Skip to main content

Manajemen Ide: Apa Pentingnya dan Bagaimana Cara Melakukannya?

Kita semua tahu dong pemeo yang berbunyi: tulis! tulis! tulis! Atau hardikan jleb yang bikin muka merah, "Writers write!" Nggak usah dibegitukan juga, yang merasa ingin jadi penulis pastilah orang-orang yang dari sono-nya hobi menulis, dan membaca. Jadi, tidak perlu disindir atau dibentak-bentak juga sudah sangat suka menulis. Masalahnya, apa yang mau ditulis kalau lagi (merasa) kena writer's block, (merasa) sedang terengah-engah karena mengalami kekeringan ide akut? Nahitu, problem kan?

Makanya di Kampung Fiksi, sudah diadakan kegiatan pagi, lima hari dalam seminggu: "Sebelum Sarapan Ngeprompt Dulu!" Ini salah satu kegiatan yang dapat membantumu latihan menulis supaya ide-idemu muncul tanpa malu-malu. Anggaplah kegiatan rutin pagi ini mirip-mirip dengan pemanasan olah ragamu setiap pagi, sisihkan setengah jam saja untuk melakukan pemanasan. Buat mereka yang justru lebih lentur kreativitasnya pada malam hari, bisa melakukan "Sebelum Tidur, Ngeprompt Dulu!" Atau, buat mereka yang justru punya waktu luang di siang hari, gunakan "Siang-siang Ngeprompt Dulu!" Tuh, kan, semuanya tergantung sama diri sendiri, kapan mau meluangkan waktu.

Tapi, tetap saja, kita masih saja bertanya-tanya, dari mana sebetulnya datangnya ide, dan bagaimana caranya supaya nggak pernah kehabisan ide, meskipun di hari Sabtu-Minggu tidak ada prompt yang muncul di Kampung Fiksi, misalnya.

Pertama, jangan berharap idemu adalah ide paling orisinil sedunia. Ada amsal yang berbunyi, tidak ada lagi hal baru terjadi di bawah matahari. Segala sesuatu adalah akumulasi dari apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Jadi, berhenti merasa takut idemu akan dicuri orang, atau lebih parah lagi kalau kamu berhenti menulis sama sekali gara-gara mencari ide yang sama sekali baru dan belum pernah ada yang memikirkannya. Yakinlah, apa yang ada di dalam pikiranmu, ada dan sudah pernah juga ditulis oleh orang lain. Hanya, cara pandangnya pasti berbeda, dan di situlah keunikannya.

Kedua, keunikan itulah yang terpenting, ke-kamu banget-an tulisanmu yang menjadikan tulisanmu autentik. Suaramu, personamu, tertuang di dalam karanganmu. Kita dapat membaca sebuah cerpen dan biasanya langsung tahu, oh, ini khas banget tulisan si anu, karena itu tadi, keautentikan yang ada di dalam tulisannya. Hal itu semacam sidik jari tulisan, masing-masing penulis memilikinya. Jadi, jangan kuatir soal ide yang sama, yang penting seberapa cerdik kamu mengolahnya hingga ide itu menjadi ceritera yang 'kamu banget' tetapi dapat dinikmati oleh orang banyak selain dirimu. (Kalau cuma kamu yang menikmatinya, lebih masuk akal untuk ditulis di diary saja kan? Tapi, ini berpulang kepada apa MOTIVASI menulismu, bakal kita bahas di topik yang lain. Stay tune, ya.)

Ketiga, ide ada dimana-mana. Ide itu semacam udara, dia bebas dihirup oleh siapapun juga, nggak pakai bayar. Itu sebabnya, di Silicon Valley, tempat orang-orang paling kreatif abad ini, ada pameo yang berbunyi: "Ide itu murah" sebab eksekusilah yang membuat hasil akhirnya menjadi mahal. Jadi, mari kita sepakat saja dulu sama mereka, setuju? Sekarang darimana sih datangnya si ide?

Perasaan dari tadi itu, deh, yang menjadi pertanyaan kita.

Jawabannya tentu mudah, ide datangnya ya dari mana-mana. Iya, sekali lagi, ide datangnya dari mana-mana. Yang penting adalah, apakah kita berhasil menangkapnya atau tidak. Apakah kita pada saat itu menyadarinya atau tidak. Apakah kita menyimpan dan mengingatnya sehingga bisa dipakai kemudian, atau tidak.

Ide, sama seperti uang gaji, harus ditabung. Tabungan penting, gaes, untuk menjaminmu pada saat-saat 'kekeringan' atau lebih bagus lagi, untuk menjaminmu tidak pernah kekeringan. Bener atau bener? Jadi, bukan darimana datangnya ide yang seharusnya menjadi masalah bagi kita (sebab ide-ide itu benar-benar melimpah ruah, tinggal dipetik saja), melainkan, bagaimana melakukan manajemen ide.

Mengapa kita perlu melakukan manajemen ide? Sebab, tidak semua ide bisa langsung dijadikan tulisan. Banyak ide-ide yang masih mentah, atau memang mentok. Banyak ide-ide yang bagus untuk penulis lain, tapi ternyata tak cocok untukmu. Itu sebabnya mengumpulkan lalu memilah-milahnya kemudian menabung ide-ide yang terasa cocok untukmu adalah hal yang perlu untuk kamu pahami.

Sekarang, bagaimana caranya agar tabungan idemu selalu penuh? Gampang banget: bawa 'buku' catatan kemana-mana. Catat ide-ide saat kamu mendapatkannya. Kalau jaman dulu, sebelum ada gadget (hape, tablet, laptop), kamu harus rajin membawa-bawa buku kertas, sekarang, malah lebih mudah. Kamu bisa mencatatnya di dalam gadgetmu, bahkan kamu bisa merekam gambar bila ide itu dapat ditangkap secara visual, kamu bisa membuat catatan-catatan ide di status-status media sosialmu. Banyak jalan menuju Roma, teman, bahkan kadang-kadang kebanyakan pilihan membuatmu jadi pusing sendiri. Itu sebabnya, pilih satu cara yang paling sesuai untukmu, lalu lakukan dengan tekun, niscaya, kamu tak akan pernah kehabisan ide yang sesuai untukmu.

Berikut beberapa cara manajemen ide yang bisa kamu lakukan:

1. Bikin tabungan ide. Kamu betul-betul menyediakan celengan untuk memasukkan potongan-potongan ide ke dalamnya. Entah berupa potongan berita, karcis film, gambar, dan sebagainya. Semuanya ada di satu tempat khusus yang siap untuk kamu gunakan sewaktu-waktu.

2. Menulis diary. Yes! Diary atau jurnal adalah sumber ide besar. Kamu bisa menulis apa saja di sana, kemudian kembali untuk membacanya dan mengolahnya menjadi tulisan masterpiece-mu. Dari diary jadi kumcer atau novel bestseller, aih siapa yang nolak? (Mimpi nggak boleh nanggung bo'!)

3. Manfaat notes atau rekaman suara yang ada di dalam gadgetmu (hape/tablet), catat atau rekam apapun juga ide yang melintas. Malah lebih mudah, sebab kamu pasti salah satu dari manusia masa kini dimana hape atau tablet sudah jadi tangan ketigamu, dan otak keduamu. Iya kan?

4. Sebagai fictionholics, saya sangat yakin rumah keduamu adalah di internet, jadi kenapa nggak dimanfaatkan saja status-statusmu sebagai tempat penyimpanan ide? Kenapa enggak dibuat saja blogmu sebagai gudang ide? Umm... dari blog menjadi buku, sounds delicioso kan?

Itu hanya sedikit dari sekian cara yang bisa kamu lakukan untuk mengelola ide-ide yang berjatuhan dari langit tetapi cepat hilang kalau kita tidak tanggap menangkap dan menyimpannya. Jadi, tunggu apa lagi? Pilih cara yang paling sesuai untukmu, dan kembangkan tabunganmu, sehingga kamu selalu kaya ide. Mau kan?

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…