Jacob Sumardjo)