Saturday, April 30, 2016

Belajar Mempergunakan Point of View Sebagai Alat Penting Untuk Mengarahkan Plot Novel ala Agatha Christie, The ABC Murders

Pembunuhan ABC,  karangan Agatha Christie ini, sudah pernah saya baca, dulu sekali, entah berapa tahun yang lalu. Sepertinya waktu jaman SMP atau SMA, dan itu sudah sangat lama, sekitar 30 tahunan yang lalu. Tidak heran pada saat saya membaca ulang novel ini sekarang, saya sama sekali lupa siapa pembunuhnya, meskipun samar-samar saya tahu bahwa cerita ini tentang pembunuhan berantai.

MEMBAHAS POINT OF VIEW

Sebelum masuk ke dalam pembahasan tentang isi ceritanya, saya mau membahas sedikit tentang sudut pandang yang dipergunakan dengan sangat cerdik oleh Agatha Christie sebagai alat untuk mempertajam misteri dalam ceritanya. Penulis please take notes kalau sedang membaca novel semacam ini sebab banyak banget trick penulisan yang sebetulnya bisa dicuri dari sang ratu cerita detektif dan misteri ini.

Novel ini adalah salah satu novel penyelidikan yang dilakukan oleh Hercule Poirot, pria Belgia kecil, botak dan berkumis tebal. Poirot memiliki sel-sel abu-abu yang sangat cerdas di otaknya sehingga ia dapat menghubungkan titik-titik yang tidak kasat mata saat memecahkan sebuah misteri kejadian.

Karena Agatha Christie tidak ingin pembaca dapat langsung memahami cara pikir Poirot dan dapat menebak dengan lebih mudah misteri pembunuhan yang terjadi, maka dalam The ABC Murders ini, ada dua sudut pandang yang dipergunakan oleh penulis, yaitu sudut pandang orang pertama obyektif dan sudut pandang orang ketiga terbatas.

Sudut pandang orang pertama dilakukan melalui penuturan Kapten Hastings, sahabat baik Poirot yang acap mendampingi Poirot ketika memecahkan misteri-misteri kejahatan.

Apa peran POV1 Kapten Hastings? Ia bertugas untuk melaporkan kepada kita, para pembaca, apa saja yang terjadi dan dilihatnya secara langsung. Kapten Hastings tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Hercule Poirot. Ia hanya bisa menebak apa yang mungkin saja dipikirkan oleh Poirot atau oleh tokoh-tokoh yang lain, apabila mereka tidak mengucapkan atau memberitahu kepadanya secara langsung. Dengan demikian, Kapten Hastings dapat menjadi pengamat yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator), sebab bisa saja penulis memang secara sengaja memilihnya untuk mengatakan dan melihat hal-hal yang dapat menyesatkan kita, para pembaca.

Sudut pandang yang kedua adalah: Sudut pandang orang ketiga (POV 3).

Apa peran POV 3 ini?  Agatha Christie mempergunakannya untuk menceritakan kepada kita kejadian-kejadian di belakang layar yang tidak dapat diceritakan oleh Kapten Hastings karena kejadiannya terjadi tanpa diketahui baik oleh Hercule Poirot maupun Kapten Hastings sendiri. Melalui sudut pandang orang ketiga ini, Agatha Christie, sekaligus mengajak kita bertemu langsung dengan pria yang memiliki kaitan erat dengan peristiwa pembunuhan yang sedang terjadi. Pria ini nampaknya bersalah, tapi benarkah ia memang bersalah?

Kedua sudut pandang yang dipilihkan Agatha Christie untuk kita ini, membuat kita merasa atau menduga bahwa kita lebih banyak tahu dibandingkan dengan Kapten Hastings maupun Hercule Poirot. Tetapi, kita hanya mengetahui kejadian-kejadian tanpa mengetahui dengan jelas hubungan-hubungan antara kejadian-kejadian yang satu dengan yang lain dan kita dibiarkan terus bertanya-tanya: Siapa kira-kira pelakunya dan benarkah dia yang melakukannya?

Pelajaran apa yang saya peroleh?

Melalui pemilihan sudut pandang dalam novel The A.B.C Murders ini, Agatha Christie mengajarkan kepada saya bahwa sudut pandang merupakan salah satu alat yang harus dikuasai dengan baik oleh seorang pengarang agar ia dapat mempergunakannya di dalam cerita untuk menyampaikan cerita dengan cara tertentu dan tujuan tertentu.

Dengan membiarkan Hastings yang bercerita, Agatha Christie telah secara baik hati mengikut-sertakan saya menyaksikan apa yang terjadi di dalam kelompok kecil Poirot yang sedang berusaha untuk menyelesaikan misteri pembunuhan-pembunuhan yang sedang terjadi. Tetapi, karena kunci pemecahan misteri ada pada Poirot seorang, bukan pada tokoh-tokoh yang lain, maka, hasil pengamatan Hastings tidak memberikan kepada saya akses yang cukup banyak untuk memahami apa yang dipikirkan Poirot.

Melalui sudut pandang orang ketiga, Agatha Christie memperluas pandangan saya, sehingga tidak hanya saya menyaksikan adu pendapat di pertemuan-pertemuan para polisi, saya juga dibawa mengikuti potongan-potongan kejadian dalam kehidupan Mr. A.B. Cust yang mencurigakan. Dengan demikian, walaupun pada titik tertentu, ingatan saya tentang siapa pembunuhnya sudah kembali, saya tetap masih tertarik untuk mengetahui kenapa dia melakukan pembunuhan dan bagaimana proses berpikir Poirot sehingga ia dapat tiba pada kesimpulan yang tepat. Selain itu, sangat menarik menyaksikan bagaimana Poirot membuka kedok masing-masing tokoh yang terlibat di dalamnya.

Ringkasan ceritanya sendiri adalah seperti ini:

Hercule Poirot menerima surat kaleng yang menantangnya untuk memecahkan misteri-misteri pembunuhan yang akan dilakukan oleh seseorang yang mengaku sebagai A.B.C.

Korban pertamanya adalah seorang perempuan tua, pemilik kedai kecil yang berjualan rokok dan koran/majalah. Perempuan tua ini dipukul kepalanya hingga pecah dan mati. Ia bernama Nyonya A.A. dan tinggal di Kota A. Sebuah peta A.B.C. ditinggalkan di tempat terjadinya kejahatan. Nyonya A.A. mempunyai seorang mantan suami yang pemabuk dan kalau saja tidak ada surat kaleng dari A.B.C. kepada Hercule Poirot, pastilah suami wanita itu yang akan menjadi tersangka utamanya.

Korban kedua adalah seorang gadis muda, yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di Kota B. Gadis muda ini bernama BB. Ia mati dicekik dengan ikat pinggangnya sendiri. Sebuah peta A.B.C. ditinggalkan pada tempat terjadinya kejahatan.

Korban yang ketiga adalah seorang bangsawan di Kota C, bangsawan itu bernama Lord C.C. ia mati dengan kepala remuk saat sedang melakukan rutinitas jalan kakinya. Pada tempat terjadinya kejahatan, sebuah peta bermerek A.B.C. ditemukan kembali sebagai bukti bahwa ini adalah kejahatan yang secara sengaja dilakukan oleh A.B.C. untuk mengolok-olok Poirot.

Setelah pembunuhan ketiga ini, terbentuk kelompok kecil yang terdiri dari para keluarga dan ahli waris dari korban-korban pembunuhan yang ingin ikut berpartisipasi dalam memecahkan misteri pembunuhan itu. Lalu Hercule Poirot mendapat satu lagi surat kaleng dan pembunuhan terjadi di Kota D, tetapi kali ini yang terbunuh tidak memiliki inisial yang tepat seperti pembunuhan-pembunuhan sebelumnya. Apakah si pembunuh A.B.C. salah membunuh orang kali ini? Siapa sebetulnya pembunuh A.B.C. dan apa motivasi di balik pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya?

***

Memang jauh lebih seru kalau membaca novel itu sendiri dari awal hingga akhir dan mendapatkan kenikmatan menebak-nebak pembunuhnya yang khusus untuk The ABC Murders, menurut saya, tidak terlalu sulit menebak siapa pembunuhnya (mungkin juga karena saya sudah pernah membaca novel ini sebelumnya, sehingga sel-sel abu-abu otak saya masih merekam jejaknya), walaupun agak sulit bagi saya untuk menemukan jalan bagaimana Poirot dapat menjebaknya supaya mengaku.

Resolusinya Agatha Christie, saya ibaratkan seperti seekor kucing, yang setelah puas bermain-main (dengan kita sebagai pembacanya, menyesatkan kita ke sana ke sini tanpa kehilangan kegembiraan perburuan) lalu memutuskan sudah saatnya menyudutkan tikus buruannya, dan mengarahkan (kita) dan buruannya hingga ke pojokan sehingga tak bisa lagi lari kemana-mana. Itulah gambaran mental yang saya alami mendekati saat-saat akhir Poirot mulai memojokkan sang pembunuh dan ia berbalik menjadi korban kecerdikan Hercule Poirot (dan Agatha Christie).

Sudah pernah membaca novel ini juga? Silakan tulis pendapatmu di kolom komentar.

Friday, April 29, 2016

Membaca dan Mereview Dongeng: The Blue Light

The Blue Light atau yang saya terjemahkan sebagai Lentera Api Biru (kalau ada istilah lain yang lebih tepat, tolong diinformasikan) adalah salah satu dari cerita rakyat Jerman yang dikoleksi oleh Grimm bersaudara. Kita akan melihat beberapa kesamaannya dengan cerita yang populer sekali di seluruh dunia. Silakan ditebak setelah membaca dongeng ini. Dongeng ini tidak terikat copyright dan dapat disebarkan secara bebas, bahkan untuk tujuan komersial sekalipun. Saya terjemahkan dari terjemahan bahasa Inggris oleh John Irons yang bisa dibaca di sini.

Berikut, silakan menikmati terjemahan ala miss G di bawah ini, discroll untuk membaca selengkapnya, ya. Dan jika ada terjemahan yang dirasa kurang pas, silakan diinformasikan pada kolom komentar.

THE BLUE LIGHT (Lentera Api Biru)

Ada seorang prajurit yang selama bertahun-tahun dengan setia melayani rajanya. Tetapi ketika perang berakhir, dan prajurit itu tak dapat lagi melanjutkan pengabdiannya karena luka-luka yang dideritanya, raja berkata kepadanya 'Kamu boleh pulang, aku tidak lagi memerlukanmu. Kamu tidak lagi menerima upah, karena upah hanya dibayarkan untuk mereka yang masih melayaniku.' Mendengar hal ini si prajurit tak tahu bagaimana dia akan hidup nantinya. Dia pergi dengan perasaan sangat sedih dan melangkah tak tentu arah hingga menjelang malam dan ia tiba di sebuah hutan. Ketika hari menjadi semakin gelap, ia melihat cahaya lalu mendekatinya dan tiba di sebuah rumah tempat tinggal seorang penyihir. 'Tolong berikan aku tempat menginap untuk malam ini dan sedikit makanan dan minuman,' katanya kepada penyihir, 'karena kalau tidak, aku pasti mati.' 'Oho!' jawab penyihir, 'siapa yang mau memberikan apapun untuk prajurit yang mangkir dari tugasnya? Tapi, aku akan berbaik hati dan menerimamu, dengan syarat kamu melakukan apa yang aku tugaskan.' 'Apa yang akan kamu tugaskan kepadaku?' tanya si prajurit. 'Tugasmu adalah menggali kebunku besok pagi.' Prajurit menyanggupi tugas tersebut dan besok paginya dia mulai bekerja, tetapi hingga petang hari tiba dia tidak sanggup menyelesaikan tugas tersebut. 'Aku mengerti,' kata tukang sihir, 'kamu tidak sanggup lagi bekerja untuk hari ini. Aku memperbolehkanmu  tinggal satu malam lagi, tetapi besok pagi kamu harus membelah kayu sebanyak satu gerobak penuh untuk kayu bakar.' Prajurit menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk membelah kayu, dan malam itu penyihir menyarankannya untuk tinggal satu malam lagi. 'Kamu hanya perlu melakukan satu pekerjaan kecil lagi untukku besok pagi, di belakang rumahku ada sumur tua yang sudah kering, lenteraku jatuh ke dalamnya, lentera itu memiliki api berwarna biru dan tidak pernah mati--yang harus kamu lakukan adalah turun dan mengambilkannya untukku.' Keesokan hari, penyihir tua itu membawa prajurit ke sumur dan menurunkannya dalam sebuah keranjang. Prajurit menemukan lentera berapi biru dan memberi tanda agar penyihir menariknya ke atas. Si penyihir mulai menariknya ke atas, tetapi sebelum ia sampai ke tepian sumur, penyihir mengulurkan tangan hendak mengambil lentera itu darinya. 'Tidak,' kata prajurit menyadari niat buruk penyihir, 'aku tidak akan menyerahkan lentera ini sampai kedua kakiku sudah menginjak tanah dengan selamat.' Lalu penyihir itu menjadi murka, dibiarkannya si prajurit jatuh kembali ke dalam sumur dan ditinggalkannya di sana.

Prajurit yang malang itu jatuh--tanpa melukai dirinya--ke lantai sumur yang lembab dan berlumut tebal, dan lentera berapi biru itu masih tetap menyala, tapi apa gunanya? Prajurit sadar ia pasti mati di dalam sumur ini. Dia duduk termenung, hatinya sedih, dimasukkannya tangannya ke dalam saku dan menemukan pipa-nya, masih ada tembakau di dalamnya. 'Ini akan menjadi kenikmatan terakhirku,' pikirnya, dikeluarkannya pipa itu, dinyalakannya dengan api biru dan mulai merokok. Ketika asap rokok mulai memenuhi lorong sumur, tiba-tiba saja muncul gnome hitam berdiri di depannya, sambil bertanya 'Tuan, apa keinginanmu?' 'Memangnya siapa aku sehingga bisa menyuruhmu melakukan keinginanku?' tanya si prajurit dengan takjub. 'Aku harus melakukan apapun,' jawab si gnome, 'yang kamu ingin aku lakukan.' 'Baiklah,' kata si prajurit, 'kamu bisa mulai dengan menolong aku keluar dari sumur ini.' Si gnome memegang tangannya dan menuntunnya melalui sebuah terowongan. Prajurit itu tidak lupa untuk membawa api biru bersamanya. Dalam perjalanan mereka, cahaya api itu menunjukkan kepada prajurit harta karun yang sudah dikumpulkan dan disembunyikan si penyihir di dalam terowongan itu, dan prajurit mengambil sebanyak-banyaknya emas yang dapat dibawanya. Ketika sudah kembali berada di atas tanah, prajurit itu memerintahkan kepada gnome, 'Sekarang, pergi dan ikat penyihir tua itu dan bawa dia ke pengadilan.' Tidak lama kemudian, penyihir itu muncul seperti diseret angin dengan secepat kilat sambil menjerit kencang, dan hanya sebentar kemudian gnome sudah kembali, 'segalanya sudah dilaksanakan seperti yang diperintahkan,' katanya, 'dan si penyihir sudah dihukum gantung sekarang juga. Nah, Tuan, sekarang apa lagi keinginanmu?' tanya si gnome. 'Tidak ada lagi untuk sementara ini,' jawab si prajurit, 'kamu boleh pulang, tapi kalau kupanggil, segeralah datang.' 'Yang harus kamu lakukan,' jawab si gnome, 'adalah menyalakan pipa dengan api biru -- dan aku akan muncul di hadapanmu.' Setelah itu ia menghilang.

Kemudian prajurit kembali ke kota darimana ia berasal. Dia memasuki penginapan paling bagus dan membuat pakaian paling indah untuk dirinya, lalu ia memerintahkan pemilik penginapan untuk menyiapkan kamar yang terbaik bagi dirinya. Ketika semuanya siap, prajurit itu pindah ke sana, lalu ia memanggil si gnome hitam dan berkata, 'Aku sudah melayani raja dengan setia, tetapi ia mengusirku begitu saja dan tega membiarkan aku mati kelaparan, sekarang aku akan membalas perbuatannya.' 'Apa yang harus aku lakukan?' tanya si gnome. 'Larut malam nanti, ketika putri raja sudah tidur, bawa dia ke sini untuk menjadi pelayanku.' Si gnome berkata, 'untukku ini hal yang mudah dilakukan, tapi untukmu ini hal yang berbahaya. Kalau apa yang kamu lakukan ini ketahuan, bisa jadi bencana bagimu.' Ketika jam berdentang pada tengah malam, pintu terbuka lebar, dan gnome masuk sambil membopong putri raja. 'Aha, ini dia!' teriak si prajurit. 'Turun dan bekerja sekarang juga! Ambil sapu dan sapu seluruh ruangan.' Ketika putri raja sudah selesai, prajurit memerintahkannya untuk mendekati tempat dimana ia sedang duduk, diselonjorkannya kakinya ke arah putri raja dan berkata, 'lepaskan sepatu bot-ku,' lalu dilemparkannya sepatu-sepatu itu ke muka putri raja dan dia harus mengambilnya kembali, membersihkannya dan menyemirnya hingga mengkilat. Putri raja melakukan semua itu dengan patuh, tanpa berkata apa-apa dan matanya setengah tertutup. Ketika ayam berkokok, gnome cepat-cepat membawa pulang putri raja ke istana dan meletakkannya kembali di tempat tidurnya.

Pagi hari, ketika putri raja bangun, dia menceritakan kepada ayah dan ibunya bahwa ia mengalami mimpi yang sangat aneh, 'Aku dibawa lari dengan sangat cepat melewati jalan-jalan lalu dan dimasukkan ke kamar seorang prajurit, yang memperlakukan aku seperti seorang pelayan, aku harus menyapu dan menyemir sepatu bot-nya. Semua itu cuma mimpi, tapi aku merasa kelelahan seperti benar-benar sudah melakukan semuanya.' 'Bisa saja mimpi itu memang nyata,' kata raja, 'Aku punya nasehat untukmu, isi saku bajumu dengan biji kacang dan lubangi sakumu; jika kamu diambil lagi, biji-biji kacang akan jatuh dan membuat jejak di jalanan.' Ketika raja mengatakan semua ini, si gnome sedang berdiri tanpa kelihatan di dekatnya dan mendengar apapun yang dikatakannya. Malam itu, saat gnome membopong putri raja yang sedang tidur melewati jalan-jalan kota, beberapa biji kacang memang jatuh di sepanjang jalan, tetapi biji-biji itu tak dapat meninggalkan jejak, sebab si gnome yang cerdik telah lebih dulu menyebarkan biji-biji kacang di seluruh jalan-jalan di kota. Dan putri raja harus dengan patuh kembali bertugas menjadi pelayan prajurit sampai ayam berkokok.

Keesokan hari, raja mengirim orang-orangnya untuk mencari jejak, tetapi usaha itu sia-sia saja, karena di jalan-jalan, anak-anak miskin bermunculan dan memunguti biji-biji kacang--mereka berkata 'semalaman turun hujan kacang.' 'Kita harus memikirkan cara lain,' kata raja, 'tetap pakai sepatumu saat kamu tidur, dan sebelum kamu pergi dari kamar prajurit itu nanti, sembunyikan sebelah sepatumu di sana. Aku pasti akan berhasil menemukannya nanti.' Gnome hitam juga mendengar saran raja tersebut, dan ketika pada malam hari si prajurit memerintahkannya untuk menjemput putri raja lagi, gnome menasehati prajurit untuk tidak melakukannya sebab menurutnya kecerdikan raja kali ini tidak dapat dikalahkannya dan jika sepatu putri berhasil diketemukan di dalam kamar prajurit keadaan akan menjadi sangat buruk untuk si prajurit. 'Lakukan saja apa yang kukatakan,' jawab si prajurit, dan malam itu, sekali lagi, putri raja harus bekerja sebagai pelayan lagi untuk malam yang ketiga; tetapi sebelum dia dikembalikan, dia berhasil menyembunyikan sebelah sepatunya di bawah tempat tidur prajurit.

Keesokan hari, raja menyuruh orang-orangnya mencari sepatu itu di seantero kota: sepatu itu diketemukan di kamar si prajurit demikian pula si prajurit, yang atas desakan si gnome berusaha melarikan diri tetapi dengan segera tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Sayangnya, dia kelupaan memasukkan benda paling berharganya--api biru dan semua emasnya, yang ada di dalam sakunya hanya satu koin emas. Saat sambil dibelenggu dengan rantai-rantai besi ia berdiri di dekat jendela kamar penjaranya, ia melihat salah satu teman prajuritnya lewat di depan jendela itu. Diketuk-ketuknya jendela dan saat orang itu datang mendekatinya, dia berkata, 'berbaikhatilah, tolong ambilkan bundelan kecil yang kutinggalkan di penginapan--ini sebuah koin emas, hadiah untukmu.' Temannya cepat-cepat pergi dan kembali dengan membawakan bundelannya. Segera setelah si prajurit kembali sendirian di dalam ruang penjaranya, dinyalakannya pipa-nya dengan api biru dan gnome pun muncul. 'Jangan kuatir,' kata gnome kepada tuannya, 'pergi kemana mereka akan membawamu, dan biarkan saja apa yang akan terjadi, tapi bawalah api biru bersamamu.' Keesokan hari, ketika prajurit dibawa untuk diadili, walaupun dia tidak melakukan kejahatan, hakim menjatuhkan hukuman mati. Saat ia digiring keluar, dia mengajukan permintaan terakhirnya kepada raja. 'Apa permintaan terakhirnya?' Tanya raja. 'Di saat terakhir aku diijinkan untuk mengisap pipa untuk terakhir kalinya.' 'Kamu boleh merokok tiga pipa,' jawab raja, 'tapi jangan berpikir aku akan mengampunimu.' Lalu si prajurit mengeluarkan pipa dan menyalakannya dengan api biru, dan ketika beberapa cincin asap keluar dari pipa, berdirilah gnome sambil menggenggam tongkat pemukul dan berkata 'Apa yang diinginkan oleh tuanku?' 'Hajar para hakim palsu dan tukang jagal sampai mereka jatuh terkapar, dan jangan ampuni juga raja yang sudah memperlakukan aku dengan sangat buruk.' Lalu gnome pun bergerak secepat kilat, berzig-zag, bolak-balik, dan siapapun yang terkena tongkat pemukulnya langsung jatuh ke tanah dan tidak berani bergerak sedikitpun. Raja sangat ketakutan, ia mulai memohon ampun, dan untuk menyelamatkan hidupnya ia terpaksa menyerahkan pasukannya dan kerajaannya--dan putrinya menjadi istri si prajurit.

Apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Apa yang kamu peroleh dari kisah ini? Siapa protagonisnya, siapa antagonisnya, siapa yang menjadi penolong tokoh utama dan apa yang diperoleh tokoh utama pada akhirnya?

Ini resensi singkat ala saya:

Yang menarik dari dongeng ini bagi saya, adalah peran si gnome, yang sengaja tidak saya terjemahkan menjadi orang cebol tetapi tetap mempertahankan istilah aslinya. Mengapa peran gnome ini menarik? Sebab, ia tidak hanya menjadi mesin penghasil keinginan tetapi ia juga menunjukkan kualitasnya sebagai penasehat yang bijaksana bagi tokoh utama (kalau saja si tokoh utama ini penurut). Hal ini menempatkan gnome sebagai penolong utama dalam cerita, bagaikan Gandalf bagi Aragorn di Lord Of The Rings karangan Tolkien.

Penyihir tua, yang selalu saja takdirnya menjadi tokoh jahat, sebetulnya pada awal cerita justru tidak kelihatan jahat. Dia menolong si prajurit saat prajurit sangat membutuhkannya. Tapi, mungkin memang dengan motivasi untuk menyuruhnya mengambil lentera yang jatuh di sumur. Apa salahnya memanfaatkan seseorang, ya kan? Jahatnya justru ketika dia meninggalkan si prajurit di dalam sumur karena tidak mau menyerahkan lentera api biru. Malangnya nasib penyihir, hal itu dijadikan alasan kuat untuk menghukum mati si penyihir.

Yang betul-betul kasihan dalam cerita ini adalah putri raja. Dialah korban sesungguhnya dari perseteruan antara raja dan prajurit. Bayangkan, diculik, dijadikan budak lalu dipaksa untuk menjadi istri orang yang sudah memperlakukannya seperti itu. Kesimpulannya: Apes banget menjadi seorang putri raja pada jaman itu.

Bagaimana menurutmu?