Skip to main content

[REVIEW] LUCY


Ide cerita film ini sebenarnya keren. Tentang mitos bahwa manusia hanya menggunakan 10% otak mereka.

Cerita dimulai dari tokoh Lucy (Scarlet Johansson) yang dijebak pacar seminggunya untuk mengantarkan koper ke Tn. Jang (Choi Min-sik). Pacarnya ditembak di depan mata, Lucy masih dipaksa menjadi kurir obat terlarang (namanya CPH4) - yang ternyata itulah isi dalam koper tersebut. Dalam perjalanan terjadi sesuatu dan salah satu kantong obat tersebut bocor dan bereaksi dengan sistem DNA-nya. Mengingatkan gue sama tokoh Spiderman yang mendadak jadi punya kekuatan super, seperti ini juga dengan Lucy. Mendadak dalam tahanan ia bisa memproses situasinya dan membalikkan keadaan. Apa iya dengan menggunakan lebih dari 10% otak lantas otomatis bisa ilmu bela diri? Atau ilmu bela diri itu karena gerakan refleks terhadap bahaya yang mengancam? Gak jelas....



Dari tempat penyekapan, Lucy menuju rumah sakit dan dengan dingin meminta pada dokter untuk mengeluarkan satu kantong CPH4 yang masih ketinggalan ditubuhnya. Ia menghubungi ibunya dan berpamitan, karena dengan kemampuan mendadaknya itu Lucy bisa memperkirakan kalau hidupnya tidak lama lagi. Sementara itu penonton juga disuguhi tentang kuliah professor Norman (Morgan Freeman) tentang manusia hanya menggunakan 10% otaknya. Sekedar informasi pembahasan bisa dibaca disini. Lalu sebentar-sebentar layar akan memperlihatkan peningkatan penggunaan otak oleh Lucy.

Lucy kembali ke tempat penyekapan dengan ala gangster, mencari tahu kemana CPH4 lainnya dibawa. Ia juga menghubungi professor Norman. Buat apa? Ya membicarakan mengenai kondisinya karena cuman professor ini yang membuat tesis mengenai penggunaan otak. Daaaan...karena salah satu obat-obat tersebut dibawa ke Paris. Lucy juga meminta bantuan polisi di Paris untuk mengambil CPH4 tersebut dan....ya nonton sendiri deh karena sepertinya sebentar lagi bisa jadi spoiler ini.

Ide ceritanya sih keren, tapi membuat orang jadi bertanya-tanya. Apalagi kalau baca review disini yang sadis bener. http://www.theatlantic.com/entertainment/archive/2014/07/life-is-futile-so-heres-what-to-do-with-it-according-to-lucy-a-spoilereview/375006/2/

Kalau memang CPH4 itu sebegitu hebatnya, ngapain cuman jadi obat terlarang? Orang yang menguasai obat ini bisa lebih dari sekedar diedarin untuk pecandu. Diceritakan juga dengan semakin maksimalnya penggunaan otak, Lucy menjadi seperti robot. Tapi ia masih bisa menangis ketika menghubungi ibunya dan mengucapkan selamat tinggal (sambil dioperasi loh, mengeluarkan kantong CPH4 yang masih ada ditubuhnya). Ia bisa juga panik ketika melihat tubuhnya perlahan-lahan seperti buyar...pertanda kalau ia tidak segera mengonsumsi CPH4 lagi, ia akan mati. Dan dengan kekuatan supernya, kok nanggung amat ketika menghadapi para gangster yang juga berusaha merebut sisa obat tersebut.

Gue mungkin berharap film ini bener-bener action tapi setiap kali suasana seru sedang tinggi, mendadak adem lagi ketika kuliah professor Norman. Belum lagi hal-hal kecil yang rada mengganggu seperti adegan tembak-tembakan antara polisi dan gangster... Polisinya datang berbondong-bondong masuk kedalam gedung sementara gangsternya asyik bersiap-siap di halaman parkir. Terus sepertinya ada yang aneh dengan polisi yang tertembak, karena gue yakin dia memegang leher sebelah kanan. Namun di scene berikutnya yang berdarah adalah sebelah kiri. Tapi mungkin gue salah lihat. Dan salah fokus. Karena inti film ini adalah tentang penggunaan kapasitas otak. Mungkin manusia super seperti yang ada di komik-komik Marvel itu adalah mereka yang menggunakan lebih dari 10% otaknya? Tidak hanya jadi sekedar pintar dan bisa menyerap ilmu dalam waktu singkat tapi juga menjadi tidak punya perasaan? Termasuk tidak merasakan sakit?

Gue gagal paham.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…