Thursday, March 13, 2014

[Rabview] Paquita dan Pangeran Bianglala: Antara Dongeng dan Kenyataan

Judul Buku Paquita dan Pangeran Bianglala
Pengarang: Citra Rizcha Maya
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : 2013



Halo ‪Fictionholics! 

Sudah lama kayanya kita tak bertemu di Rabview Kampung Fiksi. Maklum lagi sibuk ini itu. Apalagi habis ulang tahun Kampung Fiksi ketiga yang acaranya banyak banget *alasan.... Baiklah tanpa berbasa-basi yuk simak Rabview pertama di tahun 2014.

Buku yang akan direview kali ini berjudul Paquita dan Pangeran Bianglala, sebuah novel romance karya Citra Rizcha Maya. Citra sendiri adalah guru SMA yang mencintai dunia tulis menulis dan novel ini merupakan novel keduanya setelah 2012 lalu mengeluarkan novel perdana berjudul Confession of A Silly Drama Queen. Sama seperti di novel pertama yang kedua tokohnya remaja SMA, novel kali ini Citra juga mengangkat tokoh remaja SMA sebagai karakter utama novelnya.

Novel ini dimulai dengan Paquita kecil yang bertemu dengan seorang laki-laki tampan di hari ulang tahunnya yang ke 9 tahun. Saat itu Paquita sendirian karena sang Mama yang sangat sibuk semenjak kematian papanya. Paquita dan laki-laki tampan itu menghabiskan hari ulang tahun Paquita di atas bianglala yang besar di sebuah taman hiburan hingga kemudian si laki-laki tampan memberikan dia sebuah cincin yang kebesaran di jarinya. Laki-laki itu berjanji mereka akan bertemu di masa depan nanti. Paquita tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan terus mengharapkan pangeran bianglalanya. 

Sahabatnya Tarra suka meledek hal tersebut dan merasa apa yang dialami Paquita hanyalah mimpi. Kemudian hal tak terduga terjadi, ayah Tarra dan mama Paquita bertunangan dan akan menikah. Paquita tak terima hal tersebut dan memutuskan untuk pergi ke rumah Opanya di kota lain. Di sanalah dia bertemu dengan Danar, seorang pria yang usil, penganggu, tapi cakep.

Dengan jumlah 140 halaman, kita akan membaca novel ini dalam waktu singkat. Karakter setiap tokoh juga diolah dengan baik apalagi point of view yang digunakan adalah orang pertama tunggal sudutnya Paquita, jadi kita bisa memahami perasaan Paquita. Hanya saja ada beberapa hal yang digaris bawah yaitu gaya bahasa Paquita yang berumur 9 tahun yang sedikit terlalu dewasa. Mungkin karena Paquita adalah anak yang mandiri dan sering melakukan apa-apa sendiri tanpa bantuan mamanya, tapi tetap saja gaya bahasa 9 tahun Paquita sedikit menganggu saya. Namun tenang saja, semakin kita membaca novel ini semakin kita akan tertarik dan akan menemukan ending tak terduga di akhir cerita.

Secara keseluruhan penokohan novel ini cukup baik. Pembaca dapat mengetahui perubahan sifat Paquita dari awal novel sampai akhir novel. Paquita yang awalnya menyalahkan Mamanya karena akan menikah pelan-pelan mulai memaafkan. POV yang digunakan adalah orang pertama tunggal diceritakan Paquita jadi pembaca merasa dekat dengan Paquita. Namun demikian penggambaran tokoh Danar cukup pas meski diceritakan Paquita, sifat Danar yang suka usil dan terkesan mengganggu di awal pelan-pelan berubah menjadi menyenagkan.

Bagaimana kisah Paquita selanjutnya? Apakah dia akan bertemu dengan pangeran bianglala lagi? Yukk, baca novelnya!

Diulas oleh Ajen Angelina