Friday, March 28, 2014

Sehari Bersama ASEAN Literary Festival 2014



Oleh: Nastiti Denny

Sabtu pagi, 22 Maret, pukul 10 mobil yang saya kendarai memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Gerbang gedung pertunjukan yang biasa disebut TIM ini kali ini berdandan tidak seperti biasa. Huruf-huruf raksasa yang disusun membentuk kata ASEAN menyambut seluruh pengunjung di pintu masuk. Merah menyala. 

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini (21-23 Maret 2014) memang telah saya tunggu-tunggu kehadirannya. Sayangnya, begitu mendekati hari penyelenggaraan, saya mesti pasrah saat kesibukan lain yang tak mungkin ditinggalkan memberi saya waktu hanya sehari untuk mengikuti festival yang baru pertama kalinya diselenggarakan ini.

Tenda-tenda putih terlihat berjajar rapi di pelataran teater kecil tempat acara ini berlangsung. Tenda-tenda tersebut sebagian dipakai untuk berjualan buku oleh penerbit yang berpartisipasi seperti Gramedia, Plot Point, Bentang Pustaka, Buku Fixi, dan Koekoesan, sebagian lagi digunakan sebagai booth komunitas menulis dan penerbit mandiri, yaitu nulisbuku, katabergerak dan Indie Book Corner. 

Sesuai dengan jadwal yang telah didistribusikan terlebih dahulu melalui www.aseanliterary.com sesi pertama pada hari ke-2 adalah diskusi yang diberi judul Contemporary ASEAN Literature. Bertempat di gedung utama Teater Kecil, diskusi ini dimoderatori oleh Richard Oh (Indonesia) mendampingi tiga pembicara utama, yaitu: Manneke Budiman (Indonesia), Isa Kamari (Singapore) dan Andy Fuller (Australia). Wacana utama sesi ini, sebagaimana pertanyaan yang dilontarkan oleh moderator kepada masing-masing pembicara yaitu di manakah posisi dunia literasi negara-negara ASEAN saat ini? Berapa besar peluang penulis-penulisnya untuk ‘go international’? Karena ‘go international’, yang berarti diterjemahkan ke dalam bahasa dunia yaitu bahasa Inggris akan memperluas jangkauan literatur tersebut. Ide-ide yang semula hanya berputar di negaranya saja akan tersebar dan dibaca oleh lebih banyak masyarakat di dunia. Beragam pandangan kemudian terlontar dari pembicara utama. 
Kiri ke kanan: Richard Oh, Isa Kamari, Andy Fuller, Manneke Budiman

Pendapat Manneke Budiman dalam hal ini cukup menggelitik. Beliau mengatakan bahwa seorang penulis sebaiknya menulis tanpa pretensi. Tidak perlu memikirkan apakah karyanya akan pantas atau tidak pantas diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Hal ini diucapkan oleh Manneke menanggapi desakan moderator bahwa karya penulis Indonesia masih sangat sedikit yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. “Translated or not, the most important is whether you are still a writer or not,” tandas Manneke. Selain itu Manneke juga mengungkapkan bahwa seorang yang serius meminati sebuah karya tulis, ia akan berusaha untuk memahami dalam bahasa aslinya. Sementara itu, Isa Kamari, yang beberapa karyanya telah diterjemahkan dari Bahasa Melayu kedalam Bahasa Inggris mengatakan bahwa tidaklah mudah sebuah karya diterjemahkan ke dalam bahasa yang bukan aslinya. Menanggapi pertanyaan tentang nilai rasa yang hilang karena penerjemahan, Isa Kamari mengakui dirinya menghadapi hal yang sama. “Translation somehow loosing the sense of nature, culture and the genuine,” ujarnya. Isa juga mengatakan pentingnya bersabar sambil terus belajar bila karyanya ingin diterjemahkan ke bahasa yang bukan aslinya.

Sesi yang dijadwalkan selesai pukul 12 ini ternyata kelar lebih awal. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk berkeliling ke tenda-tenda dimulai dari yang paling dekat pintu masuk Teater Kecil. Booth Plot Point dan Bentang Pustaka yang menempati tenda paling luas selain menjual buku juga memberi informasi tentang kursus menulis yang diadakan Plot Point mulai dari menulis cerpen hingga skenario film. Booth nulisbuku termasuk salah satu yang unik. Di tempat tersebut pengunjung diminta menuliskan rencana menulis dan membaca untuk setahun kedepan kemudian menempelkannya di sterofoam yang tersedia. Mereka menyediakan asturo berbagai warna dan pena yang dapat digunakan pengunjung. Saya merasa seperti diminta mencicipi makanan pemberi semangat di sana. Menyusuri tenda ke arah barat terlihat persiapan diskusi lain yang bertema Wiji Thukul: The Work and The Story. Ah, hampir saja saya lupa bahwa tema festival kali ini, Anthems for The Common People, dijiwai oleh puisi-puisi Wiji Thukul. Setelah memanfaatkan kesempatan 20% diskon buku-buku terbitan Gramedia, saya segera menempatkan diri di bawah tenda putih di mana diskusi tentang Wiji Thukul akan berlangsung.
Kiri ke kanan: Joko Pinurbo, Mumu Aloha, Fitri Nganti Wani, Khrisna Pabichara

Joko Pinurbo, penulis puisi peraih banyak penghargaan bersanding dengan Mumu Aloha (Managing Editor detikHOT) dan Fitri Nganti Wani, putri Wiji Thukul sebagai pengisi acara yang dimoderatori Khrisna Pabichara. Terlalu banyak hal menarik dari ketiga pembicara tersebut untuk dicatat. Saya berusaha sebisanya merekam kesan yang disampaikan tentang seorang Wiji Thukul yang fenomenal ini. Menurut Joko Pinurbo, diksi dalam puisi Thukul jauh dari kata-kata yang berhubungan dengan kemewahan. Kesederhanaan diksi tersebut menggambarkan bahwa isi puisinya melambangkan kehidupan masyarakat bawah. Pinurbo juga membandingkan puisi Thukul dengan puisi W.S. Rendra yang sama-sama gigih menyuarakan keadilan. Menurutnya, Rendra menggunakan diksi yang lebih ‘mewah’ ketimbang Thukul. Sementara itu, Mumu Aloha menyoroti bahwa Thukul justru “meluruskan” bahwa dirinya menulis puisi sama sekali bukan untuk membela rakyat. Ia menulis puisi karena percaya bahwa puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang kecil. Dan, orang kecil itu bukanlah siapa-siapa melainkan dirinya sendiri. Atau, dalam bahasa Wiji Thukul sendiri,”Orang tertindas semacam saya.” Dengan demikian, lewat puisi-puisi yang ditulisnya, Thukul bicara tentang dirinya sendiri; seorang buruh pelitur yang beristri tukang jahit, bapaknya tukang becak, mertuanya pedagang barang rongsokan, dan lingkungannya orang-orang melarat. Mereka semua masuk dalam “dunia” puisi Wiji Thukul, sehingga dengan membela diri sendiri ternyata puisi-puisinya juga menyuarakan hak-hak orang lain.

Fitri Nganti Wani, dalam kesempatan ini membacakan sebuah puisi yang ditulisnya sendiri tentang perjuangan ayahnya selama ini. Menurut Fitri, kesempatan yang hanya 8 tahun bertemu dengan sang ayah adalah sebuah momen di mana ia melihat seorang Wiji Thukul sebagai pendongeng sejati bagi anak-anaknya di luar kesibukannya di luar rumah sebagai seniman.
Fitri Nganti Wani membacakan puisi karyanya

Selesai makan siang, dengan perut penuh dan pelupuk mata yang mulai berat, saya ‘ngadem’ di ruang utama mendengarkan diskusi yang diberi tajuk Democracy, Human Rights and Literature. Sesi ini dimoderatori oleh Laura Schuurman (Jakarta-based writer and research analyst) yang cantik dengan suara merdu mendayu-dayu. Untungnya saya tidak sampai tertidur dibuatnya. Meski lembut, beliau berbicara dengan bahasa Inggris yang jelas dan tegas. Melihat peserta diskusi yang mencermati lembaran makalah di tangan, saya tenang-tenang saja tidak mencatat apapun selama diskusi. Sambil terkantuk-kantuk, saya memilih menanti makalah seperti yang dipegang peserta lain tersebut. Lama menanti makalah tak kunjung datang, saya menghampiri salah satu panitia untuk meminta satu eksemplar saja yang ternyata dijawab dengan permintaan maaf bahwa copy makalah sudah habis. Meski kecewa saya tetap mengantuk. Maksud saya, tetap berdiri di samping Mbak panitia yang akhirnya mampu membaca keinginan saya untuk tetap memiliki makalah tersebut. Akhirnya, ia menanyakan alamat email saya dan berjanji mengirim softcopynya. Saya mengucapkan terima kasih, kembali ke tempat duduk agar dikira khusyuk mendengarkan padahal sibuk mencari teman ngobrol.

Teriknya matahari siang itu melelehkan kantuk saya seketika saat kembali berada di luar gedung. Di bawah tenda putih tempat diskusi Wiji Thukul pagi tadi, saya mencari tempat duduk paling strategis (baca: paling adem) untuk mengikuti bincang-bincang dengan tiga orang penulis yang masing-masing berasal dari Sulawesi Tengah (Erni Aladjai), Aceh (Arafat Nur) dan Papua (Aprilia Wayar). Mereka mengisi sebuah sesi yang berjudul Writers in the Area of Conflict. Ketiga pembicara tersebut saling memaparkan keadaan di daerahnya masing-masing. Aprilia Wayar, yang saat ini bekerja sebagai jurnalis di Papua dengan lantang dan tegas menyatakan bahwa begitu banyak berita simpang siur tentang kondisi Papua sampai saat ini. Ia terpanggil untuk menulis novel tentang Papua sebagai wujud tanggung jawabnya menyebarkan kebenaran akan apa yang sesungguhnya terjadi berlarut-larut di daerah tersebut. Ia juga menyerukan untuk jangan mudah percaya pada pemberitaan media yang mendiskreditkan masyarakat asli Papua. Novel Aprila yang telah terbit berjudul Mawar Hitam Tanpa Akar dan Dua Perempuan.
Arafat Nur, Aprilia Wayar, Arman Dhani (Moderator)
 
Arafat Nur bercerita tentang kondisi Aceh sebagaimana tercantum dalam novel terbarunya
Sementara Arafat Nur yang baru saja meluncurkan novel terbarunya (Burung Terbang di Kelam Malam) menceritakan betapa minimnya pembaca novel di daerahnya. Sekian puluh tahun menjadi wilayah konflik, rakyat Aceh jauh lebih akrab dengan pistol dan senapan ketimbang buku. Arafat juga meluruskan pendapat bahwa rakyat Aceh tidak membenci orang Jawa. Mereka membenci pemerintahan yang korup. Pembicara terakhir adalah Erni Aladjai yang novelnya (Kei) meraih pemenang unggulan Lomba Novel DKJ 2012. Erni melihat bahwa masyarakat Sulawesi Tengah adalah masyarakat yang cinta damai. Tetapi, belakangan mereka sangat mudah tersulut pertengkaran yang berakhir pada kerusuhan. Banyak adat istiadat yang menurutnya jika dipelihara sesungguhnya dapat menyatukan masyarakat di sana.

Pukul 16.30, setelah kurang lebih satu jam terpanggang matahari yang kian terik di bawah tenda, saya kembali ke gedung Teater Kecil untuk mengikuti seminar tentang dunia literatur anak dimana tiga penulis produktif Indonesia: Arswendo Atmowiloto, Clara Ng dan Icha Rahmanti telah memulainya sekitar 30 menit sebelum kedatangan saya. Better late than never. Sesi ini adalah salah satu yang paling saya nanti. Tak apa kebagian sesi tanya jawabnya sebab justru bagian ini biasanya lebih menarik dan tidak membosankan. 
Icha Rahmanti menjawab pertanyaan peserta

Bertema A Quest for Identity, Clara Ng menanggapi pertanyaan tentang apa yang terpenting dalam menulis cerita anak dengan mengatakan bahwa yang penting dalam buku anak adalah buku tersebut mampu memberi identitas pada anak. Membesarkan fakta ke keadaan asing yang berbeda yang membuat akhirnya kita berada di sana dan memahami perbedaan. Menghilangkan batas. Menjadikan anak berkembang akalnya. Diskusi makin hangat ketika seorang menanyakan bagaimana pendapat para pembicara terhadap maraknya buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit besar yang ditulis oleh anak-anak yang sayangnya menurut penanya mutunya jauh dari standar mutu bacaan anak-anak. Beragam pendapat bermunculan. Icha Rahmanti berpendapat bahwa katakan hal tersebut saat ini baru menjadi tren, tentu membutuhkan cukup waktu untuk akhirnya menjadi karya yang bermutu. Icha mengatakan bahwa saat ia mulai menulis genre chicklit, banyak orang memandang sebelah mata pada genre tersebut. Namun, seiring waktu, tulisan Icha ternyata mampu menjadi pelopor genre chicklit yang ‘berbeda’ dan disukai. Sementara itu, Clara Ng menanggapi hal ini dengan lebih melihat perkembangan jiwa sang anak yang menjadi penulis buku yang karyanya dijual di toko dan kemudian mendapat royalti dari penjualan tersebut. Menurut Clara, anak-anak memiliki kreativitas tanpa batas. Ketika anak-anak menulis, pada dasarnya mereka hanya ingin diapresiasi oleh teman dan lingkungannya. Ketika industri turut campur, anak dapat kehilangan kemampuan berkreasinya yang tanpa batas tersebut karena pengaruh uang. Pada pertanyaan lain yang berkaitan dengan membangkitkan semangat anak sekolah dasar untuk menulis, Arswendo menyarankan tema yang aktual (dekat dengan dunia anak). Sangat tidak disarankan bagi anak-anak untuk menonton tayangan sinetron yang lebih banyak menceritakan kesukaan pada materi dan jauh dari kenyataan yang ada. 

Usai seminar tentang Children Literature, langit mulai gelap. Panggung untuk Art & Performance yang dijadwalkan dimulai sekitar pukul 7 dipersiapkan. Sayang saya harus segera pulang. Sambil menyetir, beberapa kalimat yang dilontarkan selama diskusi yang saya ikuti seharian ini melintas bergantian di kepala. Terkadang sebuah kalimat dari puisi Wiji Thukul, terkadang gurauan satir para penulis dari daerah konflik, ada juga kata-kata penuh semangat dari para penulis senior negri ini yang tak lelah menyuntikkan semangat untuk terus berkarya.

Jakarta, 27 Maret 2014