Friday, August 29, 2014

[REVIEW] LUCY


Ide cerita film ini sebenarnya keren. Tentang mitos bahwa manusia hanya menggunakan 10% otak mereka.

Cerita dimulai dari tokoh Lucy (Scarlet Johansson) yang dijebak pacar seminggunya untuk mengantarkan koper ke Tn. Jang (Choi Min-sik). Pacarnya ditembak di depan mata, Lucy masih dipaksa menjadi kurir obat terlarang (namanya CPH4) - yang ternyata itulah isi dalam koper tersebut. Dalam perjalanan terjadi sesuatu dan salah satu kantong obat tersebut bocor dan bereaksi dengan sistem DNA-nya. Mengingatkan gue sama tokoh Spiderman yang mendadak jadi punya kekuatan super, seperti ini juga dengan Lucy. Mendadak dalam tahanan ia bisa memproses situasinya dan membalikkan keadaan. Apa iya dengan menggunakan lebih dari 10% otak lantas otomatis bisa ilmu bela diri? Atau ilmu bela diri itu karena gerakan refleks terhadap bahaya yang mengancam? Gak jelas....



Dari tempat penyekapan, Lucy menuju rumah sakit dan dengan dingin meminta pada dokter untuk mengeluarkan satu kantong CPH4 yang masih ketinggalan ditubuhnya. Ia menghubungi ibunya dan berpamitan, karena dengan kemampuan mendadaknya itu Lucy bisa memperkirakan kalau hidupnya tidak lama lagi. Sementara itu penonton juga disuguhi tentang kuliah professor Norman (Morgan Freeman) tentang manusia hanya menggunakan 10% otaknya. Sekedar informasi pembahasan bisa dibaca disini. Lalu sebentar-sebentar layar akan memperlihatkan peningkatan penggunaan otak oleh Lucy.

Lucy kembali ke tempat penyekapan dengan ala gangster, mencari tahu kemana CPH4 lainnya dibawa. Ia juga menghubungi professor Norman. Buat apa? Ya membicarakan mengenai kondisinya karena cuman professor ini yang membuat tesis mengenai penggunaan otak. Daaaan...karena salah satu obat-obat tersebut dibawa ke Paris. Lucy juga meminta bantuan polisi di Paris untuk mengambil CPH4 tersebut dan....ya nonton sendiri deh karena sepertinya sebentar lagi bisa jadi spoiler ini.

Ide ceritanya sih keren, tapi membuat orang jadi bertanya-tanya. Apalagi kalau baca review disini yang sadis bener. http://www.theatlantic.com/entertainment/archive/2014/07/life-is-futile-so-heres-what-to-do-with-it-according-to-lucy-a-spoilereview/375006/2/

Kalau memang CPH4 itu sebegitu hebatnya, ngapain cuman jadi obat terlarang? Orang yang menguasai obat ini bisa lebih dari sekedar diedarin untuk pecandu. Diceritakan juga dengan semakin maksimalnya penggunaan otak, Lucy menjadi seperti robot. Tapi ia masih bisa menangis ketika menghubungi ibunya dan mengucapkan selamat tinggal (sambil dioperasi loh, mengeluarkan kantong CPH4 yang masih ada ditubuhnya). Ia bisa juga panik ketika melihat tubuhnya perlahan-lahan seperti buyar...pertanda kalau ia tidak segera mengonsumsi CPH4 lagi, ia akan mati. Dan dengan kekuatan supernya, kok nanggung amat ketika menghadapi para gangster yang juga berusaha merebut sisa obat tersebut.

Gue mungkin berharap film ini bener-bener action tapi setiap kali suasana seru sedang tinggi, mendadak adem lagi ketika kuliah professor Norman. Belum lagi hal-hal kecil yang rada mengganggu seperti adegan tembak-tembakan antara polisi dan gangster... Polisinya datang berbondong-bondong masuk kedalam gedung sementara gangsternya asyik bersiap-siap di halaman parkir. Terus sepertinya ada yang aneh dengan polisi yang tertembak, karena gue yakin dia memegang leher sebelah kanan. Namun di scene berikutnya yang berdarah adalah sebelah kiri. Tapi mungkin gue salah lihat. Dan salah fokus. Karena inti film ini adalah tentang penggunaan kapasitas otak. Mungkin manusia super seperti yang ada di komik-komik Marvel itu adalah mereka yang menggunakan lebih dari 10% otaknya? Tidak hanya jadi sekedar pintar dan bisa menyerap ilmu dalam waktu singkat tapi juga menjadi tidak punya perasaan? Termasuk tidak merasakan sakit?

Gue gagal paham.

Wednesday, August 27, 2014

[RabView] Daisuki Da Yo, Fani Chan: Cinta Akan Indah Pada Waktunya, Winda Krisnadefa

Daisuki Da Yo, Fani-chan: Cinta Akan Indah Pada Waktunya
Penulis: Winda Krisnadefa
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Desainer sampul: Windu Tampan
Penerbit: Qanita, Mizan
ISBN: 978-602-1637-36-4
Cetakan I, Juni 2014
300 halaman

Selamat pagi, siang dan malam Fictionholic! Kali ini KF akan membuat ulasan novel salah satu penulis KF sendiri, yaitu Winda Krisnadefa. 

Novel ketiga Winda Krisnadefa ini sebetulnya adalah novel yang pertama kali ditulisnya. Tetapi justru menjadi novel kedua yang berhasil diterbitkan melalui penerbit mayor, sedangkan novel ketiganya menjadi novel pertama yang diterbitkan melalui penerbit mayor. Rupanya memang sudah nasib novel pertama untuk terbit paling akhir sementara novel kedua dan ketiga malah sudah terbit lebih dahulu.

Saat pertama novel ini ditulis sebagai sebuah cerita bersambung di Kompasiana, Winda memberinya judul Catatan Si Onis, karena itu, di benak saya dan mungkin juga teman-teman lain yang sudah mengikuti cerita bersambung (yang menjadi sangat populer di Kompasiana waktu itu) ini, judul tersebut dan nama Onis sudah terpatri duluan di kepala.

Kalau dalam novel resmi besutan Qanita ini alur ceritanya adalah selang-seling antara kejadian di masa kini dan masa lalu, maka pada cerbungnya, Winda lebih dahulu menulis tentang pekerjaan Fani sebagai resepsionis dan percintaan dengan Tanabe, lalu pada sambungannya bercerita tentang masa lalu Fani, Lana dan Ogi.

Kisah tentang perjalanan kehidupan Fani, seorang perempuan muda berusia pertengahan dua puluhan ini dibuka melalui sebuah prolog yang nampaknya sederhana namun menghadirkan atau menyisakan sebuah pertanyaan. Pembuka cerita mengisahkan Fani memperoleh pekerjaan sebagai resepsionis di sebuah perusahaan Jepang dan dia merasa senang serta bersyukur karena berhasil memperoleh pekerjaan tersebut. Walaupun dia memiliki ijazah S1 lulusan sebuah sekolah perhotelan dan sebetulnya lebih cocok bekerja di hotel ketimbang 'cuma' menjadi resepsionis, tetapi Fani enggan untuk bekerja di hotel. Kenapa? Pertanyaan ini akan terjawab dengan jelas di bab-bab pertengahan novel ini.

Secara halus tetapi terus-menerus dipertahankan di dalam cerita, pertanyaan kenapa Fani enggan bekerja di hotel ini dimunculkan dan menjadi sebuah jembatan untuk menghubungkan antara kisah masa lalu Fani, saat ia sedang job training di sebuah hotel terkenal di Singapura bersama sahabatnya Lana, dan Ogi yang kemudian menjadi kekasihnya, dengan kisah masa kini, kehidupannya sehari-hari di sebuah kantor mentereng di kawasan Thamrin, Jakarta, sebagai seorang resepsionis.

Kalau saat ia menjalani job training di Singapura ada orang antik seperti Miss, maka di kantornya di Jakarta juga ada orang antik lainnya yaitu Dian, sang asisten dari manajer HRD, Tanabe-san, yang selalu mencari gara-gara dengan Fani karena sudah mengalami korslet di awal pertemuan mereka. Kalau sahabat terbaik Fani saat di Singapura, Lana, adalah seorang yang normal, manis dan ceria, maka, rekan terdekat Fani saat ini, Onis, adalah manusia yang super menarik karena tingkahnya yang tidak biasa. Onis adalah skandal berjalan, dan menikmati apa yang dilakukannya sampai dia kena batunya.

Ada sahabat, ada pula laki-laki yang mengisi hati Fani. Ogi adalah laki-laki yang berhasil mengisi hati Fani di masa lalu, sedangkan Tanabe adalah laki-laki asing yang mulai mengisi hati Fani di masa sekarang. Yang menjadi masalah bagi Fani adalah, sebuah peristiwa yang sangat traumatis di masa lalu membuatnya sulit untuk menerima baik persahabatan maupun percintaan.

Fani masih membawa beban masa lalu dan rasa bersalahnya. Dia tidak punya kesempatan untuk menolong Lana di masa lalu dan tidak akan pernah bisa melakukan apa-apa lagi tentang hal itu, dan secara sepihak, Fani juga menyalahkan Ogi, padahal mereka berdua tidak dapat berbuat apa-apa. Kejadian buruk yang menimpa Lana bukan salah Fani maupun Ogi, tetapi dalam duka yang mendalam Fani memutuskan bahwa dia ikut bersalah. Hal inilah yang nampaknya membuatnya berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Onis dan menjaga nama baik Onis saat rekannya itu membutuhkannya.

Bagi saya secara pribadi, cerita tentang persahabatan yang manis, kocak, dan juga mengharukan antara Fani dan Onis adalah kisah utama dalam novel ini, sedangkan kisah percintaannya sendiri adalah bumbunya saja. Kelucuan-kelucuan dari tingkah polah Onis yang dicatat oleh Fani dan memberikan warna-warni di jam-jam kerja mereka, sepertinya sangat menarik kalau dibuat sitkom. Dalam bayangan saya Onis mirip seperti Fran, si The Nanny, yang make-upnya tebal, suka memakai baju ketat dan rok super mini, suaranya kenceng dan punya tawa yang khas itu.

Apa yang bisa kita pelajari dari novel ini? Novel ini tanpa menggurui mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga dan kemudian memilih untuk move on. Fani, si tokoh utama, harus belajar untuk melepaskan masa lalu untuk masa lalu, dan meraih masa depan karena hidup bergerak maju dan dia tidak boleh dipenjarakan oleh sebuah kejadian, setragis apapun kejadian tersebut. Onis, di lain pihak akan belajar bahwa ada konsekuensi dari setiap perbuatannya dan dia harus menanggung konsekuensi tersebut. Novel ini juga mengajarkan tentang rasa setia kawan, persahabatan yang manis antara dua kepribadian yang sangat berbeda dan memilih jalan yang sangat berbeda pula dalam kehidupan mereka. Novel ini juga mengajarkan bahwa, cinta akan datang pada saat yang tepat dengan orang yang tepat, dan dengan sedikit saja keyakinan yang masih tersisa, segala sesuatu akan menjadi indah, pada waktuNya. 

Akhir kata, selamat untuk Winda Krisnadefa, akhirnya Catatan si Onis yang dulu dibuat sekedar untuk memuaskan hasrat menulis cerita, kini sudah ada dan bisa dibeli di toko-toko buku seluruh Indonesia!

Sunday, August 3, 2014

[Book Review] Menanti Sebuah Jawaban

Halo, Fictionholics!
Setelah libur beberapa lama, semoga semangat Fictionholics semua kembali dengan sempurna, ya! Kali ini Kampung Fiksi akan memberikan review salah satu novel terbaru yang diterbitkan oleh Loveable, Menanti Sebuah Jawaban.

Review ini ditulis oleh sahabat Kampung Fiksi yang terpilih sebagai reviewer tamu di KF. Selamat menikmati, Luckty Giyan Sukarno. ^_^




“Yang berarti untukku bukanlah sebuah cincin perak, yang berarti adalah sahabatku dan seseorang yang akan selalu kucintai.” (hlm. 116)


Saat Clara hendak memasukkan uang ke mesin penjual minuman kaleng, tiba-tiba ada seseorang lelaki di dibelakangnya yang juga hendak memasukkan uang ke dalam mesin itu. Lelaki itu bernama Bima. Mereka berdua saling melihat dan mereka berdua pun terkejut. Begitulah awal perkenalan mereka.
Klontang..klontang.., sekaleng minuman dingin keluar dari mesin. Sesaat setelah minuman dingin itu keluar, ternyata itu adalah minuman terakhir yang ada pada mesin itu. Kaleng minuman habis. Mereka berdua pun saling menatap kembali.

Mereka berdua pun terdiam dan duduk di bangku stadion olahraga. Clara lalu menaruh minuman kaleng itu di sampingnya. Akhirnya, antara Clara dan Bima tak ada yang mengulurkan tangan untuk mengambil minuman tersebut.
Datangnya cinta memang tidak bisa ditebak. Begitulah yang dialami Clara dan Bima. Pertemuan yang tak sengaja itu akhirnya berlanjut ke tingkat yang lebih serius; pacaran. Yah...namanya pacaran ala ababil, pasti banyak dramanya. Begitu juga kisah Clara dan Bima ini, tak selalu mulus bak jalan tol.

Hanya karena suatu permasalahan sepele, berimbas tidak hanya pada kehidupan mereka, tapi juga kehidupan orang-orang di sekitar mereka. Ada pesan moral di sini, apa pun yang kita lakukan pasti akan selalu diawasi oleh orang-orang sekitar kita, malah terkadang menjadi sebuah kesalahpahaman. Dan yang paling berat harus menerima keadaan ini adalah Clara, bahkan dia harus pindah sekolah.

Selain itu, kita juga bisa melihat pengorbanan Clara demi mempertahankan sebuah persahabatan. Yup, pacar masih bisa dicari, tapi sahabat susah dicari. Oya, Vivi sahabat Clara ini representasi ababil masa kini yang rentan terhadap patah hati. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit merengek, dikit-dikit manja, dikit-dikit pingsan, dan baru patah hati aja berasa dunia kiamat sampai menusuk urat nadinya sendiri. Begitulah, terkadang cinta bikin manusia buta akan segalanya.

“Wah..cincin manis pembuka kaleng.”
“Maaf ya, hadiahku hilang. Jadi yang bisa aku kasih ke kamu cuma ini.”
“Aku memang ingin menerima cincin dari cowok.”
“Iya, aku tahu. Makanya aku ingin menyenangkanmu. Biarpun hanya dengan pembuka minuman kaleng. Suatu saat nanti aku kuberikan cincin perak yang asli dan mengenakannya di jari manismu.” (hlm. 17-18)

Itu adalah salah satu cerita dalam buku ini yang berjudul Sahabat & Cinta. Masih ada cerita lainnya yang berjudul Aku, Sahabatku & Evi dan Cinta, Es Krim & Piano.

PR buat penerbitnya nih, terutama dalam hal editing naskah. Hambok ya typo-nya diminimalisir biar nyaman yang baca bukunya :D

Keterangan Buku:
Judul                                     : Menanti Sebuah Jawaban
Penulis                                 : Andrean Frank (creator @galaubijak)
Penyelaras akhir               : Stanley Meulen
Penyelaras akhir               : Andri Agus Fabianto 
Penata letak                       : Dwi
Pendesain sampul           : Kicky Maryana
Penerbit                              : Loveable
Terbit                                    : 2014
Tebal                                     : 242 hlm.
ISBN                                      : 978-602-7689-91-6


Direview oleh: Luckty Giyan Sukarno