Skip to main content

(Resensi Buku Indie) Mencintai Malam Yang Malang, Kumpulan 40 Flash Fiction Terbaik Komunitas Monday Flash Fiction

Judul: Mencintai Malam Yang Malang
Penerbit: Monday Flash Fiction melalui Stiletto Indie Book
Penulis: Anindita Hendra, ChocoVanila, Danis Syamra, Dian Farida Ismayama, Edmalia Rohmani, Erlinda SW, Indah Lestari, Istiadzah Rohyati, Putri Widi Saraswati, Rinrin Indrianie.

Ketika membuka buku ini pertama kali, saya tidak dapat langsung membaca cerita-cerita di dalamnya, karena merasa tertarik untuk melihat ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalam buku ini terlebih dulu. Ilustrasi muncul sebagai halaman pembuka dan penutup sebuah cerita, dan beberapa diantaranya digambar oleh para penulis ceritanya sendiri. Diam-diam saya merasa kagum dengan kreativitas tim penyusun buku. Apalagi saat membaca satu persatu flash fiction, bahasanya rapi dan cerita-cerita di dalamnya seperti secangkir kopi pahit panas dan kental yang gurih, memikat dan mengalir lancar.


Kopi pahit?

Ya, Mencintai Malam Yang Malang, yang diambil dari judul cerita pendek tulisan Anindita Hendra, memang bukan kumpulan cerita buat mereka yang berhati lemah atau ingin membaca cerita yang melegakan dan menyenangkan hati. Cerita-cerita pendek di dalam kumpulan flash fiction ini, kebanyakan menyajikan sisi muram dan kelam dari sebuah situasi dan reaksi manusia ketika ditempatkan pada posisi yang tak mudah. Penulis-penulisnya tanpa ampun mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi dan menjadikan mimpi buruk sebagai kenyataan. Bahkan dalam beberapa cerita, tanpa kejutan di akhir cerita pun saya sudah bertanya-tanya, 'ada lagi kejadian yang bisa lebih buruk dari ini?' 

Kopi pahit, kalau sudah dingin atau encer, pastinya nggak enak kan? 

Kumpulan cerita di dalam buku ini, jelas tidak dingin dan tidak encer. Kenapa saya tulis sebagai panas dan kental? Sebab penulis-penulisnya menyajikan informasi-informasi baru (setidaknya bagi saya) sehingga selesai membaca saya jadi tahu ada ritual mengerikan yang harus dialami oleh seorang perempuan muda yang akan menikah dengan pemuda dari suku lain di sebuah tempat di ujung timur Indonesia, misalnya. Catatan-catatan kaki yang disajikan di akhir cerita, menjelaskan informasi-informasi yang dimasukkan ke dalam cerita dan tidak mengganggu jalan cerita, bahkan menjadikannya gurih dan menarik, karena ada referensi bagaimana pengarang terinspirasi oleh potongan-potongan informasi dan meraciknya menjadi cerita yang menarik untuk dibaca.

Lalu, cerita-cerita apa saja yang menjadi favorit saya? Saya sering lho 'dituduh' feminis, mungkin karena itu cerita favorit saya dalam buku ini adalah Pleidoi Untuk Durga, yang ditulis dengan apik oleh Putri Widi Saraswati. Metafora dalam cerita ini, dapat kita temukan di banyak berita tentang para TKW Indonesia yang dianiaya di tempat mereka bekerja lalu harus menghadapi kenyataan pahit lagi ketika pulang ke tanah air. Nah, ketidakadilan terhadap perempuan, digugat melalui tulisan ini. Yang lebih menarik lagi adalah bagaimana Durga memilih untuk melawan, ketika satu-satunya yang masih dimilikinya hanya harga diri, dan itu dipertahankannya (iya, saya baca informasi ini pada bagian catatan, dan melengkapi kesan saya secara keseluruhan terhadap cerita ini.).

Tentu saja, masih banyak sekali cerita-cerita menarik di dalam buku ini yang tidak saya bahas satu-persatu, misalnya Sepucuk Surat Untuk Putraku, tulisan Edmalia Rohani, di bab Science Fiction, saya ikut larut dalam 'petualangan' si ayah, dan pertanyaan si ibu yang ini, 'Jika bumi kita, seluruh atmosfer, semua benda hidup dan mati, termasuk kita, terdiri dari atom, apa yang mencegah atom-atom itu melakukan reaksi nuklir, yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja?' Itu daleeem ya... dan menarik untuk dipikirkan bahkan setelah buku ini selesai dibaca.

Sepertinya, satu lagi nih, catatan saya, khusus buat RedCarra alias Carolina Ratri, ada bagusnya kalau mulai dipikirkan membuat artikel atau sekalian workshop untuk memberikan informasi bagaimana menerbitkan buku sendiri atau terbit indie, sebab buku ini bagi saya adalah contoh sebuah buku indie yang dieksekusi dengan sangat-sangat baik. 

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karenamengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
***Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…